UIN Jakarta Mulai lakukan Kuliah Tatap Muka, Mahasiswa Nyatakan Belum Siap

Foto: kuliah blender Studi Islam BPI
 

JOURNOLIBERTA.COM-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali melaksanakan perkuliahan tatap muka. Hal ini berdasarkan Surat Edaran Rektor Nomor 14 Tahun 2022 tentang aturan perkuliahan tatap muka bagi mahasiswa semester dua dan semester empat. Namun, sebagian besar mahasiswa lebih berminat melaksanakan perkuliahan dalam jaringan (daring).

Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Sihabudin Noor mengatakan kegiatan perkuliahan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Karena baik kuliah dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring) terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Dua model luring dan daring mempunyai kelebihan dan kelemahan. Sebaiknya model perkuliahan dilakukan situasional sesuai kebutuhan. Alternatif bisa dilakukan blended sesuai kebutuhan,” jelas Sihabudin via Whatsapp, Senin (14/3/2022).

Sihabudin juga menambahkan, perkuliahan luar jaringan (luring) ini dapat dilaksanakan jika para mahasiswa sudah melakukan vaksin kedua.

“Saat ini kita harus berdamai dengan Covid-19. Perkuliahan luring dilakukan bagi mereka yang minimal sudah vaksin kedua. Apalagi trend Omicron trend Omicron tidak lebih berbahaya sebagaimana (varian) Delta. Kuliah luring bisa dilakukan dengan syarat tersebut, di samping dosen yang bersangkutan tidak punya komorbid,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (FORSA), Dimas Muhammad Saeful Faqih menyatakan, perkuliahan luring akan menjadi problem. Hal ini karena sebagian mahasiswa masih merasakan dampak pandemi Covid-19, terutama bagi mahasiswa yang berada di luar pulau.

“Khawatir akan ada kluster baru meskipun sudah vaksin. Serta masih banyak yang masih di rumah di rumah atau di luar di luar pulau, tentunya dengan SE Rektor Surat Edaran Rektor yang tak dikira-kira, akan menjadi  problem juga untuk mahasiswa yang ada di luar pulau, pasti harus memerlukan ongkos, mencari tempat tinggal lagi. Tentunya dampak pandemi Covid-19 ini masih terasa oleh sebagian golongan,” ungkap Dimas.

Lebih lanjut, Dimas juga menyatakan bahwa perkuliahan seharusnya dilakukan sesuai kebutuhan mahasiswa itu sendiri.

“Kalau masih efektif untuk dilakukan secara daring, akan aman saja. Tapi jika perkuliahan yang memang sangat diperlukan untuk luring, lalu dilakukan daring, saya rasa kurang tepat, maka akan mengakibatkan output atau tujuannya kurang tepat,” ungkapnya lebih lanjut ungkap Dimas.

Sama halnya dengan Dimas, Mahasiswa Fakultas Hukum Syariah (FSH), Faisa Ananta juga mengungkapkan bahwa ia lebih berminat kuliah daring karena banyak yang harus disiapkan untuk kuliah luring.

“Kalau sekarang saya milih daring karena pertama masalah kesiapan dari kost, diri saya, sama biaya-biaya lain masih banyak yang harus disiapin. mungkin nanti kalau semester depan udah bisa buat luring karena lebih siap dari sekarang,” ungkapnya saat dihubungi melalui Whatsapp Rabu (9/3/2021).

Dalam perkuliahan luring nantinya diwajibkan menjaga protokol kesehatan secara ketat. Di antaranya mengenakan masker, mencuci tangan secara berkala, menjaga jarak, dan memiliki akun Peduli lindungi. Selain itu, mahasiswa semester akhir juga diizinkan ke kampus untuk mendapatkan bimbingan dan memanfaatkan perpustakaan atau sumber belajar lainnya agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.


Penulis: Nabila

Editor: Shinta Fitrotun Nihayah

Posting Komentar

0 Komentar