| Ilustrasi: Journo Liberta/Sumila Sari |
JOURNOLIBERTA.COM – Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Maret 2020 lalu memberlakukan
kebijakan bagi seluruh instansi pendidikan,
agar menunda aktivitas
pembelajaran tatap muka dan menggantinya dengan menerapkan video conference atau kuliah daring. Mayoritas sekolah dan kampus hingga kini juga masih melakukan
pembelajaran melalui sistem online.
Pandemi
yang sudah berlangsung selama satu tahun ini tidak hanya mengganggu aktivitas
manusia tetapi juga merusak berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah aspek
kesehatan. Di sisi lain, kelas
online yang sudah berlangsung lebih dari setahun ternyta juga berdampak pada masalah
psikologis mahasiswa.
Dosen
Psikologi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zulfa Indira
Wahyuni memberikan penjelasan saat diwawancarai oleh wartawan Journo Liberta pada,
Sabtu (31/07/2021). Ia mengatakan bahwa kondisi psikologis yang dialami oleh
mahasiswa tidak hanya disebabkan oleh kuliah daring, melainkan karena rasa
ketidakpastian kapan Covid-19 berakhir, serta
rasa ketakukan akan bahaya yang mengintai, pembatasan sosial, dan berbagai faktor
lainnya.
“Sebenarnya
kondisi psikologis yang dialami mahasiswa sangat erat kaitannya dengan berbagai
perubahan yang terjadi selama masa pandemi ini, (jadi) tidak spesifik karena kuliah
saja. Rasa cemas mengenai kondisi ketidakpastian sampai kapan Covid berakhir, rasa
ketakutan akan bahaya yang mengintai, serta pembatasan pada aktivitas sosial seperti mahasiswa harus menjalani
kuliah daring,” ungkap Zulfa.
Di sisi lain, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berdomisili di Lombok, Nusa Tenggara
Barat, Azzahra Syafiera Putri mengatakan bahwa tidak sepenuhnya kuliah
daring
berdampak negatif, semua itu tergantung dari bagaimana cara dosen dalam memberi kuliah kepada
mahasiswanya.
“Kalau
menurut saya ini gak sepenuhnya benar dan gak sepenuhnya salah juga. Karena itu
semua tergantung dari bagaimana dosen nge-treat mahasiswanya. Karena
gaya mengajar dosen itu berbedaa ketika kuliah online,” ujar Azzahra, Rabu (28/7/2021).
Terkait
dengan kendala yang dihadapi, ia mengatakan bahwa terkadang ada
beberapa tugas yang mengharuskannya keluar rumah dan
dikerjakan secara kelompok, sementara daerahnya jauh dari
teman-temannya.
Meski demikian, kendala tersebut masih
bisa diatasinya.
Hal
yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan Azizah
Shobiroh,
mahasiswa semester sembilan Program Studi
(Prodi) Biologi.
Sebagai mahasiswa yang berdomisili di pulau Jawa, ia mengaku tidak memiliki
kendala yang cukup berarti karena daerahnya yang jauh dari kampus tempat ia menempuh pendidikan. Akan tetapi, ia merasa bahwa kendala yang ia
hadapi adalah kurangnya interaksi secara langsung, kelelahan menatap layar,
sinyal, dan
kesulitan mencari bahan praktikum.
“Saya
pribadi merasakan kendala saat kuliah daring adalah kurangnya interaksi secara langsung
dengan dosen dan kelompok, zoom fatigue atau kelelahan menatap layar
laptop, sinyal dan perangkat laptop yang terkadang kurang mendukung, kesulitan
untuk praktikum pakai alat dan bahan di lab, kesulitan praktek langsung saat
PPL (Praktik Pengalaman Lapangan),
serta keterbatasan mengakses bahan kuliah atau penelitian
secara langsung,” jelasnya, Rabu (28/7/2021) lalu.
Di
sisi lain, ia berharap mahasiswa segera mendapat perhatian dari pihak kampus
untuk memastikan kebutuhan mahasiswa terpenuhi dan kondisi psikologis mahasiswa
baik-baik saja.
“Pun
kita harus analisis kebutuhan sebenarnya dari mahasiswa itu seperti apa, baik dari kebutuhan hidup secara fisik (makanan,
fasilitas, kuota dll), maupun psikis (rasa aman, kasih sayang, perhatian hingga
aktualisasi diri). Dan manakah yang harus diprioritaskan. Untuk
pemeriksaan secara berkala dapat dipertimbangkan jika ternyata itu yang lebih
prioritas, karena solusi seperti itu perlu dikaji seberapa dibutuhkan oleh
mahasiswa. Kan ngga efektif juga kalau layanan kesehatan mental ada
namun dari segi urgensi belum dibutuhkan,” tutup Azizah.
Adapun untuk mengatasi dampak yang kurang baik dari kuliah daring, Zulfa mengatakan sebaiknya mahasiswa memiliki jadwal yang terstruktur dalam mengatur berbagai aktivitas yang akan dilakukan. Selain membuat jadwal yang terstruktur ia juga menyarankan agar para mahasiswa menerapkan pola hidup sehat dan melakukan hal-hal yang dapat membuat bahagia.
“Sebaiknya mahasiswa di rumah tetap memiliki jadwal terstruktur untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Kapan waktu belajar, kapan waktu istirahat, dan aktivitas lainnya. Dengan jadwal yang terstruktur, hidup kita lebih teratur dan membantu rasa ketidakpastian. Kemudian, tetap menerapkan pola hidup sehat seperti makan makanan bergizi, berolahraga, dan tidur yang cukup. Kurangi terlalu lama menatap layar di luar jam kuliah, dan batasi informasi-informasi yang justru membuat cemas dan menambah tekanan. Walaupun di rumah saja, namun tetap lakukan hal-hal yang membuat bahagia, seperti hobi serta tetap menjalin interaksi sosial dengan teman-teman walaupun secara online,” jelasnya.
Lebih lanjut, Zulfa mengharapkan kepada pemerintah supaya pemerintah mengadakan bantuan kuota secara kontinu bagi mahasiswa dan dosen untuk menunjang proses pembelajaran kuliah secara online.
Sebagai
Informasi penutup Zulfa menginformasikan bahwa
Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebenarnya memiliki alat
tes psikologi. Alat tes psikologi tersebut tersimpan di laboratorium psikologi
sehingga tidak dapat diakses dan digunakan secara online.
Penulis: Ahmad Dwiantoro dan Eza Rosyandi
Editor: Siti Hasanah Gustiyani
