Foto: Teater Syahid Usung Kritik Kekuasaan Lewat Semar Mencari Raga

Seorang anggota Teater Syahid memerankan tokoh Laras yang memperagakan Semar dalam pementasan berjudul Semar Mencari Raga di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6). Journo Liberta/Andini Septiani.
Seorang anggota Teater Syahid memerankan tokoh Laras yang memperagakan Semar dalam pementasan berjudul Semar Mencari Raga di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6). Journo Liberta/Andini Septiani.

Journoliberta.com – Pertunjukan Semar Mencari Raga karya Teater Syahid UIN Jakarta digelar di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6). Pertunjukan ini mengangkat kisah tentang upaya penguasa mengubah makna dan sosok Semar demi kepentingan kekuasaan. Konflik tersebut berkembang menjadi rangkaian peristiwa tragis yang melibatkan pembunuhan, fitnah, hingga penggiringan opini publik terhadap warga yang tidak bersalah.

Sutradara pementasan Semar Mencari Raga, Holifah Wira, mengatakan lakon tersebut dipilih karena dinilai memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial dan politik saat ini. Menurutnya, sosok Semar masih relevan sebagai panutan sekaligus pengingat bagi masyarakat dan penguasa. 

Bacaan Lainnya

“Karena memang Semar itu bisa menjadi panutan. Panutan bukan cuma berkehidupan, tapi bernegara juga. Selain karena sosok Semar, pementasan dipilih karena terdapat isu politik dan kekuasaannya. Jadi, sangat kontekstual hari ini,” ujar Holifah saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6).

JGN DIUTAK ATIK YAAA 20260610 221751 0001Dalam cerita, Ki Bekel berupaya mengubah sosok Semar yang selama ini dikenal sebagai simbol kebijaksanaan dan keberpihakan pada rakyat menjadi lebih tampan dan gagah menyerupai Arjuna atau Abimanyu. Menurut Holifah, perubahan narasi tersebut dilakukan untuk membangun citra kepemimpinan yang sesuai dengan kehendaknya di hadapan masyarakat.

“Kadang penjajahan itu tidak disadari, dia datang lewat narasi, seperti yang disampaikan di Semar Mencari Raga ini. Ki Bekel merumuskan dirinya melalui sosok Semar supaya dia bisa legitimasi kekuasaannya. Itu bukti sebuah penindasan sebetulnya dan masyarakat tidak boleh keliru,” pungkas Holifah. 

Lebih lanjut, Holifah menilai Semar dalam pertunjukan ini tidak lagi hadir sebagai tokoh pewayangan semata. Sosok tersebut diposisikan sebagai representasi rakyat yang menyuarakan kepedulian dan kritik terhadap kekuasaan. 

“Semar sebetulnya sudah menjelma menjadi masyarakat, menjadi rakyat yang berbicara, bersuara. Dia memang menjadi simbol semangat untuk saling peduli, saling peka, lalu membangun kritik untuk penguasa supaya tidak melampaui batas,” ujarnya. 

JGN DIUTAK ATIK YAAA 2 20260610 221751 0002Sementara itu, pemeran Slenthem, Zaid Ibrahim Panji Wicaksono, melihat cerita ini tidak hanya berbicara mengenai tradisi pewayangan. Menurutnya, pertunjukan juga mempertanyakan siapa yang memiliki kuasa untuk mengubah tradisi dan menentukan arah kehidupan masyarakat. 

“Semar ini merepresentasikan dua hal, tradisi dan politik. Apakah politik ini, hukum-hukum ini, bisa diubah atau tidak dan siapa yang berhak juga mengganti tradisi,” kata Zaid saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6).

JGN DIUTAK ATIK YAAA 3 20260610 221751 0003Zaid merasa proses memerankan tokoh Slenthem memberinya refleksi mengenai tradisi dan praktik politik yang terus mengalami perubahan. Ia menilai setiap perubahan perlu mempertimbangkan konteks dan tidak dilakukan melalui tindakan represif. 

“Tradisi bisa diubah, bisa juga tidak, tergantung konteks dan kalau dari segi politik, jangan melakukan kekerasan dalam politik tersebut,” ujarnya. 

JGN DIUTAK ATIK YAAA 4 20260610 221751 0004Di sisi lain, mahasiswa program studi Tarjamah, Mut’ah Latifah, yang turut menyaksikan pertunjukan tersebut, melihat adanya keterkaitan antara cerita dalam Semar Mencari Raga dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Baginya, isu yang diangkat masih dekat dengan realitas yang berkembang di tengah masyarakat.

“Cukup relevan dengan kondisi saat ini. Seperti di negara kita sendiri ya, yang lagi terjadi sekarang dan marak juga,” kata Mut’ah saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center UIN Jakarta, Minggu (7/6).

Pos terkait