Journoliberta.com – Koalisi Musisi Untuk Gaza gelar aksi demo ‘Stop Genosida Palestina’ sebagai bentuk tuntutan gencatan senjata dan kemerdekaan absolut Palestina dari okupansi Israel dan kroninya. Aksi tersebut dilakukan di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat, Jumat (19/4).
Aksi solidaritas untuk Palestina didukung oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) bersama sejumlah musisi nasional, seperti The Brandals, Melanie Subono, Kelompok Penerbang Roket, Seringai, The Panturas, dan lain-lain.
Vokalis Band The Brandals sekaligus koordinator dalam aksi demo “Stop Genosida Palestina”, Eka Annash menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Israel dan Amerika Serikat.
Pertama, mendesak untuk gencatan senjata segera guna mencegah eskalasi konflik yang berpotensi mengancam perdamaian global, seperti ketegangan antara Iran dan Israel. Kedua, menekankan perlunya kepatuhan terhadap konvensi dan protokol internasional terkait kebijakan perang yang jelas telah dilanggar. Ketiga, mengingatkan pentingnya perhatian terhadap dampak ekologis jangka panjang dari perang yang berlarut-larut.
Di sisi lain, Eka menyatakan adanya aksi demo ini didasari atas situasi yang kian memanas di Palestina hingga menyebar ke partikel-partikel negara lain, seperti Iran dan Israel yang saling menyerang.
“Melihat eskalasi situasi memanas di sana, seperti Iran dan Israel yang saling menyerang mungkin saja bisa melebar ke perang dunia. Maka dari itu, atas dasar kemanusiaan, sudah saatnya aku harus bersuara, biar gak melebar lebih parah lagi,” ungkapnya saat diwawancarai di depan Kedubes Amerika Serikat, Jum’at (19/04).
Sementara itu, dua musisi bersaudara, Bella Fawzi dan Chika Fawzi melalui kolaborasi dengan Friends of Palestine Indonesia yang melibatkan berbagai publik figur dari musisi hingga influencer, merilis lagu “Tanah Para Nabi” pada tanggal 15 Maret yang lalu. Lagu tersebut diharapkan bukan hanya sekedar karya tetapi juga memberikan kontribusi nyata untuk kemerdekaan Palestina.
“Aku sama adik aku, Chiki Fawzi berkolaborasi dengan Friends of Palestine Indonesia yang terdiri dari publik figur dari mulai musisi dan influencer yang peduli dengan Palestina. Kita bikin karya lagu Tanah Para Nabi yang sudah rilis tanggal 15 Maret lalu. Kita pengen lagu ini bukan sekadar karya saja, tetapi kayak movement gitu loh. Dari hasil royalti juga kita sumbangkan dananya untuk Palestina,” ujarnya saat dimintai keterangan sesaat tampil bernyanyi di depan massa, Jum’at (19/04).
Tidak hanya gencar menyuarakan free Palestine melalui karya musik, kedua kakak-adik ini juga kerap kali membuka kesempatan kolaborasi seluas-luasnya kepada setiap organisasi, kampus, bahkan komunitas.
“Kita membuka kesempatan kolaborasi seluas-luasnya kepada setiap organisasi yang peduli terhadap Palestina. Ayo kita berkolaborasi, berbuat sesuatu, mungkin bisa acara-acara, ke kampus atau komunitas. Tujuannya supaya awareness terhadap Palestina ini terus meningkat dan berlanjut gitu. Karena kan saya kebetulan milenial ya. Tapi kan kita juga punya anggota-anggota di bawah (GenZ) yang sebenarnya tuh penerusnya mereka itu loh,” pungkasnya.
Selain itu, aksi demo juga diwarnai oleh karya tulisan dan gambar dari beberapa anak muda yang menyuarakan keberpihakan mereka kepada Palestina. Salah seorang Badan Pekerja Kontras di Divisi Kampanye dan Jaringan Publik, Fitriyani turut ikut menuangkan stop genosida di Palestina melalui karya tulis dan gambar yang diletakkan di atas aspal.
“Kita akan terus mengupayakan, menyuarakan walaupun gak langsung di sana gitu. Tapi kita banyak berbagai jalur. Entah kita bikin rilis, bikin fotografis, kita bikin aksi di publik kayak gini atau kita konsisten tiap beberapa kali speak up seputar perkembangan isu-isu terbaru Palestina di UN (United Nation) khususnya dan serangan-serangan yang terjadi,” timpalnya di tempat dan waktu yang masih sama.
Lebih lanjut, unjuk rasa kemanusiaan juga datang dari seorang Ibu Rumah Tangga (IRT), Eti Setiawati yang turut hadir dalam aksi demo. Meski ia hanya sendirian, tetapi setiba ia di depan Kedubes Amerika Serikat solidaritas sesama rekan-rekan yang turut hadir sangat terasa di sana.
“Hati saya tergerak untuk ikut beraksi di sini saat melihat postingan tentang aksi demo. Awalnya saya ajak teman-teman bahkan suami dan anak-anak, tetapi karena mereka sibuk jadi saya tetap datang ke sini untuk kebebasan Palestina. Meski sendiri, saya tidak merasa kesepian karena di sini saya datang tidak hanya seorang karena ada sesama teman-teman yang ikut menyuarakan free Palestina,” ujarnya.