Journoliberta.com – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) telah menggelar Roadshow yang menjadi rangkaian acara menuju momentum Hari Lahir Munir pada 8 Desember dan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada 10 Desember di Kampus 1 UIN Jakarta, Rabu (20/11). Acara ini merupakan bagian dari aksi mengawal keberlanjutan penegakan HAM dan keadilan.
Anggota Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Virdinda La Ode Achmad, menjelaskan bahwa Roadshow ini ditujukan untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat terhadap salah satu sosok pembela HAM, yaitu Munir.
“Roadshow ini nggak cuman menjelang Hari Lahir Munir atau Hari HAM saja. Tapi, memang Roadshow kita juga adakan menjelang hari-hari memperingati pelanggaran-pelanggaran HAM lainnya,” ujar Virdinda saat diwawancarai di Lobi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Rabu (20/11).
Selain itu, Virdinda juga turut menjelaskan makna di balik tema acara “Kita Ada dan Berlipat Ganda”. Tema ini menggambarkan kekuatan solidaritas warga negara dalam melawan kekerasan dan pelanggaran di tengah impunitas.
“Hari ini kita berada di titik tertinggi impunitas. Pelanggaran-pelanggaran HAM semakin tidak terselesaikan. Kita ada dan berlipat ganda itu menjelaskan bahwa ketika negara melakukan kekerasan dan pelanggaran terhadap rakyatnya, maka kita harus ada dan berlipat ganda untuk melawan itu,” jelasnya.
Sementara itu, seorang mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Naila Syifa, mengungkapkan Roadshow yang diinisiasi KontraS telah mewadahi minatnya terhadap isu pelanggaran HAM. Menurutnya, acara ini membuka wawasan tentang ironinya peraturan yang tak mampu menghentikan pelanggaran.
“Saya ingin mendengar kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Aksi ini juga memberikan gambaran bahwa di balik adanya aturan perundang-undangan, nyatanya masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah,” jelas Naila dalam keterangan via WhatsApp, Kamis (21/11).
Meskipun tidak terlalu aktif dalam aksi penegakan HAM secara langsung, Naila menyayangkan kurangnya kesadaran publik dalam menyuarakan HAM. Ia juga menekankan bahwa kaum terpelajar harus berani melawan ketidakadilan.
“Sejauh ini, kurangnya kesadaran publik dalam menyuarakan HAM menjadi tantangan terbesar. Kita sebagai kaum terpelajar sudah seharusnya berani mengambil langkah untuk memerangi ketidakadilan itu,” ungkapnya.
Adapun Roadshow ini menghadirkan berbagai pertunjukan, seperti mimbar bebas, diskusi, nonton bareng (nobar), pembacaan puisi, pertunjukan musik, teatrikal, serta pameran visual. Virdinda menilai pendekatan ini lebih efektif dalam mengampanyekan isu HAM dan keadilan karena seni mampu menjangkau berbagai kalangan masyarakat.
“Menurutku, seni itu adalah metode atau alat perlawanan yang paling bisa banget masuk ke berbagai kalangan. Lewat seni, semua orang tuh bisa menerima itu, bahkan dengan seni orang tuh bisa langsung merefleksikan itu sendiri,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Virdinda berharap acara Roadshow ini dapat menggerakkan masyarakat akan pentingnya peran serta suara mereka dalam mendukung penegakan HAM dan keadilan.
“Ketika kita tidak menutup negara untuk menyelesaikan itu (pelanggaran), negara sebagai pelaku utama nih nggak akan belajar. Ketika negara nggak belajar dan sadar tentang dosa-dosanya yang ada di masa lalu, maka negara akan terus mengulang-ulang dan menormalisasi itu,” tandasnya.
Roadshow “Kita Ada dan Berlipat Ganda”, Ingatkan Penegakan HAM dan Keadilan dari Sosok Munir