- Journoliberta.com – Di tengah kemajuan teknologi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi bagian dari kehidupan belajar mahasiswa. Tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian tugas, AI juga membantu mahasiswa dalam mengeksplorasi ide dan menyusun gagasan awal. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat kekhawatiran akan dampaknya terhadap kemampuan berpikir jangka panjang.
Seorang mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Firman Fathur Rahman, mengaku bahwa teknologi AI telah menjadi penolong saat dirinya mengalami kebuntuan dalam berpikir. Ia menggunakan AI untuk mencari ide sebelum dikembangkan lebih lanjut dengan pemikiran pribadi.
“Saya sering menggunakan AI saat mengerjakan tugas, terutama ketika sedang buntu. Biasanya, saya memanfaatkan AI untuk memantik ide sebelum saya kembangkan sendiri,” ujar Firman Fathur Rahman saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Senin (21/7).
Firman menjelaskan bahwa penggunaan AI sangat membantunya dalam menghemat waktu dan mempercepat proses pengerjaan. Menurutnya, AI memberikan referensi awal yang cukup membantu sebagai landasan berpikir, meskipun tetap perlu disaring dan dikembangkan secara mandiri.
“Manfaatnya besar sekali, namun tantangannya adalah tidak semua AI menyertakan sumber informasi. Karena itu, saya tetap membiasakan diri untuk mengecek ulang dan membaca referensi lain,” tambahnya.
Di sisi lain, Dosen Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ilmi Amalia, menyampaikan bahwa dalam perspektif psikologi, khususnya di bidang neuropsikologi, terdapat dugaan bahwa penggunaan kecerdasan buatan seperti AI bisa memengaruhi fungsi otak manusia. Ia menjelaskan bahwa pengaruh tersebut paling mungkin terjadi pada aspek-aspek kognitif yang bersifat kompleks, terutama dalam aktivitas berpikir yang menuntut pemecahan masalah dan kreativitas.
“Sudah ada dugaan-dugaan kalau di Psikologi, tentunya di bidang neuropsikologi, bahwa ada kemungkinan AI itu bisa memengaruhi fungsi otak, terutama dalam fungsi-fungsi yang sifatnya kompleks, misalnya dalam pemecahan masalah, berpikir kritis, kreatif,” ujar Ilmi Amalia saat diwawancarai via Google Meet, Sabtu (2/8).
Menurut Ilmi, terkait dengan fenomena cognitive offloading mahasiswa yang terlalu sering bergantung pada AI dalam menyelesaikan tugas berisiko mengalami penurunan kemampuan berpikir reflektif dan mandiri.
“Jadi, sangat bergantung pada alat untuk berpikir dalam hal pemecahan masalah, atau berpikir kreatif, atau yang sifatnya reflektif, itu lama-lama jadi malas. Orang cenderung untuk nanya aja sama ChatGPT,” tambahnya.
Ilmi menjelaskan bahwa kehadiran AI di dunia perguruan tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI sudah mulai dirancang dan diatur, baik oleh lembaga di luar negeri maupun oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di Indonesia.
“AI itu di perguruan tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. Tapi, pasti nanti ke depan, terutama dalam kehidupan sehari-hari, AI akan dipakai. Namun, tentu saja ada panduannya penggunaannya seperti apa,” ujar Ilmi.
Lebih lanjut, Ilmi menyampaikan bahwa AI bisa berperan membantu dalam pekerjaan akademik jika digunakan dengan cara yang benar. Menurutnya, teknologi ini efektif dalam hal-hal yang bersifat rutin, namun tetap perlu pembatasan ketika masuk ke ranah yang menuntut pemikiran lebih kompleks.
“Kalau digunakan dengan benar, AI bisa membantu pekerjaan mahasiswa maupun dosen, terutama yang sifatnya rutinitas. Tapi untuk hal-hal yang menuntut berpikir mendalam, itu harus dibatasi,” pungkasnya.