Journoliberta.com – Sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru pada 2025. Hal ini berdasarkan data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) yang mencatat penurunan persentase mahasiswa baru hingga 27 persen.
Pengamat Pendidikan, Muhamad Arif menyebut bahwa perubahan perilaku generasi Z (gen-Z) menjadi salah satu faktor di balik fenomena ini. Ia berasumsi generasi muda saat ini lebih pragmatis dan cenderung memilih program studi yang dianggap memberikan prospek kerja cepat dan stabil, seperti Teknologi Informasi dan Kedokteran.
“Mereka tidak tertarik pada prodi teoritik seperti Fisika atau Ushuluddin. Ini membahayakan eksistensi keilmuan tertentu jika dibiarkan terus,” ujar Arif saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Minggu (1/6).
Lebih jauh, Arif menilai bahwa perguruan tinggi perlu segera mengambil langkah strategis untuk merespons kondisi ini. Ia mengusulkan adanya adaptasi program studi agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda, melalui pemberian beasiswa serta menambahkan kompetensi kerja yang sesuai kebutuhan pasar.
“Maka, besar harapan saya agar Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) segera mengambil kebijakan dalam mendorong pengembangan kurikulum perguruan tinggi yang relevan dengan tuntutan perkembangan zaman,” tambah Arif.
Dalam melihat realita ini, Arif menganggap penurunan jumlah mahasiswa baru tidak sekadar mencerminkan perubahan angka statistik, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran paradigma dan tantangan sistemik dalam dunia pendidikan tinggi. Ia khawatir jika tren ini terus berlanjut, banyak perguruan tinggi swasta berpotensi tutup, bahkan sejumlah bidang ilmu bisa terancam ditinggalkan.
“Penurunan jumlah mahasiswa baru tahun 2025, tidak dapat dilepaskan dari karakteristik gen-Z yang melek teknologi sehingga menjadikan teknologi sebagai sumber informasi yang mudah dan pragmatis. Budaya pemanfaatan teknologi ini lambat laun membentuk karakter generasi muda yang semakin pragmatis, termasuk dalam pemilihan proram studi,” jelas Arif.
Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Muhammad Hartana, menilai faktor ekonomi, khususnya persoalan pembiayaan pendidikan, memiliki kontribusi besar terhadap penurunan jumlah mahasiswa baru. Ia menjelaskan bahwa pengeluaran untuk pendidikan menjadi beban yang signifikan bagi banyak keluarga, sehingga berdampak langsung pada keputusan untuk melanjutkan kuliah.
“Saya kira masalah keuangan atau pembiayaan itu paling besar pengaruhnya, ini kan istilahnya belanja pendidikan pengaruhnya sangat besar dibanding yang lain,” ujar Hartana saat diwawancara di Gedung FEB UIN Jakarta, Rabu (28/5).
Tak hanya itu, Hartana juga menyoroti tren pekerjaan digital tanpa syarat ijazah yang memicu pergeseran minat generasi muda dari kuliah ke dunia kerja. Ia menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam mendukung akses pendidikan tinggi dengan memberikan beasiswa atau subsidi sebagai investasi jangka panjang.
“Asal punya skill, bisa langsung kerja. Ini jadi pilihan realistis bagi banyak anak muda. Sektor swasta perlu mulai aktif memberikan beasiswa atau subsidi bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi, karena hal tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang,” pungkas Hartana.