Journoliberta.com – Salah satu Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Jakarta, Qistan Mujahid, berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude. Perjalanan serta perjuangannya untuk lulus tepat waktu diwarnai oleh banyak tantangan. Meski tidak mudah, pada akhirnya ia berhasil menjadi salah satu wisudawan pada wisuda UIN Jakarta ke-135.
Lika-liku perjalanan skripsinya dimulai saat mengikuti tes bahasa Arab yang menjadi salah satu syarat kelulusan di UIN Jakarta. Dalam menjalani ujian bahasa, Qistan mengaku mengalami kesulitan untuk lulus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
“Pada awalnya, saya kesulitan dalam tes bahasa Arab karena tidak punya latar belakang yang kuat di bidang itu (kemampuan yang mumpuni dalam berbahasa Arab). Saya hanya bisa mendapatkan nilai sekitar 350 pada tes pertama, jauh dari standar yang ditentukan,” ungkapnya saat diwawancarai via Zoom, Selasa (4/3).
Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Qistan melakukan berbagai usaha demi memperdalam kemampuan berbahasa Arab, salah satunya dengan mengikuti program belajar privat bahasa Arab yang disediakan oleh dosen-dosen di Fakultas Ushuluddin. Selain mengikuti kelas privat, Qistan juga mengikuti program kelas bahasa di Pare, Kediri, Jawa Timur.
“Terus juga waktu liburan semester empat, saya usahakan juga untuk belajar bahasa Arab lagi ke Pare selama kurang lebih satu bulan. Soalnya waktu itu kebetulan juga dapat libur kuliah selama satu bulan,” lanjutnya.
Meski sudah berusaha, sayangnya hasil yang didapat belum sesuai dengan harapannya. Dalam wawancara bersama Journo Liberta, Qistan bercerita bahwa hanya ia satu-satunya yang dinyatakan tidak lulus pada program belajar bahasa Arab di Pare.
“Di kelas unggulan bahasa Arab yang saya ikuti, saya satu-satunya yang tidak lulus dan tidak dapat sertifikat. Jadi, ketika pengumuman kelulusan dan pembagian sertifikat cuman saya sendiri yang nggak dipanggil namanya untuk maju,” keluhnya.
Merasa setiap kesulitan pasti ada jalan tengahnya, Qistan kembali mencoba mengikuti tes bahasa Arab melalui jalur fakultas dan pada akhirnya ia berhasil. Berdasarkan penjelasannya, Fakultas Ushuludin memiliki program tes bahasa mandiri tanpa harus melalui Pusat Pengembangan Bahasa (PBB) yang disediakan oleh UIN Jakarta.
“Temen saya waktu itu ngabarin kalau di Fakultas Ushuludin ada namanya jalur fakultas untuk tes bahasa. Jadi, kalau misalnya di PBB enggak bisa untuk mencapai poin 400 pada tes bahasa Arab, maka bisa lewat tes di jalur fakultas,” jelasnya.
Setelah melewati proses panjang untuk mendapat sertifikat bahasa, akhirnya pada awal semester enam dirinya mulai menyusun skripsi. Dalam prosesnya, Qistan mengaku sempat mengalami beberapa kali revisi judul.
“Jadi saya sejak awal semester enam itu saya sudah melakukan pendekatan selama enam bulan ke Pak Jauhar (dosen pembimbing akademik) mengenai judul skripsi saya. Saat itu, bahkan revisi atau ganti judul sampai sebanyak empat kali dan akhirnya baru ketemu judul itu di awal semester tujuh,” tuturnya.
Setelah berhasil menyelesaikan sidang seminar proposal (sempro) pada 22 Oktober 2024, Qistan mulai melakukan bimbingan dan juga penyusunan naskah skripsi sejak November hingga Desember 2024. Selama dua bulan tersebut, khususnya di bulan Desember, ia mengaku telah mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk mengerjakan skripsi.
“Selama ngerjain skripsi kayaknya saya ada buka laptop tidak kurang dari 12 jam. Pokoknya kerjaanya cuman bangun tidur, ngerjain skripsi, makan dan lanjut skripsian lagi,” ucapnya
Selain menghabiskan waktu 12 jam per hari untuk menyelesaikan skripsi, Qistan juga menceritakan pengalamannya dalam proses penyelesaian revisi setelah sidang skripsinya sukses berlangsung. Dirinya sampai menginap di rumah dosen pembimbingnya agar penyelesaian revisi skripsinya tidak melewati batas akhir yudisium.
“Untuk bisa ikut wisuda yang ke-135 itu batas yudisiumnya tanggal 16 Januari 2025. Makanya saat revisian kemarin saya bahkan sampai menginap di rumahnya Kak Salman (dosen pembimbing skripsinya). Supaya keburu untuk revisian dan bisa mengikuti yudisium,” paparnya.
Setelah melalui perjuangan yang tidak mudah dengan semangatnya yang tidak pernah pupus, pada 23 Februari 2025 lalu Qistan akhirnya berhasil lulus dengan predikat cumlaude.
“Berhasil cumlaude dan dapat penghargaan lulus semester tujuh dan IPK 3,87,” jelasnya via Direct Message (DM) Instagram, Rabu (12/3)
Dari perjalanan panjangnya ini, hal yang bisa dipelajari adalah mengenai betapa pentingnya tekad, niat, serta usaha untuk mencapai target. Menutup wawancaranya bersama Journo Liberta, Qistan menyampaikan pesan bahwa keberhasilannya terjadi atas izin Allah Swt.
“Semuanya atas izin Allah. Kalaupun Allah mengabulkan alhamdulillah, tapi kalaupun memang belum diizinkan meskipun sudah berusaha mati-matian, Allah pasti punya rencana yang terbaik untuk hamba-hambanya,” ujarnya via DM Instagram, Selasa (4/3).