“Catatan Kegelisahan” untuk Rektor UIN Jakarta dalam Merespons Pandemi

 

Ilustrasi: Journo Liberta/Johan

JOURNOLIBERTA.COM – Perkembangan pandemi dewasa ini sudah sampai pada
tahap darurat. Per 11 Juli 2021, lonjakan penambahan warga terpapar Covid-19
perhari mencapai 36.197 kasus dan korban meninggal sebanyak 1.007 kasus.
Sementara, sembilan hari pertama bulan Juli 2021, setidaknya 86 tenaga
kesehatan gugur akibat Covid-19. Total jumlah kematian tenaga kesehatan yang
tercatat oleh LaporCovid-19 per 9 Juli 2021 sebanyak 1.183 nakes.

Kondisi ini otomatis membuat semua pihak yang
berhubungan dengan penanganan pasien Covid-19 kewalahan: kekurangan nakes,
kekurangan ruang isolasi, kelangkaan oksigen, panic buying, dan sebagainya. Belum lagi terdapat 256 kasus –
antara Juni-Juli 2021 – orang meninggal dunia dalam keadaan isolasi mandiri
karena tidak mendapat layanan kesehatan yang cukup.

Menilik situasi ini, sejumlah alumni UIN Jakarta
yang tergabung dalam Kongkow Ciputat 
menulis “Catatan Kegelisahan” untuk Rektor UIN Jakarta Amany Lubis. Mereka
menilai, UIN Jakarta sebagai lembaga besar, sejauh ini kontribusinya tidak
terlalu terlihat dalam merespons pandemi, setidaknya di mata publik. Catatan tersebut
sudah diserahkan ke pihak kampus pada Senin (12/07/2021), pukul 11.30 WIB.

“Diterima oleh staf rektorat, kita sampaikan pokok-pokok pikiran gerakan ini agar kita semua bergandengan tangan dalam menghadapi
bencana wabah ini, dengan menggerakkan dan memaksimalkan sumber daya yang ada. Agar
masyarakat (setidaknya sekeliling tembok kampus UIN) bisa merasakan kehadiran
UIN ada bersama mereka ketika bencana
wabah ini menerpa mereka atau setidaknya berdampak terhadap mereka,” ujar Bandier
Badrul Munier perwakilan dari Kongkow Ciputat yang menyerahkan catatan terebut.

Juru
Bicara Kongkow Ciputat, 
Ahsan Jamet Hamidi kepada wartawan Journo
Liberta
, Senin (12/07/2021), mengatakan, kegelisahan kami muncul karena
melihat kondisi warga yang sangat kesulitan mendapat layanan kesehatan karena
keterbatasan tempat. Lanjutnya, kami sebagai alumni UIN memandang bahwa banyak
fasilitas kampus yang kosong, kami mengusulkan agar tempat-tempat tersebut bisa
digunakan untuk layanan warga yang terdampak pandemi Covid-19.

Praktik sejumlah kampus terlibat mengatasi
pandemi secara maksimal sudah banyak terjadi. Institut Pertanian Bogor, UIN
Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Trunojoyo Madura, dan Universitas
Muhammadiyah Surakarta, misalnya, menyediakan salah satu fasilitas kampusnya
sebagai ruang isolasi dan tes polymerase
chain reaction
(PCR) secara gratis. Sejumlah kampus juga menyediakan
vaksinasi massal, seperti Universitas Padjajaran, Universitas Kristen
Indonesia, dan Universitas Pamulang.

Melihat kenyataan itu, Kongkow Ciputat yang terdiri
atas alumni UIN Jakarta lintas generasi dan lintas angkatan ini memiliki
pertanyaan besar: “UIN Ciputat ada di mana hari ini?”. Mereka meyakini tentu
ada upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan kampus sebagai lembaga publik
dalam melawan pandemi. Sehingga atas kerangka itu dan rasa masih memiliki
kampus, mereka menawarkan empat poin usulan yang bisa jadi pertimbangan pihak
kampus untuk lebih berkontribusi dalam menangani pandemi.

“Kami tidak meragukan bahwa sudah tentu ada
upaya-upaya yang telah dilakukan oleh UIN sebagai lembaga publik. Dalam
kerangka itu pula kami, atas dasar rasa memiliki dan kepedulian kami,
merumuskan beberapa usulan kepada pihak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk
berkontribusi lebih dalam penanganan pandemi ini,” tulis mereka dalam catatan
yang dirilis di Ciputat 10 Juli lalu.

Pertama,
menyediakan
ruang untuk memfasilitasi pasien isolasi mandiri. Kampus memiliki Wisma
Syahida, Wisma Kopertais, Asrama Mahasiswa, yang kemungkinan besar saat ini
tidak banyak digunakan akibat pandemi. Menurut mereka, alangkah lebih baik jika
pihak kampus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan
untuk menggunakan salah satu fasilitas kampus menjadi ruang isolasi.

“Terlebih, UIN Jakarta juga memiliki tenaga
kesehatan (rumah sakit) dan memungkinkan memberdayakan dosen/mahasiswa
kedokteran untuk terlibat memastikan proses isolasi mandiri yang terkontrol dan
terstandar,” tulis mereka.

Kedua,
memfasilitasi vaksinasi gratis untuk warga. Dengan infrastruktur, sumber daya
manusia, dan fasilitas yang dimiliki, mereka menilai kampus sangat berkompeten
untuk turut menjadi salah satu pelaksana vaksinasi. Menurut mereka, dengan
banyaknya ruang kampus yang dimiliki, vaksinasi ini juga memungkinkan dilakukan
di beberapa titik untuk mengurangi kerumunan.

Ketiga,
menginisiasi program pemberdayaan ekonomi warga sekitar. Selain mahasiswa yang
terdampak langsung sehingga kuliah dilaksanakan secara daring, dampak langsung
juga menimpa warga sekitar kampus: pedagang kecil, warung makan, pemilik indekos,
dan sebagainya. Mereka menyarankan, ada baiknya kampus juga memikirkan program emergency response yang terintegrasi
dengan orientasi pemberdayaan ekonomi warga sekitar, baik langsung maupun tidak
langsung.

Terakhir,
membangun sense of crisis atau kepekaan
terhadap krisis yang kuat. Menurut mereka, perlu kiranya kampus menggerakkan
seluruh saluran dan media komunikasi serta para tokoh, sivitas akademika,
alumni, dan stakeholders (pemangku
kepentingan) lainnya untuk giat melakukan edukasi publik, kampanye taat
protokol kesehatan, maupun advokasi dan masukan kepada pemerintah kota,
provinsi, maupun kementerian/lembaga terkait.

“Kita perlu mengajak kebersamaan, membangkitkan
solidaritas, menguatkan kolaborasi dan sinergi dalam memerangi pandemi ini.
Jika sadar kita sedang perang, maka segala daya harus diupayakan. Jika tidak,
korban makin banyak berjatuhan,” kata mereka.

Selain menawarkan usulan tersebut, mereka yang
mengeklaim masih merasa turut memiliki UIN Jakarta dan spirit “keciputatan” ini
juga sedang menggalang gerakan “BantUIN Nakes”. Gerakan ini sebagai upaya mengorganisir apresiasi
terhadap tenaga kesehatan dan pejuang pandemi di lingkungan Tangerang Selatan. 

Menurut
Ikhsan Nasution selaku narahubung gerakan itu, per tanggal 11 Juli 2021,
uang yang terkumpul mencapai Rp51 juta. Uang ini rencananya
didistribusikan untuk membantu tenaga kesehatan di Tangerang Selatan. Akuntabilitas
pengelolaanya juga disampaikan ke publik.

“Tentu kami juga tidak berpangku tangan. Mahasiswa
dan entitas Ciputat adalah entitas yang sangat terasah dan terlatih kepekaan,
aktivisme, dan jiwa sosialnya. Kami yakin, kawan-kawan Ciputat memiliki perannya
masing-masing di komunitasnya,” ungkap mereka.

Sebagian dari Kongkow Ciputat juga masuk ke dalam
struktur kepengurusan Ikatan Alumni UIN Jakarta (IKALUIN), sehingga catatan usulan
ini juga mereka komunikasikan dengan para pengrus IKALUIN. Ada 23 alumni yang
mendatangani “Catatan Kegelisahan” ini, di antaranya Iwan Buana FR, Ahsan
Jamet Hamidi, Ikhwan Nasution, Bandier Badrul Munier, Anick HT, Ali Nursahid,
Yati Andriani, Nury Sybli, dan Ummul Hikmah.

Wartawan Journo
Liberta
 telah menghubungi Rektor UIN
Jakarta Amany Lubis untuk dimintai tanggapan terkait penyerahaan “Catatan
Kegelisahan” ini, pada Selasa (13/07/2021) pagi. Hingga berita ini terbit,
rektor belum memberikan tanggapan.

 

(Johan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *