Reminisensi Peristiwa Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki


Ilustrasi: Journo Liberta/Yesi Salviana


JOURNOLIBERTA.COM
– Serangan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945 merupakan peristiwa yang tidak terlupakan oleh Jepang. Serangan mematikan ini menjadi titik akhir Perang Dunia II setelah Jepang menyerah tanpa syarat terhadap sekutu pada 15 Agustus 1945. 

Penggunaan bom atom atau senjata nuklir dalam pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki merupakan serangan nuklir pertama sekaligus terakhir dalam sejarah. Penyerangan ini ditujukan terhadap kekaisaran Jepang oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman.

Dalam melancarkan aksinya, Amerika Serikat bekerja sama dengan Britania Raya dan Kanada  dalam sebuah proyek yang dinamakan Proyek Manhattan untuk mengembangkan dan merakit senjata nuklir bom atom.

Proyek Manhattan melibatkan fisikawan ternama dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, dengan menunjuk fisikawan Julius Robert Oppenheimer dan Jendral Leslie R. Groves sebagai penanggung jawab riset pengembangan senjata nuklir tersebut. Proyek ini dilakukan di tiga tempat saintifik rahasia, yakni Hanford, Washington; Los Alamos, New Mexico; dan Oak Ridge, Tennessee.

Keberhasilan Proyek Manhattan kemudian disetujui oleh Britania Raya untuk digunakan sebagai senjata perang oleh Amerika Serikat terhadap Jepang, sebagaimana yang tertuang dalam Perjanjian Quebec.

Alasan mengapa kedua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki ini dijatuhi bom atom oleh sekutu karena Kota Hiroshima merupakan pangkalan suplai dan logistik militer Jepang berukuran kecil, namun memiliki arsenal militer yang besar. Kota ini juga digunakan sebagai pusat komunikasi, pelabuhan penting, dan tempat berkumpulnya para tentara. Oleh sebab itu kota Hiroshima dijadikan sebagai sasaran utama misi pengeboman nuklir pertama pada 6 Agustus 1945.

Sedangkan pengeboman kedua di Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945 sebetulnya bukanlah merupakan sasaran awal penyerangan. Dilansir dari Kompas.com, sasaran awal pengeboman kedua adalah Kota Kokura, yang merupakan tempat persenjataan Jepang.

Namun, wilayah tersebut tertutup awan, sehingga pengeboman dialihkan ke sasaran kedua, yakni Kota Nagasaki. Alasannya, kota Nagasaki merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Jepang bagian selatan dan menjadi kota penting semasa perang karena memiliki banyak aktivitas industri, termasuk produksi artileri, kapal, perlengkapan militer, dan material perang lainnya.

Dampak yang disebabkan oleh ledakan bom atom uranium jenis bedil (Little Boy) di Kota Hiroshima oleh Paul W. Tibbets sebagai pilot yang menerbangkan pesawat B-29 Enola Gay ini setidaknya telah menewaskan sekitar 80.000 korban jiwa. Daya ledak dari Little Boy, setara dengan 12.000-15.000 ton TNT sehingga mampu menghancurkan area seluas 13 kilometer persegi.

Lalu dalam ledakan bom plutonium jenis implosi (Fat Man) yang dijatuhi oleh Mayor Charles W. Sweeney sebagai pilot pesawat B-29 Bockscar di Kota Nagasaki, dengan daya ledak setara 22.000 ton TNT telah menewaskan sekitar 40.000 korban jiwa. Angka korban jiwa akibat luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain disertai kurang gizi semakin meningkat pada bulan-bulan setelahnya.

Selain itu, peristiwa bom atom juga memberikan dampak trauma psikologis bagi para korban yang selamat. Dilansir dari BBC.com, para korban yang bertahan hidup disebut dengan istilah hibakusha, sebagai penyitas yang menghadapi hal-hal mengerikan termasuk trauma psikologis atas peristiwa tersebut.

Berbagai kehancuran yang dihadapi Jepang atas peristiwa tersebut kemudian mendesaknya untuk menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 15 Agustus 1945. Melalui siara radio, Kaisar Jepang Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu serta menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September 1945, yang secara formal mengakhiri Perang Pasifik dan Perang Dunia II.

Peristiwa mengerikan akibat penggunaan senjata nuklir ini masih diperdebatkan hingga sekarang. Penggunaan senjata nuklir dinilai sebagai kejahatan perang karena dampaknya sampai ke ranah psikologis para korbannya.

Bangunan kubah yang masih tersisa akibat ledakan bom atom di Kota Hiroshima masih dipertahankan sebagai Monumen Perdamaian Hiroshima. Monumen tersebut merupakan simbol harapan umat manusia untuk perdamaian dunia dan pemusnahan senjata nuklir. Monumen ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1996.

 

Penulis: Shinta Fitrotun Nihayah dan Anisa Hafifah

Editor: Gina Nurulfadilah


Posting Komentar

0 Komentar