Menjemput Lailatul Qadar di Masjid Istiqlal

IMG 20180610 102813 HDR
Journoliberta/Bismar


Ramadan adalah
bulan untuk menambah amalan dan keimanan. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan
haus dari pagi hingga petang, tapi beribadah dan berbuat baik sembari
mengesampingkan nafsu dan amarah. Bentuk ibadah pun bermacam-macam, seperti salat
dan dzikir, tadarus Al-Quran, sampai ibadah khusus seperti
iktikaf di masjid.
Iktikaf sendiri
adalah saat umat muslim beribadah
sambil berdiam atau menetap di masjid, khususnya
pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Cara ibadah ini merupakan sunah
yang
Rasulullah
lakukan tiap akhir Ramadan hingga wafatnya. Inilah salah satu hal yang membuat
umat muslim melakukan iktikaf, seperti yang dikatakan oleh Ustad Hasanuddin
Sinagar, pengurus sekaligus imam rowatib Masjid Istiqlal saat ditemui di kantornya
pada minggu (10/06/2018)
Ya, kali ini saya
berkesempatan untuk bertemu dan mewawancarai Ustad Hasanuffin Sinagar
ketika berkunjung sekaligus melihat megahnya masjid Istiqlal. Masjid yang
berdiri sejak 1978  dan menjadi masjid negara
ini tiap awal hingga akhir Ramadan dibuka selama 24 jam. Dengan jam operasional yang
panjang, masjid ini menjadi tujuan utama bagi mereka yang melaksanakan iktikaf,
khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
“Yang pertama ya,
ini umat Islam mengikuti apa yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, bahwa
nabi pada 10 malam terakhir itu mengenakan ikat pinggang, artinya tidak
melakukan hubungan, tapi melakukan iktikaf di masjid selama 10 hari,” ucapnya
menjelaskan.
Selain mengikuti sunah
yang dicontohkan nabi Muhammad, umat islam melaksanakan iktikaf di masjid
karena malam lailatul qadar, yaitu malam ketika Al-Quran diturunkan. Malam
tersebut juga dikatakan sebagai malam yang paling baik dari seribu bulan,
karena kemuliaan dan keberkahan yang terkandung padanya. Hasanuddin
menjelaskan, dengan ber
iktikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir pasti bertemu dan dilipat
gandakan pahalanya 29.500 lipat.
Selain menjelaskan
tentang keutamaan dari melaksanakan Iktikaf, pria yang aktif menjadi imam di
masjid Istiqlal sejak 2006 ini menjelaskan aturan dalam melaksanakan Iktikaf di
masjid. Menurut Hasanuddin, selain larangan untuk berbuat dosa, ketika ber
iktikaf seharusnya tidak
melakukan kegiatan yang bersifat sia-sia. Contoh yang ia paparkan seperti
bermain handphone dan internet, atau sekadar berbincang yang tidak ada
hubungannya dengan ibadah.
“Sebenarnya makna iktikaf
itu kan melepas seluruh unsur-unsur keduniaan ini, kalau bisa hp itu matikan
aja dulu. Kita fokus apakah mau memperbanyak salat sunah, apakah mau berdzikir,
mau baca qur’an, apakah taklim atau pengajian, tadarus, diskusi agama, apa
saja lah yang bermanfaat,” ucap Hasanuddin.
Kemudian,
Hasanuddin juga menjelaskan terkait jamaah yang melaksanakan iktikaf menetap
atau sekadar beribadah pada waktu-waktu tertentu, khususnya sepuluh malam
terakhir. Ia mengatakan jamaah
iktikaf paling banyak biasanya hanya datang dari malam hingga subuh, kemudian
pulang. Sisanya adalah mereka yang menetap sejak awal puasa, kemudian bertambah
lagi ketika memasuki sepuluh malam terakhir.
Bagi mereka yang
menetap di masjid istqilal ini kebanyakan berasal dari luar jakarta dan luar
pulau jawa. Namun untuk masalah tempat dan fasilitas bagi yang melaksanakan Iktikaf
tidak memiliki masalah atau keterbatasan. Masjid yang memiliki luas keseluruhan
hingga 2,4 Hektare ini mampu menampung lebih dari 20
0 ribu jamaah. Karpet
khusus untuk tidur, kamar mandi serta santapan sahur dan berbuka yang
disediakan secara gratis juga meringankan bagi jamaah yang menetap di masjid
ini.
Selain bertemu
dengan Ustad Hasanuddin Sianaga, saya juga berbincang sekaligus mewawancarai
beberapa jamaah yang tengah beristirahat di dalam ruangan salat. Ketika saya
memasuki ruangan tersebut, dua belas tiang besar dan tinggi menjadi yang
pertama saya lihat. Di sekeliling ruang tersebut terlihat jelas banyaknya orang
yang tengah membaca Al-Quran atau sekadar istirahat. Setelah melihat sebentar,
saya kemudian menghampiri beberapa jamaah.
Namanya Wahyudi,
jamaah asal Bekasi yang datang untuk ber
iktikaf selama sepuluh hari. Setelah beberapa kali
melakukan ibadah ini di Bekasi, akhirnya dia berniat untuk melakukannya di masjid
Istiqlal. Selain karena besarnya masjid dan predikatnya sebagai masjid negara,
alasannya untuk iktikaf di masjid Istiqlal adalah untuk peningkatan taraf
ibadah.
“Di sini karena
masjidnya besar dan masjid negara lah biasanya pengen yang lebih banyak lagi
pahalanya dan banyak orangnya.
Ternyata yang datang ke sini bukan cuma dari daerah Jbodetabek, dari
daerah-daerah lain juga ada
,” tuturnya.
Menurut Wahyudi
keutamaan dari melaksanakan iktikaf adalah meingkatkan keimanan, nilai ibadah
dan pahala. Selama menetap di Istiqlal, dia melakukan ibadah rutin seperti salat
wajib yang diselingi tadarusan dan salat sunah serta mengikuti salat tarawih
dan tahajud berjamaah rutin.  Untuk
fasilitas, ia mengatakan keperluan seperti kamar mandi dan makanan sahur serta
berbuka telah tersedia.
Fasilitas sih bagus ya, makan
sahur sama buka juga diberikan secara gratis. kalau ditempat lain kan nggak
ada, paling cuma takjil sama makanan buka puasa aja, kalau takji nggak ada.
untuk mandi juga kamar mandinya banyak, jadi kita ngantre tidak terlalu lama,”
ucapnya.
Tanggapan yang tak
jauh berbeda juga datang dari dua jamaah yang kebetulan juga tengah
melaksanakan iktikaf. Tawakal dan Abdul Hamid adalah jamaah yang datang jauh
dari luar pulau Jawa. Dengan niatan untuk lebih fokus pada ibadah, berniat
berangkat dari kota asal mereka, Makasar menuju Jakarta. Mereka berdua mengumpulkan
uang selama sebelas bulan untuk mencukupi biaya pergi ke
Jakarta.
“Kita di sini betul-betul
fokus untuk beribadah, karena di sini banyak yang kita liat terutama saat salat
Lail pada sepuluh hari terakhir.
Kalau di kampung kami tidak ada yang seperti ini. Jadi kita selalu ada di sini dan kita
niatkan selama sebelas bulan itu mengumpulkan dana untuk ke
sini,” ujar Hamid.
Sembari menunggu
waktu salat dzuhur, saya juga bertanya alasan mereka memutuskan beriktikaf di masjid
Istiqlal. Menurut keduanya, selain memfokuskan diri dalam beribadah, dia juga
ingin bersosialiasi sekaligus mengenal jamaah-jamaah lain yang turut beriktikaf
di masjid negara ini. Baginya, melakukan iktikaf di sini lebih baik daripada
hanya beribadah di rumah. “Banyak gangguan kalau di rumah,” katanya.
Hamid dan Tawakal
yang telah ber
iktikaf di Masjid Istiqlal sejak Juni rencananya akan pulang setelah melaksanakan salat
Id pada
hari Jumat (15/6/2018). Selama berada di masjid tersebut, dua pria paruh baya ini
merasa bersyukur dengan fasilitas yang disediakan pihak masjid. Selain karpet
untuk tidur, kamar mandi dan tempat wudhu yang lengkap, makanan berbuka dan
sahur yang disediakan sangat memenuhi kebutuhan para jamaah.
“Kalau masalah
fasilitas kita bersyukur, dikasih kebebasan untuk tidur dan salat di sini,
terus disediakan makanan untuk buka puasa dan sahur pada sepuluh hari terakhir
puasa, sedangkan pada hari-hari sebelumnya hanya dikasih untuk buka puasa saja.
Jadi kita dari jauh itu hanya uang
transportasi saja kita siapkan
,” ucap Hamid.  




(Bismar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *