Bagi musisi Solomon Northup,
menjadi seorang budak bukanlah pilihan. Berawal dari tawaran dua orang pencari
bakat, Solomon diminta untuk memainkan biola dalam pertunjukan sirkus di
Washington. Diiming-imingi upah satu dolar perhari, Solomon pun menerima
tawaran tersebut, dan pergi ke Washington.
menjadi seorang budak bukanlah pilihan. Berawal dari tawaran dua orang pencari
bakat, Solomon diminta untuk memainkan biola dalam pertunjukan sirkus di
Washington. Diiming-imingi upah satu dolar perhari, Solomon pun menerima
tawaran tersebut, dan pergi ke Washington.
Sial bagi Solomon. Sesampainya di
Washington, bukan pundi uang atau tepuk tangan penonton sirkus yang didapat. Ia
justru dikurung dalam sebuah ruangan gelap mirip penjara dengan kaki dan tangan
yang dirantai. “Aku orang merdeka. Kau tak punya hak menangkapku,” kata Solomon
kepada dua orang penjaga ruangan.
Washington, bukan pundi uang atau tepuk tangan penonton sirkus yang didapat. Ia
justru dikurung dalam sebuah ruangan gelap mirip penjara dengan kaki dan tangan
yang dirantai. “Aku orang merdeka. Kau tak punya hak menangkapku,” kata Solomon
kepada dua orang penjaga ruangan.
Kisah perbudakan dimulai dengan
tawar-menawar seorang tuan tanah dengan pedagang manusia. Solomon pun dijual
bak sebuah barang. Nama Solomon diganti menjadi Platt untuk menyembunyikan
identitas aslinya. Solomon sempat beberapa kali berganti tuan. Terakhir
kepemilikan atas diri Solomon milik seorang tuan tanah bernama Edwin Epps. Sang
tuan yang dikenal sebagai “Penghancur
Negro” ini sangat kejam. Setiap kesalahan yang dilakukan para budak, mereka
harus membayarnya dengan pukulan dan dicambuk hingga terluka.
tawar-menawar seorang tuan tanah dengan pedagang manusia. Solomon pun dijual
bak sebuah barang. Nama Solomon diganti menjadi Platt untuk menyembunyikan
identitas aslinya. Solomon sempat beberapa kali berganti tuan. Terakhir
kepemilikan atas diri Solomon milik seorang tuan tanah bernama Edwin Epps. Sang
tuan yang dikenal sebagai “Penghancur
Negro” ini sangat kejam. Setiap kesalahan yang dilakukan para budak, mereka
harus membayarnya dengan pukulan dan dicambuk hingga terluka.
Film berjudul 12 Years a Slave ini mengisahkan praktik
perbudakan yang terjadi pada abad ke-19 di Amerika Serikat. Diangkat dari kisah
nyata Solomon Northup yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, adalah seorang
budak yang berusaha mendapatkan kembali kemerdekaannya.
perbudakan yang terjadi pada abad ke-19 di Amerika Serikat. Diangkat dari kisah
nyata Solomon Northup yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, adalah seorang
budak yang berusaha mendapatkan kembali kemerdekaannya.
Judul 12 Years a Slave diambil dari buku yang ditulis sendiri oleh
Solomon Northup dengan judul yang sama. Buku ini ditulis setelah ia bebas dari
perbudakan selama duabelas tahun. Plot yang disusun dengan efisien menyajikan
Unsur kemanusiaan dari awal hingga akhir film berdurasi 134 menit.
Solomon Northup dengan judul yang sama. Buku ini ditulis setelah ia bebas dari
perbudakan selama duabelas tahun. Plot yang disusun dengan efisien menyajikan
Unsur kemanusiaan dari awal hingga akhir film berdurasi 134 menit.
Penggambaran kisah perbudakan yang menyentuh rasa
kemanusiaan, telah membawa film garapan sutradara Steven McQueen memenangkan
piala oscar tahun 2014 kategori film terbaik. Untuk sebuah karya, film ini sangat layak dijadikan pembelajaran, bahwa
praktik perbudakan sangat tidak dibenarkan. (KR) JL