Journoliberta.com – Vandalisme merupakan tindakan merusak atau menghancurkan properti secara sengaja dengan tujuan untuk menyampaikan aspirasi hingga ekspresi diri oleh kelompok tertentu. Vandalisme masih menjadi masalah pelik yang sulit untuk ditangani, begitu pula di lingkungan Kampus UIN Jakarta.
Dosen Ilmu Sosiologi, Tantan Hermansah berpendapat bahwa vandalisme tidak dapat dilihat dalam satu perspektif. Di masa revolusi, vandalisme lahir karena kebebasan berekspresi dibungkam oleh penjajah, sehingga masyarakat mengungkapkan pendapat melalui tulisan di tembok sebagai pesan bagi bangsa agar melakukan perubahan.
Kini, vandalisme bisa dikategorisasikan sebagai bentuk ekspresi dari berbagai kalangan untuk menyampaikan pikiran yang tidak dapat diutarakan dalam forum terbuka.
“Vandalisme seperti ini kadang-kadang memang terjadi karena kebebasan berekspresi terhambat. Jadi, kita tidak bisa memukul rata persoalan vandalisme. Vandalisme terbentuk karena mereka (pelaku) ingin menunjukkan eksistensi diri di hadapan banyak orang, misalnya menulis nama kelompoknya atau ungkapan kecintaan pada grup atau kelompok yang dicintai atau diidolakannya,” jelas Tantan saat diwawancara melalui WhatsApp, Jumat (15/3).
Tantan menjelaskan bahwa pola pikir dan perilaku sosial sangat memengaruhi tindakan vandalisme. Namun, butuh data lebih lanjut untuk memberi penilaian terhadap suatu tindakan vandalisme. Menurutnya, jika mendapat medium, waktu, dan tempat yang tepat, vandalisme dapat menjadi karya seni yang menguntungkan.
“Beberapa tempat di luar maupun dalam negeri, banyak orang memanfaatkan mereka yang mampu melukis di dinding sebagai sesuatu yang dapat menarik wisatawan. Akhirnya bukan hanya menghasilkan pemasukan, tetapi ekspresi-ekspresi tersebut tersalurkan ke dalam ruang yang positif,” ujarnya.

Tantan juga mengatakan bahwa vandalisme di lingkungan Kampus UIN Jakarta harus ditinjau lebih dalam. Menurutnya, jika vandalisme lahir sebagai ekspresi ketidakpuasan akan layanan kampus, maka pihak UIN Jakarta harus merespon secara positif. Sebab, bisa jadi vandalisme timbul karena adanya ketidak bebasan untuk mengungkapkan pendapat.
“Tapi, jika vandalisme itu hanya untuk mengekspresikan kelompok sosialnya, tentu saja (pelaku) harus diajak berdialog, supaya mereka tidak melakukan pengotoran lingkungan dan dapat dialihkan pada ruang yang lebih positif. Di sisi lain, kalau vandalismenya tidak jelas, sekedar mencoret-coret tanpa pesan apapun, itu sudah masuk ke ranah kriminal dan perlu ditindak tegas agar tidak melakukan tindakan seperti itu lagi,” ungkapnya.

Mahasiswa Jurnalistik, Magfira Naila mengaku vandalisme yang terdapat di kawasan UIN Jakarta mengganggu konsentrasinya selama berada di lingkungan kampus.
“Sangat terganggu karena mereka (pelaku) mencoret-coret di tempat yang tidak seharusnya. Apalagi di sebuah universitas, area untuk belajar sudah sepantasnya tidak dicoret-coret. Itu menurut saya sudah sangat melanggar,” ujarnya saat diwawancara, Rabu (13/3).

Senada dengan pernyataan Tantan, Magfira berpendapat bahwa solusi terbaik untuk pelaku vandalisme adalah mengapresiasi bakat mereka melalui lomba mural.
“Menurut saya lebih baik mereka (pelaku) diberikan wadah untuk mengungkapkan aspirasi, seperti lomba membuat mural yang dapat berdampak baik bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya lebih lanjut.
Ia berharap agar pihak kampus dapat lebih sadar akan rusaknya fasilitas akibat ulah pelaku vandalisme.
“Semoga bisa lebih ketat lagi keamanannya, khususnya dari UIN Jakarta sendiri. Kita enggak tau yang coret-coret apakah mahasiswa UIN atau bukan, tapi tetap harus ditindak lanjuti dan diberi himbauan agar fasilitas tetap terjaga,” ungkapnya