“… kalian para perawan, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu. Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat .…”
Journoliberta.com – Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer merupakan karya dari seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Buku ini mengangkat kisah para perempuan muda Indonesia korban perbudakan seksual tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang tahun 1943-1945. Para gadis remaja dari berbagai daerah direkrut dengan iming-iming pendidikan di luar negeri, seperti Jepang dan Singapura. Sebagian dari mereka percaya akan mendapatkan kesempatan belajar dan masa depan lebih baik, sementara sebagian lainnya menolak sejak awal.
Berbekal janji pendidikan, remaja perempuan Indonesia dibawa oleh tentara Dai Nippon dan dipisahkan dari keluarganya. Namun, sesampainya di tempat tujuan, mereka justru ditempatkan di asrama tentara dan mengalami kekerasan seksual, bahkan saat perjalanan di kapal. Setelah Jepang kalah terhadap Sekutu dan meninggalkan Indonesia pasca kemerdekaan, mereka ditelantarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Banyak di antara mereka hidup lontang-lantung, tidak memiliki uang untuk pulang, bahkan merasa malu kembali ke keluarganya karena menganggap diri mereka sudah “kotor”.
Sejumlah korban ada yang terlantar di Pulau Buru, yang pada akhirnya menetap dan menikah dengan masyarakat setempat demi bertahan hidup. Pramoedya sendiri pernah diasingkan ke Pulau Buru pada masa Orde Baru setelah dituduh memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Selama berada di sana, ia melakukan penelusuran dan wawancara dengan para korban yang masih hidup di Pulau Buru.
Melalui buku ini, penulis tidak hanya menghadirkan catatan sejarah tentang kekerasan seksual pada masa perang, tetapi juga memperlihatkan bagaimana para korban akhirnya menjadi kelompok yang terlupakan dalam sejarah maupun kehidupan sosial. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa penjajahan tidak hanya meninggalkan luka fisik dan politik, tetapi juga trauma panjang yang terus hidup dalam ingatan para penyintas.
Kelebihan Buku
Kelebihan buku ini terletak pada keberaniannya mengangkat sisi sejarah yang jarang dibahas, khususnya mengenai praktik perbudakan seksual terhadap perempuan pribumi pada masa penjajahan Jepang. Pramoedya mampu menyajikan kisah para korban dengan cara yang emosional dan deskriptif, sehingga pembaca dapat membayangkan penderitaan yang mereka alami. Selain itu, karena disusun berdasarkan wawancara langsung dengan korban dan saksi, cerita dalam buku ini terasa lebih nyata dan menyentuh.
Kekurangan Buku
Sebagai buku nonfiksi sejarah, beberapa bagian dalam buku ini menggunakan bahasa yang cukup berat dan cenderung sastrawi sehingga terkadang sulit dipahami oleh sebagian pembaca. Selain itu, penggunaan beberapa istilah dan bahasa Buru di sejumlah bagian membuat pembaca perlu membaca lebih perlahan untuk memahami konteks cerita.
Identitas Buku
Judul Buku: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis Buku: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: Juni 2025 (Cetakan ke-31)
Jumlah Halaman: 248