Journoliberta.com – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Jakarta menggelar acara Peringatan Satu Abad Pramoedya Ananta Toer dengan tema ‘Pram: Suara yang Tak Pernah Padam’ di Gedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang berlangsung pada 25-27 Februari 2025.
Ketua pelaksana, Musyafa’ menjelaskan, ada empat rangkaian acara pada Peringatan Satu Abad Pramoedya Ananta Toer. Rangkaian tersebut terdiri dari ziarah ke makam, pameran karya sastra Pramoedya Ananta Toer, diskusi terbuka, dan nonton bareng (nobar) film Bumi Manusia.
“Pertama, ada ziarah ke makam Pram di Karet Bivak, Jakarta Pusat. Nah, yang kedua itu kami mengadakan pameran berisi karya-karya novel atau artikel tentang Pram. Ketiga, ada diskusi yang tadi dilaksanakan oleh Mas Berto dan Bu Indah. Dan yang terakhir, ada rangkaian acara panggung ekspresi dan juga nonton film Bumi Manusia bersama,” ujar Musyafa’ di Teater Lantai 3 Gedung FITK, Rabu (26/2).
Selain itu, acara ini juga turut melibatkan berbagai organisasi dan komunitas seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komunitas Lorong, Sakustik, Taman Baca Danarto, dan Tukar Pandang. Musyafa’ berharap acara peringatan ini bisa mendorong minat mahasiswa terhadap literasi sastra.
“Semoga dengan adanya rangkaian peringatan Satu Abad Pramoedya Ananta Toer ini, kami mengajak tentunya untuk mahasiswa di UIN Jakarta maupun masyarakat sekitar Ciputat untuk melek terhadap sastra dan juga melek terhadap literasi yang utama,” tambah Musyafa’.
Dalam diskusi terbuka, Penulis Buku, Berto Tukan, memberikan pandangannya mengenai relevansi karya-karya Pramoedya di era sekarang. Berto menilai kritik sosial yang diangkat Pram dalam karyanya seperti mentalitas tunduk bangsa Indonesia terhadap penguasa.
“Pram menekankan persoalan bagaimana mentalitas bangsa kita. Bahkan hingga hari ini, kita masih terjebak dalam mentalitas feodal masih sangat tinggi di kita, di dalam politik kita apalagi. Orang-orang politik itu yang berkuasa akhirnya kebal terhadap hukum,” ujar Berto saat diwawancarai di lantai 3 Gedung FITK, Rabu (26/2).
Di samping itu, Berto juga menyoroti soal karya Pramoedya Ananta Toer yang meski bisa dinikmati, tetapi masih ada sejumlah hambatan. Di antaranya seperti, kesulitan akses terhadap buku, tarif harga buku, serta distribusi buku yang lemah.
“Saya sih ngeliat kemungkinan besar karya Pram-nya sendiri akan tetap bisa kita nikmati, tetapi dengan problem soal harga buku, soal distribusi yang lemah, dan lain-lain sebagainya. Tetapi, Pram-Pram baru akan sangat mungkin di hari esok. Artinya, karya-karya seniman baru, ya kita sebut lah Pram-Pram baru ya dalam tanda kutip tuh, banyak terjadi,” tegasnya.
Di sisi lain, Dosen Sastra Indonesia, Indah Fadhilla, mengungkapkan bahwa Pramoedya Ananta Toer ingin para pembacanya menjadi pintar dan berani. Indah juga mengatakan Pramoedya Ananta Toer sosok yang vokal terhadap isu perempuan melalui karya-karya tulisnya.
“Pram suka jika setiap pembacanya menjadi pintar dan menjadi berani. Pram suka menjadi kontradiksi, itu khas kepribadiannya Pram. Kenapa Pram sering menulis tentang perempuan? Atau dia pernah terasosiasi dengan kelompok perempuan lain? Jawabannya tidak, Pram melihat sendiri bagaimana perempuan diperlakukan,” tutur Indah, Rabu (26/2).
Lebih lanjut, Indah juga menjelaskan, keterkaitan jurnalisme sastrawi dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Indah berpendapat bahwa jurnalisme sastrawi itu merupakan istilah yang belum lama ada.
“Kalau zaman Pram itu tadi yang dibahas sama Mas Berto, Pram itu agak tipis bedanya novel sejarah sama sejarah yang dia tulis sebagai sejarawan. Jadi, ada beberapa karya dia yang sifatnya itu biografi atau esai. Tetapi, kalau dibaca tetap ada napas sastranya. Mungkin pada saat itu namanya jurnalisme sastrawi,” ungkap Indah.
Acara ini mendapat apresiasi positif dari peserta, salah satunya Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS), Salsa, mengaku tertarik setelah mengikuti acara ini. Ia ingin mengenal lebih dalam sosok sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan mengeksplorasi karya-karyanya.
“Acara ini sangat membantu saya untuk mengenal siapa itu sosok Pramoedya Ananta Toer dari sudut pandang yang lebih personal dan mendalam. Saya rasa acara ini cukup memberikan pemahaman, bahkan membuat saya ingin membaca karyanya yang lain gitu,” ucap Salsa saat diwawancarai di Gedung FITK, Rabu (26/2).