Journoliberta.com – Revitalisasi trotoar di lingkungan UIN Jakarta menuai respons beragam dari mahasiswa. Di satu sisi, pelebaran jalur pedestrian yang dilengkapi jalur pemandu (guiding block), dinilai lebih nyaman dan aman untuk pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Namun di sisi lain, mahasiswa menilai masih ada sejumlah fasilitas yang perlu diperbaiki dan diprioritaskan oleh kampus.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga UIN Jakarta, Halim mengatakan, perbaikan trotoar dilakukan sebagai respons atas berbagai keluhan mahasiswa mengenai kondisi pedestrian yang rusak. Ia menjelaskan, optimalisasi dilakukan secara bertahap sebagai upaya memenuhi kebutuhan dan aspirasi dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat.
“Revitalisasi pedestrian ini dilakukan karena memang banyak aduan dari mahasiswa bahwa pedestrian yang ada itu banyak yang bolong. Bahkan ada mahasiswa yang sering posting di TikTok karena hampir kepleset di jalan yang bolong-bolong,” ujar Halim saat diwawancarai di Kampus 1 UIN Jakarta, Rabu (03/6).
Menurut Halim, pelebaran trotoar juga menjadi bagian dari upaya kampus mendorong budaya berjalan kaki, sekaligus mendukung program Green Campus. Halim memaparkan, untuk mendukung kebijakan tersebut, kampus menyediakan area parkir terpusat dan layanan bus listrik (Bilis).
“Itulah alasan motor mahasiswa ditempatkan di belakang lapangan Triguna agar mahasiswa jalan kaki. Untuk yang sedang buru-buru, disiapkan bus Bilis. Selain untuk estetika, trotoar ini juga bagian dari program Green Campus untuk merubah budaya dari penggunaan bahan bakar fosil menjadi jalan kaki,” jelasnya.
Akses Difabel pada Trotoar dan Fasilitas Dinilai Belum Optimal
Meski telah dilengkapi jalur pemandu, sejumlah mahasiswa difabel menilai fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengguna. Salah satu mahasiswa Kesejahteraan Sosial (Kessos), Dila, mengakui keberadaan jalur pemandu cukup membantu mobilitasnya. Namun, ia juga menyampaikan, beberapa titik yang terputus masih membuat penyandang disabilitas kesulitan menentukan arah perjalanan.
“Guiding block-nya cuma lurus doang. Nggak ada tanda untuk belok ke fakultas mana atau nyebrang di mana. Jadi perlu diberi tanda lagi biar aku tahu harus berhenti di mana,” ujar Dila saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (18/5).
Tak hanya itu, Dila juga mengatakan, masih terdapat ketidakmerataan akses difabel, termasuk putusnya jalur pemandu di area depan lift. Selain itu, Ia mengaku belum pernah dilibatkan secara langsung dalam diskusi maupun evaluasi pembangunan fasilitas kampus untuk penyandang disabilitas.
“Kalau dilibatkan secara langsung untuk berdiskusi belum pernah. Pernahnya diminta memberikan panduan pendampingan sama dosen,” tambahnya.
Di sisi lain, salah satu mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Dindah, mengapresiasi kondisi trotoar yang kini lebih nyaman digunakan. Namun, ia mempertanyakan apakah perbaikan trotoar menjadi kebutuhan paling mendesak dibandingkan fasilitas lain yang masih bermasalah.
“Kalau di-list pastinya banyak ya, mulai dari WiFi, toilet, terus juga fasilitas di musala fakultas itu belum merata. Toilet juga ada beberapa yang mangkrak atau ditutup,” ujar Dindah saat diwawancarai via WhatsApp, Kamis (22/5).
Menurut Dindah, peningkatan fasilitas dasar seperti toilet dan musala justru menjadi salah satu kebutuhan mendesak bagi mahasiswa. Ia juga mengatakan, rencana kampus dalam pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan pemasangan Closed Circuit Television (CCTV) lebih penting karena persoalan keamanan kampus masih menjadi perhatian mahasiswa.
“Kalau di musala lebih diperhatikan lagi kipas anginnya, biar lebih nyaman untuk beribadah. Rencana pembangunan JPO menurutku lebih penting daripada buat taman di mana-mana. Menurut ku CCTV juga penting banget untuk waspada dan jaga jaga dari hal yang ga diinginkan,” ungkapnya.
Keamanan Kampus Masih Jadi Perhatian
Di samping persoalan fasilitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian mahasiswa. Dindah mengaku pernah merasa khawatir saat harus berada di kampus hingga malam hari karena tidak mengetahui apakah lokasi yang dilalui terpantau CCTV atau tidak.
“Aku pernah pulang malam karena ada keperluan dan itu lumayan serem sih. Aku juga nggak tahu di tempat itu ada CCTV atau nggak,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Halim menyebut, kampus telah memasang 68 titik CCTV berbasis kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) sejak akhir 2025. CCTV tersebut tersebar di berbagai titik kampus dan akan terus ditambah, terutama di area parkir yang kerap menjadi lokasi kehilangan helm.
“Semua kamera di tiang-tiang itu aktif. Sekarang kita sedang menambah lagi, khususnya di area parkir perpustakaan,” tutur Halim.
Lebih lanjut, Halim menyampaikan, kampus sedang menyiapkan sejumlah langkah tambahan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan mahasiswa di area parkir. Pihak kampus tengah merencanakan fasilitas penyimpanan helm gratis untuk mengurangi risiko kehilangan barang milik mahasiswa.
“Kami bahkan sedang mendiskusikan layanan penyimpanan helm gratis berupa kotak-kotak kunci untuk kenyamanan mahasiswa,” tutup Halim.
