| Ilustrasi: Journo Liberta/Johan |
Unggahan akun Instagram resmi Badan Ekskutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang menyebut Jokowi “The King of Lip Service” berbuntut pemanggilan oleh rektornya, Ari Kuncoro. Menanggapi hal tersebut, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta ikut menyuarakan pendapatnya.
Ketua Dema UIN Jakarta, Pebri Nurhayati mengatakan kepada reporter Journo Liberta, Kamis (1/7/2021), bahwa perlu adanya pikiran-pikiran kritis dan bentuk tindakan dari mahasiswa yang perlu diambil untuk pemerintah. BEM UI, lanjutnya, sudah mengambil langkah yang tepat untuk mengkritisi dan menanggapi iklim demokrasi dan pemerintah hari ini.
Selain dipanggil oleh pihak rektorat, beberapa akun media sosial pengurus BEM UI juga mengalami peretasan pascaunggahan tersebut ramai diperbincangkan warganet. Dalam hal ini, Pebri menegaskan bahwa Dema UIN Jakarta mengecam keras tindakan tersebut.
“Dema UIN Jakarta sangat mendukung apa yang sudah dilakukan BEM UI melalui unggahannya dan sangat menyayangkan peretasan atau dipanggilnya BEM UI oleh rektor merupakan salah satu bentuk dari antidemokrasi kampus. Hal ini disinyalir bentuk dari pembungkaman ruang-ruang kritis di ruang akademik, yang mana mahasiswa dibatasi ruang gerak dan ruang berekspresinya,” tegas Pebri.
Polemik yang terjadi pada BEM UI membuat sejumlah BEM di seluruh perguruan tinggi seperti BEM Unnes, BEM Unpad dan BEM lainnya di Indonesia telah mendukung kritik yang dilakukan BEM UI terhadap Jokowi. Menyikapi hal ini, Dema UIN Jakarta mengaku masih mengkaji apa yang sedang terjadi pada iklim BEM di Indonesia.
“Saat ini Dema UIN Jakarta baru sampai tahap pengkajian mengenai apa yang sedang terjadi pada iklim BEM di seluruh Indonesia yang terkhusus hal ini pembungkaman ruang akademis di kampus. Jadi bukan berarti hari ini Dema UIN Jakarta belum menyatakan sikap sepenuhnya, tetapi ada hal-hal yang kami pertimbangkan sampai adanya pernyataan sikap yang lebih jelas lagi terkait hal ini,” ungkap Pebri.
Lebih lanjut, hal-hal yang menjadi pertimbangan yang dimaksud Pebri adalah kasus BEM UI hari ini bukanlah kasus yang pertama kali terjadi, menurutnya sebelum ini sudah banyak terjadi pembungkaman atau pembatasan ruang berekspresi yang dilakukan oleh aktivis dan mahasiswa baik di ranah publik maupun di media.
Reporter: Zahra Zakiyah
Penulis: Kristina Damayanti
Editor: Johan
