Salam Redaksi.
menjadi hal yang dinanti sekaligus dibenci. Dinanti karena untuk mempertahankan
hegemoni atau bersiap muncul untuk unjuk gigi. Pemiluwa juga dibenci dan dicaci
karena praktiknya yang dinilai kotor dan tidak manusiawi.
Tapi kami rasa itu hanya anggapan pribadi. Bagaimana pun
juga pemiluwa harus terus lebih baik dari hanya sekadar acara tahunan yang
menghabiskan pundi-pundi dan energy.
Dari tahun ke tahun permasalahan yang terjadi ketika
pemiluwa berlangsung selalu sama. Lini masa yang berubah-ubah, keterlambatan
verifikasi berkas, distribusi logistik yang lamban, hingga ketidaksiapan
lainnya dari sang penyelenggara.
Untuk menghilangkan permasalahan rutin yang terjadi di
pemiluwa, pihak kampus harus membentuk kepanitiaan yang siap sejak jauh-jauh
hari, bukan seperti membuat kepanitiaan untuk acara seremonial yang hanya
memerlukan sedikit waktu.
Syarif Hidayatullah Jakarta tertanggal 3 November 2017 membentuk struktur Komisi
Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Jika kita lihat dari pembentukan hingga pemungutan
suara, kurang dari 50 hari pihak KPU untuk bekerja. Tentu saja hal ini meninggalkan
bekas yang berupa permasalahan-permasalahan yang ada saat ini.
Untuk itu, pihak kampus mestinya lebih serius mengurusi pesta
demokrasi tahunan ini. Harus ada perbaikan dari hulu ke hilir, dari pihak
kampus ke pihak penyelenggara. Jangan sampai permasalahan selalu dibebankan ke
pihak penyelenggara yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan
semuanya.
Tentu saja kita semua ingin pemiluwa berjalan lancar tanpa
hambatan yang berarti. Namun jika budaya -membentuk KPU terkesan main-main- ini
terus berjalan hingga beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin kita hanya
disibukkan dengan permasalahan yang muncul. Kesibukan mengurus masalah-masalah
tersebut tentu saja akan menguras energi dan kemeriahan pesta demokrasi di
kampus kita tercinta.
