Dilema Persaingan Kerja di Tengah Gelombang Bonus Demografi

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Puluhan ribu pencari kerja menghadiri gelaran Job Fair Bekasi 2025 yang diadakan oleh Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi di President University Convention Center, Cikarang, Selasa (27/5). Berdasarkan laporan panitia, jumlah pelamar kerja mencapai lebih dari 25.000 orang, sedangkan lowongan yang tersedia hanya 2.557 posisi dari 64 perusahaan peserta.

Salah satu peserta Job Fair Bekasi 2025, Yazid, mengaku harus bersaing dengan ribuan pelamar lain hanya untuk mendapatkan akses ke informasi lowongan. Fenomena yang sangat mengkhawatirkan ini mencerminkan situasi ketenagakerjaan Indonesia yang semakin sulit diakses oleh para pencari kerja. Sementara persaingan kian ketat, bahkan untuk posisi yang bersifat kontrak jangka pendek sekalipun.

“Fenomena ini menunjukkan betapa sempitnya peluang kerja sekarang. Ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai latar belakang bersaing demi pekerjaan yang layak, dan saya sendiri kesulitan mendapatkan akses informasi lowongan,” ujar Yazid saat diwawancarai via pesan WhatsApp, Jumat (6/6).

Menurut Yazid, tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan lapangan kerja yang sesuai dengan minat dan bakat. Ia menyebut bahwa tidak semua orang mampu bertahan dalam tekanan seleksi dan standar perusahaan yang semakin tinggi.

“Harus bersaing sama lulusan-lulusan hebat. Padahal saya punya pengalaman dan skill, tapi tetap saja susah. Harapan saya sih, pemerintah bisa bantu dengan menciptakan lebih banyak peluang kerja, terutama dari sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” tambahnya.

Pengamat Ekonomi, Mohammad Lutfi, menyebut bahwa ketimpangan struktural menjadi akar dari problem sulitnya mencari kerja. Menurutnya, jumlah angkatan kerja terus bertambah setiap tahun, namun tidak diimbangi oleh penambahan jumlah lapangan kerja secara signifikan.

“Angka jumlah pekerja besar, tapi lapangan kerjanya sedikit. Itu membuat persaingan semakin sulit. Apalagi sekarang banyak pekerjaan yang sudah digantikan oleh teknologi,” ujar Lutfi saat diwawancara di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta, Kamis (12/6).

Ia menambahkan bahwa salah satu persoalan utama adalah ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan industri. Banyak posisi mensyaratkan kualifikasi tertentu yang tidak dapat dipenuhi dari segi keterampilan maupun latar belakang pendidikan pencari kerja.

“Banyak yang akhirnya kerja di luar bidangnya, atau menganggur. Ini problem lama yang belum diselesaikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Lutfi mengingatkan bahwa Indonesia sedang menuju puncak bonus demografi pada 2030 sampai 2045. Namun, potensi tersebut dapat menjadi bencana jika tidak disiapkan dari sekarang.

“Kalau usia produktif naik, tetapi lapangan kerja nggak nambah, ya jadinya pengangguran massal. Itu bisa picu kemiskinan, kriminalitas, sampai beban negara,” jelasnya.

Menurut Lutfi, solusi yang perlu segera ditempuh antara lain meningkatkan sumber daya manusia dari segi keterampilan yang kurang, serta peningkatan investasi dalam pelatihan kerja, serta mendorong sektor informal dan UMKM agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *