Dampak Lonjakan Harga Jual Beli Beras Akibat Perubahan Cuaca

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Sejak awal tahun 2024, harga pangan terutama beras yang merupakan komoditas utama masyarakat mulai melonjak naik. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca tidak menentu dan kendala gagal panen yang membuat harga jual padi mengalami kenaikan. Imbasnya, sebagian besar masyarakat mulai mengeluh tingginya harga beras karena merasa kesulitan baik dari penjual maupun pembeli.

Kenaikan harga beras kerap kali terjadi setiap tahunnya, terutama saat menjelang bulan Ramadan. Namun, untuk tahun ini merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena mencapai Rp3.000 atau naik sekitar 20-30 persen dari harga sebelumnya. 

Seorang pedagang Pasar Induk Beras Cipinang, Yuda mengungkapkan bahwa pengaruh dari kenaikan harga beras membuatnya kesulitan untuk menjual ke masyarakat sebab tingginya modal yang dikeluarkan. Menurutnya, salah satu solusi untuk masyarakat dalam mengatasi lonjakan harga beras adalah dengan menyiapkan stok beras dengan harga yang lebih murah.

“Kita juga tidak bisa menekan harga terlalu rendah ya karena menyesuaikan kebutuhan saja. Kalau bisa stok, stok cari yang murah dari sekarang takutnya akan naik lagi,” ujarnya saat diwawancarai di Pasar Induk Beras Cipinang, Rabu (28/2).

Sementara itu, seorang penjual warteg, Putra mengaku, sebagai pedagang yang menggunakan bahan pokok beras merasa keberatan dengan naiknya harga beras. Dalam menghadapi hal tersebut, ia tidak memiliki alternatif lain dan hanya bisa terus melanjutkan usahanya.

“Ya, kalau misal ada kenaikan lagi, buat makanan porsinya dikurangi sedikit,” ucapnya saat diwawancarai, Rabu (28/2).

Senada dengan Putra, pembeli di Pasar Induk Beras Cipinang, Lina mengatakan, ia juga tidak memiliki alternatif lain untuk membeli beras atau pindah ke jenis beras lain. Bantuan pemerintah berupa peredaran beras bulog dengan harga murah dinilai memiliki rasa yang kurang enak. 

“Kalau pakai beras lain seperti bulog itu teksturnya memang bagus tapi rasanya pera, anyep. Walaupun harganya memang lebih murah,” jelasnya saat diwawancarai, Rabu (28/2).

Lebih lanjut, Lina mengungkapkan harapannya supaya tidak ada kenaikan harga lagi yang dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah, terutama bahan pokok.  Sementara di sisi lain, Yuda berharap pemerintah bisa mengadakan beras bulog dengan harga rendah kepada masyarakat.

“Pemerintah mengadakan beras Bulog yang harganya masih rendah sekitar Rp10.000 sampai Rp11.000, jadi kita bisa jual ke retail kita dengan harga beras lokal lebih murah,” pungkasnya.

Pos terkait