Quarter Life Crisis: Ancaman atau Dorongan untuk Masa Depan?

Journoliberta.com – Ketidakpastian dalam menghadapi masa transisi menuju usia dewasa merupakan hal yang lumrah terjadi bagi sebagian orang. Salah satunya Resna Sollehudin, mahasiswa Dirasat Islamiyah UIN Jakarta yang kini tengah menginjak semester 6. Di fase peralihan usia, ia merasa kebingungan dalam menentukan langkah setelah lulus sebagai sarjana hingga tekanan finansial di masa depan.

“Berbagai keresahan muncul saat di usia 20-30 tahun, saya merasakan hal itu yakni ketidakpastian secara finansial, gelar akademik mau dikemanakan nantinya, dan setelah lulus mau kerja atau lanjut S2,” ungkap Resna saat diwawancarai langsung, Jumat (13/7).

Fenomena yang dialami Resna disebut dengan Quarter Life Crisis (QLC). Menurut Dosen Psikologi UIN Jakarta, Luzvinda, QLC ditandai dengan kecemasan akan masa depan, rasa tidak puas akan pencapaian, dan rasa ketertinggalan dengan teman-temannya yang dapat memengaruhi perasaan menjadi mudah sedih, apatis, hingga perubahan suasana hati yang drastis.

“Tanda-tandanya seperti kecemasan yang berlebihan akan masa depan, ada rasa tidak puas atas pencapaiannya selama ini, merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya,” ucap Luzvinda saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (9/7).

Meski merasakan hal tersebut, Resna merasa masa QLC menjadi pendorong baginya untuk terus melangkah mencari jati diri. Sebagai upaya menghilangkan keresahan dalam dirinya, Resna mencari pekerjaan sampingan dengan mengajar. Selain itu, ia juga aktif berorganisasi untuk mengasah kemampuannya.

“Dari keresahan yang saya alami itu contohnya secara finansial untuk mengatasi itu, saya bekerja sampingan yakni mengajar dan aktif organisasi untuk asah skill. Ketika melakukan pekerjaan itu, perlahan rasa cemas dan segala kekhawatiran yang ada perlahan hilang karena take action nggak stuck di tempat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Resna juga membantu teman-temannya yang mengalami hal serupa dengan aktif membagikan tips menghadapi QLC melalui akun Instagram yang sedang ia rintis, yaitu @dailyresna.

“Keresahan yang saya rasain ini kan memang wajar. Orang lain juga banyak yang merasakan tetapi jangan sampai orang-orang merasa berhenti disitu aja, mereka harus bergerak, maka dari itu akun ini dibuat,” ungkapnya.

Sementara itu, Luzvinda menjelaskan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi masa QLC adalah dengan refleksi diri. Seseorang yang tengah terjebak dalam rutinitas monoton menurutnya juga perlu melakukan aktivitas baru.

“Terkadang orang yang kehilangan tujuan hidup harus ingat kembali dulu pernah enggak sih merasa excited, saat kapan kita merasa bahagia dan apa yang kita lakukan saat itu. Terkadang kita lupa karena bosan dengan rutinitas kita. Maka dari itu lakukan hobi baru,” jelasnya.

Di sisi lain, Luzvinda juga menerangkan peran institusi pendidikan dalam mengatasi QLC yang dialami oleh mahasiswa dengan mengadakan kurikulum life skill agar mereka lebih siap menghadapi realitas kehidupan.

“Selain itu, edukasi bagaimana mengelola stres dan literasi finansial juga penting. Di UIN sendiri ada workshop career planning untuk menggali potensi dan minat mahasiswanya. Selain itu, ada konsultasi terkait psikologi ini sudah ada di Fakultas Psikologi dan kemahasiswaan juga ada,” ujarnya lebih lanjut.

Luzvinda memberikan tips untuk membangun mindset positif selama menghadapi masa QLC yakni dengan menghindari penilaian negatif terhadap diri sendiri, memiliki growth mindset, tanam rasa syukur, dan menjadi pribadi yang fleksibel.

“Hindari self-sabotage dan pikirkan hal positif untuk menjaga kesehatan mental. Tingkatkan ketangguhan melalui growth mindset dan bersyukur atas hal kecil. Kemudian fleksibilitas ini penting agar kita bisa mencoba rencana lain saat gagal dan tetap fokus meskipun kehilangan arah,” ujarnya.

Sebagai penutup, Resna berpesan pada mahasiswa yang mengalami QLC agar tetap melangkah dan mengatasi keresahan supaya tidak terjebak dalam keadaan tersebut. Selain mengejar gelar akademik, mereka juga harus aktif mengasah soft skill agar semakin banyak peluang pekerjaan di masa depan.

“Jangan diam menghadapi keresahan, tapi bergerak dan dorong keresahan itu agar tidak terkurung. Mahasiswa, terutama di semester awal, harus asah keterampilan agar datang peluang-peluang baik. Di semester akhir, untuk asah skill ini jadi lebih sulit karena sibuk skripsi,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *