Journoliberta.com – Kebakaran yang melanda gudang kimia insektisida di kawasan pergudangan Taman Tekno, Tangerang Selatan, pada Senin (9/2) sekitar pukul 04.20 WIB berdampak pada lingkungan sekitar. Aliran Sungai Jaletreng tercemar dan menyebabkan ikan-ikan mati hingga ke arah Sungai Cisadane.
Komandan Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Tangerang Selatan, Omay Komarudin mengatakan petugas bergerak cepat setelah mendapat laporan dan langsung mengerahkan 14 unit mobil pemadam kebakaran. Ia juga menjelaskan, setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.
“Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung melakukan pemadaman. Sebanyak 14 unit mobil pemadam kebakaran dari Damkar Tangerang Selatan dikerahkan pada awal kejadian, ditambah bantuan dari BSD berupa dua unit mobil pemadaman dan dua unit tangki suplai air,” ujar Omay saat diwawancarai di depan gudang kimia insektisida, Selasa (10/2).
Lebih lanjut, Omay menyampaikan metode awal menggunakan air tidak efektif karena material yang terbakar merupakan bahan kimia. Proses pemadaman kemudian dimodifikasi untuk mencegah api terus menyala dari bagian dalam tumpukan barang.
“Metode pemadaman kami ubah dengan menggunakan pasir. Api berhasil dipadamkan, tetapi masih muncul asap dari bagian bawah tumpukan barang. Beberapa kali api kembali muncul karena sisa panas,” ungkapnya.
Omay menambahkan, proses penanganan terus dilakukan hingga malam hari dengan bantuan alat berat untuk mengurai material yang menumpuk. Langkah tersebut dilakukan agar tidak ada lagi sisa asap yang dapat memicu api kembali.
“Kami berharap malam ini bisa tuntas. Saat ini kami juga menggunakan alat berat untuk mengurai tumpukan barang karena di bagian atas sudah aman, tapi di bawah masih ada sisa asap yang bisa memicu api kembali,” jelasnya.
Lebih lanjut, Omay menjelaskan, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik. Ia juga menambahkan, kebakaran juga berdampak pada aliran sungai di sekitar lokasi.
“Dugaan sementara akibat korsleting listrik. Namun, hasil resmi belum keluar karena laboratorium forensik baru turun ke lokasi. Dampaknya (juga) sampai ke sungai. Banyak ikan yang mati. Sungai-sungai yang terlewati, ikannya terdampak,” tukasnya.
Di sisi lain, salah satu warga sekitar, Erwin, membenarkan adanya dampak pencemaran sungai pasca kebakaran. Ia menyebutkan, selain ikan-ikan yang mati, air sungai juga mengeluarkan bau tidak sedap setelah kejadian.
“Kalau kemarin dampaknya ada, ikan banyak yang mati terus airnya bau, sekarang sih udah enggak,” ungkap Erwin saat diwawancarai di tepi Sungai Jaletreng Riverpark, Selasa (10/2).
Erwin juga mengungkapkan, pencemaran sungai serupa pernah terjadi sebelumnya. Ia menduga pembuangan limbah dilakukan saat hujan deras agar tidak terlalu terlihat.
“Dulu pernah terjadi. Dulu busa-busa, katanya limbah dari Gudang Tekno. Hujan gede tuh dia baru buka limbahnya. Kalau hujannya deres, dulu sering dibuka. Jadi kelihatan di kali dekat jembatan. Kayaknya biar enggak kentara,” ujarnya.