Penilaian Dosen oleh Mahasiswa Tidak Berdampak, Kualitas Pembelajaran Dipertanyakan

Journoliberta.com – Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM) menjadi salah satu mekanisme evaluasi pembelajaran setiap akhir semester. Penilaian ini dilakukan sebagai syarat administratif untuk melihat nilai dan mengakses Kartu Rencana Studi (KRS). Namun, sejumlah mahasiswa menganggap hasil evaluasi tersebut belum sepenuhnya berpengaruh terhadap perubahan proses pembelajaran di kelas.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Pendidikan UIN Jakarta, Jejen Musfah, memaparkan bahwa hasil penilaian dosen dibahas dalam forum akademik setiap semester. Ia menekankan pentingnya tindak lanjut dari hasil evaluasi tersebut, terutama dalam merespons keluhan mahasiswa.

“Kampus harus menerima setiap keluhan mahasiswa dan menjadikannya bahan evaluasi kinerja. Keluhan itu adalah obat mujarab bagi good governance kampus, khususnya untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berdampak,” ujar Jejen saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Jumat (24/4).

Lebih lanjut, ia menyinggung pembagian beban mengajar dosen yang kerap dikaitkan dengan kesibukan di luar kampus. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga pengajar, tetapi juga menyangkut tanggung jawab profesional dosen dalam menjalankan perannya di ruang kelas.

“Ada kewajiban minimal Satuan Kredit Semester (SKS) mengajar dosen, bisa juga jumlah dosennya kurang. Namun, kesibukan di luar kampus tidak bisa jadi alasan kelas kosong. Dosen tidak boleh mengabaikan tugas utamanya sebagai pengajar di kampus, betapa pun sibuknya. Perlu ada sanksi tegas kepada dosen yang sering absen mengajar seperti penundaan kenaikan pangkat atau penurunan,” tambahnya.

Sementara itu, beberapa mahasiswa mengungkapkan berbagai hambatan dalam proses pembelajaran, terutama terkait metode pengajaran yang belum memberikan pemahaman mendalam. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Arina (nama samaran), menilai penyampaian materi oleh dosen masih kurang membantu dalam memahami materi secara utuh.

“Karena kasarannya kita mahasiswa bayar, butuhnya ilmu. Jadi, kalau dosen cuma masuk presentasi dan memberi tugas tanpa penjelasan yang jelas, pembelajaran jadi kurang efektif,” ucap Arina saat diwawancarai via pesan suara WhatsApp, Selasa (28/4).

Ia juga menambahkan bahwa penilaian yang diberikan mahasiswa tidak selalu diikuti perubahan dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pola pengajaran yang sama masih kerap ditemui pada semester berikutnya.

“Jadi emang ada beberapa dosen yang pas penilaian dosen kita kasih kurang bagus, tapi setelah ketemu lagi di semester berikutnya masih terjadi sistem belajar yang kurang efektif. Jadi kita ngerasa penilaian dosen ini cuma formalitas saja,” jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Firly (nama samaran). Ia menganggap metode pembelajaran berbasis presentasi kelompok belum mampu membantu pemahaman materi secara menyeluruh.

“Sistem belajar seperti presentasi itu kurang efektif karena kerja kelompok tidak selalu berjalan baik, sementara sistemnya masih sama dari semester 1 hingga 4. Padahal, ilmu ekonomi berbeda antara teori dengan praktiknya,” tutur Firly saat diwawancarai langsung di FEB, Jumat (24/4).

Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Fadli mengatakan, efektivitas pembelajaran yang diberikan sebagian dosen sudah cukup baik dan mudah dipahami, bahkan dapat mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kritis. Meski demikian, ia menyebut adanya perubahan pada sebagian dosen setelah evaluasi dilakukan, namun perubahan tersebut belum merata di seluruh proses pembelajaran.

“Ada perubahan pada sebagian dosen, terutama dosen muda. Tapi masih banyak dosen yang mengajar dengan metode yang sama,” ungkap Fadli saat diwawancarai via WhatsApp, Jumat (1/5).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *