Foto: Menolak Lupa Impunitas, Peringatan 18 Tahun Aksi Kamisan Tuntut Penyelesaian Kasus HAM Secara Yudisial

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Sejumlah organisasi, aktivis, hingga masyarakat sipil turut meramaikan peringatan Aksi Kamisan yang genap berusia 18 tahun pada 18 Januari mendatang. Pada peringatan ke-18 tahun ini, Aksi Kamisan mengangkat tema ‘Terus Melawan Lupa dan Menolak Impunitas’ sebagai bentuk penolakan terhadap mekanisme non-yudisial.

Adapun sejumlah tuntutan yang disampaikan antara lain mendesak Jaksa Agung untuk segera menindaklanjuti berkas penyelidikan terkait kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan membentuk Tim Penyidik sesuai mandat pasal 21 ayat (3) UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Selain itu, Aksi Kamisan juga menuntut Kapolri untuk menindak kasus-kasus dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian dengan mekanisme hukum yang berlaku. Terdapat juga tuntutan agar penyelidikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat berjalan secara independen tanpa intervensi pihak manapun.

Aktivis HAM sekaligus penggagas Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih, menegaskan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 17 Tahun 2022 tentang Pembentukan Tim Penyelesaian Non-Yudisial. Ia menilai langkah hukum tersebut tidak menunjukkan adanya hak perlindungan dan pemenuhan HAM bagi setiap rakyat.


“Melalui Aksi Kamisan ke-18 ini saya tetap menolak penyelesaian non-yudisial. Peraturan perundang-undangnya sudah ada, lembaga yang menangani juga ada. Nah itulah yang menjadi kewajiban, melalui Aksi Kamisan ini kita mengawal,” tegas Sumarsih di depan Istana Negara, Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (16/1).

Lebih lanjut, Sumarsih mengatakan masih ada harapan, meskipun di sisi lain ia juga merasa putus asa. Sumarsih ingin perjuangan tanpa henti ini bisa menutup pelanggaran HAM di masa yang lalu tidak akan terulang lagi di masa depan.

“Putus asa iya, nyerah iya. Tetapi, bagi saya dalam cinta ada semangat dan harapan. Ketika ada harapan sekecil apa pun, saya akan melakukan sesuatu tanpa henti dengan harapan tidak terjadi lagi keberulangan pelanggaran HAM seperti di masa lalu,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Divisi Advokasi Internasional KontraS, Nadine Sherani, mengatakan bahwa Aksi Kamisan ke-18 tahun ini menjadi bukti masih adanya semangat juang untuk menuntut keadilan. Ia juga menyebut Aksi Kamisan tidak hanya menyoroti isu pelanggaran HAM di masa lalu, tetapi juga masa sekarang.

WhatsApp Image 2025 01 17 at 21.05.47 57a5eafc
“Kami percaya bahwa yang namanya pelanggaran HAM itu akan bervariasi setiap harinya. Aksi Kamisan selalu mengundang orang-orang untuk refleksi, kita menilai bahwa tindakan-tindakan tersebut (pelanggaran HAM) masih relevan sampai saat ini,” ujar Nadine.

Kemudian, ia juga menyebut perayaan Aksi Kamisan ke-18 ini jauh lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Ia berharap antusiasme masyarakat ini dapat memperbanyak semangat juang dalam melawan praktik impunitas yang masih marak terjadi.

“Di Aksi Kamisan ke-18 tahun ini sebenarnya kalo yang aku lihat emang lebih banyak daripada Aksi Kamisan ke-17 tahun yang kemarin. Jadi, ada secercah harapan dari anak-anak muda yang sekarang semakin terbuka terhadap isu-isu pelanggaran HAM,” lanjutnya.

Di sisi lain, Dosen Kriminologi Universitas Indonesia, Mamik Sri Supatmi, menilai pemerintah tidak memiliki keseriusan dalam menumpas praktik impunitas di Indonesia. Ia berharap masyarakat sipil, khususnya anak muda sebagai generasi penerus untuk bisa melanjutkan perjuangan melawan impunitas ini.

WhatsApp Image 2025 01 17 at 21.05.48 6e2868bf
“Harapan Indonesia sekarang ada pada masyarakat sipil, khususnya anak-anak muda gitu ya. Mereka adalah penerus gerakan melawan impunitas di masa depan,” ujar Mamik.

Di samping itu, siswa SMA, Anais Affiyat, berharap Aksi Kamisan ini bisa membuka mata banyak orang, terutama generasi muda tentang kondisi keadilan di Indonesia yang masih belum merata. Selain itu, ia juga menganggap aksi ini sebagai ruang refleksi untuk memperjuangkan hak-hak yang terkadang tidak disadari.

“Aku pengen jadi bagian pergerakan karena mengingat keadilan yang masih belum diratakan di Indonesia. Apalagi sekarang tirani lagi naik terus dan orang-orang kadang enggak sadar,” ujar Anais.

WhatsApp Image 2025 01 17 at 21.05.48 57f88dc7

Pos terkait