Foto: Jamila, Panggung Kritik atas Budaya Patriarki

Journoliberta.com –“Bapak, aku dipukul. Bapak, aku diperkosa. Bapak, aku dilecehkan”.

Tiga lingkar cahaya jatuh dari langit-langit. Suara teriakan memecah keheningan. Kalimat itu, lirih namun membakar, menggema ke seluruh sudut ruangan. Ruangan yang semula sunyi tiba-tiba berat oleh makna.

Itulah dialog pembuka dari Jamila, studi pertunjukan yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid UIN Jakarta sekaligus debut panggung bagi anggota baru angkatan 2025 di Aula Student Center pada 12-15 Juni 2025.

Naskah Jamila merupakan adaptasi dari Pelacur dan Sang Presiden karya Ratna Sarumpaet yang terkenal akan tekadnya dalam menentang norma sosial serta hukum yang kerap kali tidak berpihak pada korban. Di tangan sutradara Sarah Tjia, pertunjukan ini tidak hanya menjadi ruang belajar teknis bagi anggota baru Teater Syahid, tapi juga sebagai panggung kritik sosial.

“Aku ingin teman-teman berpikir kritis tentang posisi manusia, baik laki-laki maupun perempuan di tengah budaya patriarki yang masih hidup, bahkan di lingkungan kampus,” ujar Sarah saat diwawancarai di Aula Student Center UIN Jakarta, Kamis (12/6).

Tokoh Jamila diperankan oleh tiga pemain, sehingga perjalanan hidupnya yang getir sejak kecil hingga dewasa dapat digambarkan secara intensif. Saat kecil, ia adalah sosok polos yang dihancurkan oleh pengkhianatan paling awal oleh orang yang semestinya melindunginya.

Masa remaja Jamila dipenuhi keterasingan dan perkenalan getir dengan dunia yang menindas tubuh dan jiwanya. Hingga menginjak usia dewasa, luka-luka itu menjelma menjadi dendam yang bisu, marah yang terpendam, sekaligus keberanian untuk melawan, meski harus dibayar dengan darah dan jeruji.

“Jamila menyimpan luka bertahun-tahun, sedangkan aku harus memahaminya hanya dalam empat bulan. Tapi aku percaya, peran ini bukan hanya tentang akting, ini tentang menyuarakan sesuatu yang lebih besar,” ujar pemeran Jamila dewasa, Herlina, saat diwawancara di Aula Student Center UIN Jakarta, Kamis (12/6).

Kisah Jamila bukan sekadar fiksi di atas panggung. Ia adalah cerminan retak dari ribuan perempuan yang tubuh dan hidupnya dijadikan komoditas. Sejak kecil dijual ayahnya sendiri, dilecehkan oleh mereka yang mestinya melindungi, hingga akhirnya dihukum oleh sistem hukum atas kejahatan yang dilandasi oleh dendam dan luka bertahun-tahun.

“Yang paling mengena justru di akhir pertunjukan, ketika tubuh, perasaan, dan tenaga perempuan ditampilkan sebagai sesuatu yang terus-menerus dieksploitasi. Itu sangat relevan dengan banyak kasus nyata, bahkan yang melibatkan tokoh agama dan keluarga sendiri,” tambah Herlina.

Salah satu penonton yang merupakan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Hibaturrahman Naufahnaf, mengaku pertunjukan ini membuka cara pandangnya mengenai isu kekerasan terhadap perempuan. Lebih dalam, Jamila juga dinilai memiliki nilai kritik terhadap kondisi sosial-politik yang tengah terjadi di Indonesia.

“Mungkin kita sebut Jamila ini sebagai korban dan pahlawan. Di samping dia menjadi korban pelecehan seksual, dia juga mencoba mengungkap kasus kekerasan seksual oleh oknum pemerintah. Secara gak langsung, Jamila mau mengungkapkan ternyata banyak sikap pemerintah yang tidak diketahui rakyatnya,” ujar Hibaturrahman saat diwawancarai di tempat yang sama, Kamis (12/6).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *