Journoliberta.com – Menjelang Ramadan, umat Islam di Indonesia memiliki tradisi ziarah kubur. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mendoakan keluarga atau kerabat yang telah meninggal, tetapi juga menjadi momen refleksi diri serta sarana mempererat silaturahmi antaranggota keluarga.
Dalam konteks sosial, ziarah kubur menjelang Ramadan mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian antarumat. Banyak keluarga atau kelompok masyarakat yang datang bersama-sama ke makam, tidak hanya untuk mendoakan yang telah meninggal, tetapi juga untuk saling menguatkan dan berbagi cerita.
Selain itu, pengelola makam juga melakukan berbagai persiapan untuk menyambut lonjakan jumlah peziarah. Salah satu pengelola makam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas, Dedi menjelaskan bahwa pembersihan menyeluruh pada makam menjadi prioritas utama.
“Kami memastikan area makam, jalan setapak, area parkir, toilet, dan tempat wudu dibersihkan secara menyeluruh. Selain itu, nisan dan tanaman di sekitar makam juga dirapikan agar terlihat lebih nyaman,” ujar Dedi saat diwawancarai di depan kantor TPU, Jumat (28/2).
Tradisi seperti berdoa bersama, menabur bunga, dan berbagi makanan hingga saat ini masih dilestarikan. Dedi menjelaskan, banyak peziarah yang membawa makanan kecil dan uang recehan untuk diberikan kepada pembersih makam. ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi momen untuk mempererat silaturahmi dan mencerminkan nilai kebersamaan selama Ramadan.
“Banyak peziarah yang membawa makanan kecil untuk dibagikan kepada petugas kebersihan atau peziarah lain sebagai bentuk sedekah,” ucapnya.
Di sisi lain, peziarah seperti Lina dan Rita mengungkapkan pengalaman pribadi mereka. Lina, yang rutin berziarah dua hari sekali, merasa ziarah kubur membantunya mengatasi kesedihan setelah kehilangan suaminya. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikannya kedamaian dan rasa dekat dengan almarhum.
“Sebenarnya saya melakukan dua hari sekali ke makam suami saya ini, karena saya selalu sedih ketika kembali ke rumah,” ucap Lina saat diwawancarai di makam, Jumat (28/2).
Sementara itu, Rita, yang berziarah dua kali setahun, merasa ziarah kubur mengingatkannya tentang kehidupan sementara dan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat. Keduanya sepakat bahwa ziarah kubur bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana merenung dan memperkuat ikatan emosional dengan keluarga yang telah meninggal.
Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa saat ini perubahan ziarah kubur yang dialaminya adalah dengan tidak membawa buku yasin. Melainkan, Rita membawa handphone karena sekarang sudah ada Al-Qur’an digital dan bacaan tahlil sudah ia taruh di dalam handphone.
“Kalau untuk ini saya lebih bawa yasin digitalnya, jadi doa-doa saya taruh di hp, dan itu nanti saya bagikan rincian doa-doa ke anak saya,” pungkas Rita saat diwawancarai di parkiran makam, Jumat (28/2).
Rita menambahkan, bahwa hal ini tidak memengaruhi tradisi dalam keluarganya. Karena keluarganya yang lainnya tetap ada yang membawa buku yasin. Sehingga tidak merasakan tradisi itu berubah.