Kiprah Pencak Silat di Kancah Internasional

foto2Bmita


Semua penonton di Gelanggang Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah
(TMII) merayakan kemenangan dengan bertepuk tangan seraya berteriak lantang,
“INDONESIA”. Pada saat yang sama, seluruh penonton berpeluk haru menyaksikan
secara langsung bagaimana atlet idola mereka meraih kesuksesan di
atas panggung
pertandingan. Suara penonton semakin gemuruh ketika medali dikalungkan kepada
para pemenang. Kemudian, lagu Indonesia Raya dengan penuh hikmat dinyanyikan
sebagai penutup
kegiatan Invitation Tournament Asian Games 2018.

Silat. Istilah pencak silat dibahas dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
terdiri dari dua suku kata, Pencak yang berarti seni
dan keindahan gerak, serta Silat yang berarti ajaran bela diri.
Jurnal
yang ditulis oleh Mila Mardotillah, berjudul Silat: Identitas Budaya,
Pendidikan, Seni Bela Diri dan Pemeliharaan Kesehatan, menyebutkan kehadiran
seni bela diri ini merupakan pengembangan dari keterampilan suku-suku asli
Indonesia dalam berperang dan melindungi diri dari serangan hewan buas. Gerakan
dalam bela diri ini diadopsi nenek moyang dari gerakan binatang yang ada di
alam sekitarnya seperti kera,
harimau, ular
dan burung.

Persebaran pencak silat mulai dikenal sejak
abad ke-7 Masehi
. Hal ini dibuktikan oleh Donald F. Draeger dalam
penelitiannya tentang artefak senjata dari masa Hindu-Budha, dan relief di
candi
Prambanan dan Borobudur yang berisikan tentang kuda-kuda dalam silat. Selanjutnya
pencak
silat
tersebar melalui pengajaran dari seorang guru
kepada muridnya, cerita rakyat dan perdagangan.
Jadi, tak heran jika semasa kerajaan
Majapahit atau Sriwijaya, masyarakat pandai dalam bertarung, khususnya prajurit
perang.

Dalam seni bela diri ini, setiap
negara memiliki organisasi yang mewadahi pencak silat itu sendiri. Salah
satunya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Di tahun 1970-an, IPSI mendirikan
cabang di semua wilayah,
kemudian mengorganisir kegiatan olahraga dan
seni
silat di
tingkat regional, provinsi, dan nasional. Meskipun intensitas kegiatan sangat
bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya,
namun IPSI telah
menjadi bagian inter
nal dari pemerintahan lokal.

“21 tahun yang lalu, IPSI sudah
mencanangkan wacana untuk pencak silat mendunia
. Wacana
ini ada di tahun 1996, dengan target ke beberapa negara, jumlahnya sekitar 26
negara saat itu
,ucap pelatih nasional
di Jepang, Yuli Purwanto.

Awalnya, silat hanya sebagai ilmu
bela diri yang tergolong ilmu spiritual dan seni tradisi masyarakat saja.  
Namun, Jurnal Internasional Pencak silat oleh O’ong
Maryono mencatat
secara resmi pertama kali seni bela diri ini masuk dalam cabang ilmu
olahraga dan dipertandingan dalam Pesta Olahraga Asia Tenggara (S
ea Games) ke-14 pada 1987 di Jakarta.

Jepang menjadi salah satu negara yang
menerima ilmu bela
diri asal Indonesia ini. Pelatih nasional Indonesia yang
saat ini mengajarkan silat di Negeri Sakura, Yuli Purwanto atau kerap disapa Ipung menceritakan kepada
reporter Journo Liberta bagaimana
awal mula ia dikirim ke Jepang dan mendapat tugas untuk mengajar pencak silat
di sana. “Ketika mulai menyebarkan pencak silat di Jepang, sebenarnya banyak
bela
diri yang masuk ke Jepang, gak hanya pencak silat
saja, ada kungfu, wushu, muay thai, taekwondo yang mungkin juga sudah mendunia,”
paparnya.

Jepang sebenarnya sudah memiliki ilmu
bela
diri yang lebih tua seperti Karate dan Aikido. Namun Ipung tidak diam dan menunggu saja. Pendekar
nasional ini melakukan pergerakan dengan
mendatangi tempat-tempat bela diri itu secara terus-menerus, melakukan sharing
keilmuan, mulai mempelajari kebudayaan masyarakat, serta gaya hidup mereka. Ipung tak sendiri, ia ditemani beberapa rekannya yang
dikirim juga ke Jepang. Mereka mendirikan perguruan pencak silat di Jepang yang
dikenal dengan sebutan
Japan Pencak Silat Association (JAPSA). JAPSA diresmikan oleh
duta besar Indonesia untuk Jepang, Wisbermis,
di Balai Indonesia, Kedutaan Indonesia di Jepang,
tepatnya sore hari pada 28 November 1996. 

Ipung dan JAPSA sampai saat ini masih
terus melakukan inovasi dalam pengajaran pencak silat di Jepang. Terdapat
perbedaan mencolok antara Jepang dan Indonesia dalam mendapatkan peserta didik.
Di Jepang, sangat sulit menemui peserta yang langsung datang ke perguruan silat
seperti  di Indonesia. Ia menjelaskan
, di Negeri Sakura mereka
harus mendatangi orang satu per satu untuk memperkenalkan silat dan saling
bertukar informasi. “Yah jadi saling prospek dan mengabari mengenai
keanggotaan,” jelas Ipung.

Wacana pencak silat menuju dunia ini
juga disambut positif oleh atlet-atlet di Indonesia, Yachseer salah satunya. Atlet
yang bernama lengkap Muhammad Yachseer Arafa ini menjadi pesilat sejak 2005 silam.
Seni bela diri ini diperkenalkan pamannya ketika ia duduk dibangku Sekolah Dasar. Anak
laki-laki yang hobi berkelahi ini kemudian menyalurkan bakat tersebut di
kesenian bela diri pencak silat hingga kini.

Saya sangat setuju dengan ide ini,
karena walaupun lahirnya pencak silat ini di tanah Melayu, tapi
menurut saya, silat itu yah tetep dari Indonesia dan harus terus
dikembangkan, bukan hanya Indonesia dan Asia saja, bahkan harus sampai Eropa,” terang
Yascheer. Harapan
pesilat asal DKI Jakarta ini sejalan dengan visi yang terus
digaungkan persilatan Indonesia yang diwadahi oleh IPSI.
Pria kelahiran November 1993 ini juga
berpendapat untuk merealisasikan wacana ini harus diusahakan oleh semua pihak. “Tidak
hanya kita sebagai atlet yang memperkenalkannya ke luar, tapi haruslah ada
utusan pelatih silat nasional yang dikirim ke berbagai penjuru negara dengan
seleksi yang bagus agar silat khas Indonesia ini terus maju dan berkembang di
manapun. Nah,
setelah itu baru kita ajangkan atlet-atlet hasil didikan pelatih tersebut dalam
ajang olahraga atau seni berskala nasional maupun internasional,” tambahnya.

Pemilik medali emas kategori putra pada nomor 55 kg ini berhasil mengatasi
perlawanan pesilat Thailand, Islamee Wani
, dengan skor 5-0. Kemenangannya
tersebut diraih dalam
perhelatan olahraga Internasional Invitation Tournament Asian Games 2018. Ajang olahraga ini
diselenggarakan di Jakarta, pada 10-18 Februari 2018, berlokasi di Gelora Bung
Karno (GBK) untuk cabang olahraga atletik, panahan dan basket
.
Kemudian untuk cabang olahraga voli indoor,
taekwondo, angkat besi, dan
tinju 
berlangsung di JIEXPO Kemayoran. Terakhir, untuk cabang olahraga pencak
silat diadakan di Padepokan Pencak Silat TMII.

Perhelatan ini diikuti oleh 24 negara dengan total peserta 193 orang terdiri dari atlet dan official
dengan
delapan cabang olahraga yang
diperlombakan
. Ajang Invitation Tournament
Asian Games
2018 ini
dimaksudkan untuk menguji persiapan
Indonesia  dalam menggelar Asian Games yang
akan berlangsung pada 18 Agustus mendatang.

Di akhir perbincangan, pria asal Nusa
Tenggara Barat ini berbagi kesannya selama mengikuti ajang Test Event Asian
Games 2018. Bagi Yascheer, sorak masyarakat Indonesia yang bergelora ketika menonton
pertandingan dan pemberian medali secara langsung membuatnya merinding melebihi
perasaannya ketika menyaksikan pertandingan silat di Sea Games 2017 lalu.

Sehubungan dengan berbagai persiapan
untuk menghadapi ajang Main Event
Asian Games
2018 Agustus mendatang, Yascheer berharap bisa ikut serta
maju menjadi salah satu utusan dalam tim atlet silat Indonesia. Karena baginya
ajang olahraga ini adalah salah satu dari mimpinya, selain keinginannya
untuk bisa ikut serta dalam ajang Pekan Olahraga
Nasional dan SEA Games mendatang.

Bagi Ipung, Yascheer dan seluruh
pesilat Indonesia, mewujudkan wacana silat mendunia adalah harapan
bersama yang harus didukung
oleh semua pihak tak terkecuali pemerintah beserta jajarannya. Menjadikan silat
mendunia
berarti berusaha menghubungkan dan menyebarluaskan seni bela diri ini dengan
banyak negara. Hubungan ini diharapkan dapat berdampak baik bagi seluruh pihak
terutama Indonesia dalam melestarikan kearifan lokal bagi generasi selanjutnya.

(Siti Masyitoh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *