| Foto : screen shot dok Zubair |
JOURNOLIBERTA.COM – Dosen
Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ahmad Zubair, mengungkapkan penyesalan
dan permintaan maaf terkait perkataannya yang diduga telah menghina organisasi
Nahdlatul Ulama (NU) melalui video pada, Rabu (02/11/2021).
Dalam video klarifikasi tersebut,
Ahmad Zubair, menyampaikan lima hal. Pertama ia menyampaikan penyesalan dan
mengakui bahwa kekeliruan yang terjadi adalah murni kesalahan dirinya.
“Yang pertama menyampaikan
penyesalan yang sedalam-dalamnya atas kekeliruan dan kesalahan saya dalam memberikan
contoh mengenai penerapan teologi Asy ‘ariyah yang menyebutkan ormas terbesar
di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) & Muhammadiyah itu adalah murni kesalahan dan kekeliruan pribadi saya,”
ungkap Zubair.
Kedua, ia menyampaikan permohonan
maaf kepada seluruh umat Islam, terkhusus kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama
(NU). Tidak hanya itu ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada Fakultas Adab
Humaniora (FAH) dan kementerian agama RI.
“Yang kedua, menyampaikan permohonan
maaf yang setulus tulusnya kepada seluruh umat Islam terkhusus kepada keluarga
besar Nahdlatul Ulama, karena kekhilafan dan kelalaian saya telah menyakiti
hati dan perasaan mereka. juga pada keluarga besar Muhammadiyah karena kecerobohan
telah mengusik ketenteraman mereka dengan membandingkannya dengan keluarga
besar Nahdlatul Ulama. Selain itu juga saya memohon maaf kepada institusi kami
Fakultas Adab Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga kepada
kementerian agama RI,” ujarnya.
Ketiga, ia menjelaskan bahwa ia
tidak bermaksud mendiskreditkan Nahdlatul Ulama (NU), akan tetapi ia hanya
semata-mata untuk memancing nalar kritis mahasiswa agar suasana kelas lebih
hidup.
“Yang ketiga, bahwa materi
perkuliahan dalam video itu berkaitan dengan ilmu kalam atau teologi dalam
Islam. Dalam ilmu kalam itu dibahas
tentang aliran-aliran seperti Murji’ah, muktazilah Asy-ariyah, Jabariah,
Qadariyah, dsb. tujuan saya sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan
Nahdlatul Ulama yang berpaham Asy-ariyah, karena saya sendiri juga penganut Asy
‘ariyah, penyebutan contoh tersebut semata mata untuk menggugah dan memancing
nalar kritis mahasiswa agar mau berdiskusi lebih mau, mau memberikan sanggahan
dan komentar agar suasana kelas lebih hidup,” jelasnya.
Keempat, ia berjanji akan bijak dan adil dalam memberikan materi
perkuliahan yang berkaitan dengan masalah khilafiah.
“Yang keempat, saya berjanji akan
bijak dan adil dalam memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswa terutama
memberikan ilustrasi yang berkaitan dengan masalah khilafiah,” katanya.
Terakhir, dengan rendah hati Ahmad
Zubair memohon bimbingan dari banyak pihak agar tidak tersesat dan keliru lagi
dalam perjalanan hidupnya.
“Yang kelima, saya dengan rendah
hati memohon bimbingan dan arahan dari guru-guru saya, dari perguruan tinggi
Islam keluarga besar Nahdlatul ulama, dari perserikatan Muhammadiyah dan juga ormas-ormas
lainnya agar saya tidak lagi tersesat dan keliru dalam perjalanan hidup saya.
demikian atas perhatian dan pemaafan dari semua pihak yang saya sakiti, semoga
Allah memberikan balasan pahala dan
keberkahan yang sebanyak-banyaknya,” tutupnya.
Klarifikasi Ahmad Zubair ini merujuk
pada viralnya video perkuliahan pada, Senin (01/11/2021). Di dalam video
perkuliahan yang diselenggarakan melalui Zoom tersebut ia mengatakan bahwa
Nahdlatul Ulama tidak maju karena Asy ‘ariyah terlalu kuat, sementara
Muhammadiyah maju karena ia muktazilah.
‘ariyah itu membingungkan dan tidak produktif, tidak progresif, tidak inovatif,
tidak kreatif bikin orang bodoh dan terbelakang itulah Asy ‘ariyah, makanya NU
tidak maju-maju itu karena Asy ‘ariyah terlalu kuat. Muhammadiyah maju dia,
karena memang berkemajuan, dia Muktazilah,” tuturnya.
