Dari Kampus ke Jalan, Roda Dua Menjemput Rupiah dan Impian

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – “Saya tahu orang kadang menganggap remeh, apalagi saya ini generasi muda yang seharusnya kerja di kantor. Tapi, saya cuek. Yang penting, di masa muda ini, saya belajar mencari uang dan pengalaman,” tutur Asep, mahasiswa Akuntansi UIN Jakarta semester 8 yang harus melawan terik mentari demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Asep memulai langkah kakinya sebagai pengemudi ojek online (ojol) saat ia menempuh pendidikan semester 6. Dahulu, ia rutin mengisi waktu sebelum berkuliah dengan menarik penumpang sejak jam enam pagi.

“Saya cari tambahan uang, soalnya di semester tua ini pengeluaran makin banyak. Kerja ojol ini fleksibel, bisa atur waktu sendiri, jadi saya tetap bisa belajar dan bekerja,” tutur Asep melalui pesan WhatsApp, Selasa, (27/5).

Ia menyadari bahwa pekerjaan yang menghabiskan waktu di jalanan memiliki risiko berbahaya. Meskipun keselamatannya menjadi taruhan, ia tetap tak kenal takut dan jiwa semangatnya pun tidak pernah padam.

Kesadaran tersebut berasal dari pandangannya mengenai pekerjaan sebagai perjuangan kecil yang sarat makna sekaligus mampu membentuk karakter dan menumbuhkan rasa kemandirian dalam dirinya.

“Lumayan berat tantangannya di jalanan karena rentan risiko kecelakaan, nyawa jadi taruhannya. Kalau nganterin orang kerja disuruh buru-buru, jadi saya tetap berhati-hati di jalan,” ujarnya.

Walaupun begitu, Asep tetap berjuang dengan tekun hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah yang didapatkan dari pekerjaannya. Ia mengaku, jerih keringat yang dikeluarkannya itu dapat memberikan sedikit rezeki untuk orang tua serta saudaranya.

“Lumayan bisa ngasih ke orang tua dan saudara walaupun hanya sedikit,” ungkapnya.

Asep menceritakan pengalaman tak terduga yang dapat mengubah perjalanan kuliahnya. Ia secara tidak sengaja bertemu dengan dosen pembimbingnya di jalan dan sejak saat itu, proses bimbingan skripsinya dimudahkan.

“Alhamdulillah, dari situ proses bimbingan skripsi saya jadi lebih lancar,” ungkapnya dengan rasa lega.

Asep mengerti bahwa pekerjaan ini memang tidak ideal untuk masa depannya. Namun, ia percaya, setiap pengalaman yang dilalui memiliki hikmah. Sejak saat itu, ia belajar nemaknai arti ketekunan dan keberanian.

“Jangan pernah malu jadi ojol. Walau tidak punya kendaraan, cicil aja, dan selama setahun pendapatan dari ojol bisa melunasi semuanya. Laki-laki harus nekat dan berani usaha,” tegasnya penuh semangat.

Kini, Asep tengah fokus menyelesaikan skripsinya sehingga ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas tersebut.

Tidak hanya Asep, mahasiswa lainnya juga memiliki pekerjaan sampingan selama kuliah. Ia bernama Thoriq, mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta semester 6 yang bekerja sebagai kurir jasa antar paket.

“Alasan saya karena bapak sudah tidak lagi bekerja, jadi saya harus membantu keluarga. Selain itu, saya juga butuh uang jajan dan tabungan untuk nanti,” ujarnya saat dihubungi via WhatsApp, Selasa, (27/5).

Perjalanan sehari-harinya penuh tantangan yang tidak berbeda dengan Asep. Mulai dari terik matahari yang menyengat, menghadapi hujan deras yang tidak dapat diprediksi, serta risiko kecelakaan yang selalu mengintai. Meskipun demikian, Thoriq tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan fokus dan penuh tanggung jawab.

“Solusinya ya jalani saja, sabar dan terima keadaan,” katanya dengan senyum penuh tekad.

Ia juga memberikan tips agar tetap sehat saat berada di jalan, yakni menjaga pola makan dan tidur supaya tetap fokus serta tidak mudah jatuh sakit.

“Bisa atur waktu antara kuliah dan kerja itu penting banget. Kalau pulang kuliah jam 10, istirahat sebentar, terus berangkat lagi jam 12,” katanya.

Meski begitu, dalam menjalani pekerjaannya ini, Thoriq tidak pernah merasa dipandang rendah atau sebelah mata dengan orang-orang di sekitarnya. Ia justru mendapatkan banyak dukungan dan semangat dari mereka. Oleh karena itu, ia berani menekuni pekerjaan ini dan penghasilannya dapat membantu untuk menambah biaya kuliahnya.

“Pendapatannya juga sangat membantu, kalau saya menargetkan minimal dapat Rp150.000 per hari,” ujarnya.

Dari pengalaman sebagai kurir, Thoriq belajar banyak hal, di antaranya menambah wawasan tentang jalanan dan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

“Bisa menambah wawasan mengenai jalanan, bisa mengunjungi tempat-tempat baru, tempat mahal,” katanya

Di satu sisi, meskipun letih terus meredang tubuhnya, Thoriq akui senang bisa diberi kesempatan untuk menikmati setiap momen perjalanan kala mengantarkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan hal yang unik dan tak terlupakan.

“Waktu itu pernah nganterin daging dari Rempoa ke Cijeruk, di mana itu perbatasan Bogor dengan Sukabumi, itu jadi pengalaman yang enggak terlupakan sih,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *