Budaya Penjualan Uang Menjelang Lebaran, Bahaya Riba Mengintai

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Menjelang Lebaran, umat Islam di Indonesia memiliki berbagai kebiasaan unik untuk menyambut hari raya. Salah satunya adalah menukar uang lama menjadi uang baru berbentuk pecahan agar dapat berbagi tunjangan hari raya dengan orang terdekat.

Bank Indonesia tentu menyambut antusias warga dengan membuka kas keliling untuk memfasilitasi mereka yang ingin menukarkan uang. Namun, fenomena ini rupanya juga mendatangkan peluang usaha bagi masyarakat yang menawarkan jasa penukaran uang di pinggir jalan dengan jumlah bunga tertentu.

Seorang pelanggan jasa penukaran uang di pinggir jalan, Tia mengatakan alasannya tidak menukar uang di bank karena sibuk bekerja. Selain itu, ia juga takut tidak mendapat slot penukaran uang, sehingga ia lebih memilih untuk menukarkan uang di pinggir jalan.

“Pertama ngantre. Kedua misal udah ngantre, eh taunya enggak dapet slotnya. Sekarang kan katanya kalau pakai aplikasi bakal dapet (antrean), tapi setelah saya cari tahu ternyata walaupun pakai aplikasi masih tetap bisa diambil orang lain,” ujarnya saat diwawancara, Jumat (5/4).

Lebih lanjut, Tia mengeluh akan kenaikan harga penukaran uang di pinggir jalan yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya.

“Agak kaget sih karena tinggi banget. Tahun kemarin saya sempat tukar di sini itu hanya Rp10.000 sampai Rp15.000. Tapi kalau sekarang sampai 15% tuh kayak wah gila ini, benar-benar kacau,” ucapnya.

Salah satu ustadz di Masjid Jami Bintaro, Ridwan menanggapi fenomena penukaran uang di pinggir jalan. Menurutnya, penukaran uang dengan perbedaan jumlah yang diterima maupun diberikan oleh kedua pihak termasuk dalam praktek riba.

“Seharusnya umat Islam tidak menukar uang pada jasa yang ada di jalan. Karena itu jelas-jelas riba. Misal kita tukar Rp100 ribu ya seharusnya pecahannya tetap dengan jumlah yang sama (tidak perlu bayar lebih). Tukar uang tapi jatuhnya malah kayak jual beli uang,” ungkapnya saat diwawancara, Jumat (5/4).

Ridwan menyarankan agar umat muslim menukarkan uangnya di bank saja. Selain itu, ia juga memberi alternatif untuk menukarkan uang di masjid menggunakan uang dari kotak amal.

“Tapi memang harus dipilih dulu mana yang bagus-bagus. Cara yang lagi viral juga bisa disetrika uangnya agar terlihat seperti baru,” tambahnya.

Ridwan berharap semoga kedepannya umat muslim dapat lebih sadar dalam perkara tukar menukar uang.

“Mungkin pemerintah bisa menegakkan regulasi supaya hal-hal yang sudah jelas dalam syariat Islam dilarang (riba) dapat dihentikan,” lanjutnya.

Sementara itu, pihak Journo Liberta sudah mencoba untuk menghubungi penjual uang di pinggir jalan, namun hingga berita ini terbit tidak mendapat respon baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *