Journoliberta.com – UIN Jakarta kembali mengirimkan sejumlah mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional 2025. Program ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas kontribusi pengabdian masyarakat di tingkat global melalui pendidikan, pemberdayaan, dan diplomasi budaya.
Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UIN Jakarta, Ade Rina Farida menjelaskan, program KKN Internasional telah berjalan selama empat tahun dan menjadi bagian penting dari strategi internasionalisasi kampus. Saat ini, mahasiswa dapat memilih beragam negara tujuan seperti Malaysia, Hongkong, Arab Saudi, Jepang, hingga Korea Selatan.
“KKN Internasional adalah program yang bertujuan memberikan pengalaman global kepada mahasiswa. Mereka dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilannya di lingkungan internasional serta memperluas jaringan akademik dan profesional,” ujar Ade Rina Farida saat diwawancarai di Gedung Rektorat UIN Jakarta, Senin (23/6).
Ade menambahkan, proses seleksi KKN Internasional terbagi dalam beberapa tahap, meliputi seleksi berkas, syarat akademik berupa minimal SKS, kesehatan jasmani dan rohani, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan bahasa asing.
“Mahasiswa yang lolos kemudian akan dipersiapkan melalui pembekalan oleh PPM, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), mitra lokal, serta koordinasi dengan kampus mitra luar negeri,” Tambah Ade.
Selama pelaksanaan KKN Internasional, mahasiswa akan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang bertugas langsung di lokasi. Selain itu, koordinasi juga dilakukan secara intensif dengan KBRI serta komunitas diaspora Indonesia setempat untuk memastikan keberlangsungan program.
“KKN Internasional bukan hanya wadah pengabdian, tetapi juga menjadi sarana mahasiswa menjalankan diplomasi budaya dengan berinteraksi bersama masyarakat internasional, mengunjungi KBRI, hingga mengenalkan budaya Indonesia. Di situ diharapkan bisa tumbuh rasa toleransi, rasa moderat, dan lebih bijak dalam menghadapi persoalan-persoalan,” jelas Ade Rina.
Salah satu peserta KKN 2025 di Malaysia, Anisqha Maia Putri Azfa Lubis, menyampaikan motivasinya mengikuti program ini adalah untuk hadir dan mendukung anak-anak Indonesia yang berdomisili di luar negeri.
“Aku ingin hadir sebagai teman belajar bagi anak-anak di sana dan menyampaikan pentingnya pendidikan. Perbedaan kultur justru menjadi nilai plus untuk memperkaya pengalaman,” ujar Anisqha saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Kamis (26/6).
Selama persiapan, Anisqha mengaku dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Maka dari itu, persiapan teknis dilakukan secara kolektif, termasuk koordinasi dengan Satuaan Tugas (Satgas), divisi logistik, dan dukungan administrasi akademik. Hal ini dianggap penting karena keberangkatan mahasiswa yang bertepatan dengan masa perkuliahan.
“Kami tidak bisa survei langsung, jadi pembekalan dari PPM, masukan dari alumni KKN sebelumnya, serta koordinasi dengan KBRI sangat membantu dalam menyusun program yang kontekstual. Harapannya, meski waktu singkat, kontribusi kami tetap terasa,” tambah Anisqha.
Sementara itu, peserta KKN Internasional Jalur Mandiri 2024, Ghany Fitriamara Suci, membagikan pengalamannya saat mengikuti program KKN di Jepang. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari program pengajaran di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), partisipasi dalam festival makanan halal, hingga pengembangan program masjid.
“Kami ikut Natsu Matsuri Festival, mempromosikan sate yang merupakan makanan tradisional dari Indonesia dalam bahasa Jepang. Momen itu sangat berkesan dan menjadi ajang diplomasi yang menyenangkan,” ungkap Ghany saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Kamis (26/6).
Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan bahasa dan ketersediaan makanan halal, Ghany menyebut keberadaan komunitas Muslim Indonesia di Jepang sangat membantu kelancaran program. Pengalaman tersebut menjadi refleksi penting tentang adaptasi lintas budaya dan solidaritas antarwarga Indonesia di luar negeri.
“Di mana pun kami berada, terutama di luar negeri, kami membawa nama Indonesia. Dengan menyampaikan nilai dan budaya dalam komunikasi dan perilaku, kami berharap dapat memperkuat citra positif Indonesia,” ujar Ghany.