Journoliberta.com – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-498, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta bersama Sanggar Oplet Robet menggelar Festival Teater Tradisional di Gedung Kesenian Jakarta pada 10-18 Juni 2025. Festival ini menampilkan 15 kelompok teater dari sanggar-sanggar Betawi yang mewakili lima wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu.
Teater Alamat dan Teater Sintesa menjadi dua kelompok teater yang tampil pada Minggu (15/6). Lakon Ruang Tunggu yang dibawakan Teater Sintesa menghadirkan satu adegan cerita Nyai Dasima dengan pendekatan yang lebih adil dan representatif terhadap setiap karakter yang sebelumnya ditulis oleh G. Francis dan S.M. Ardan.
Sementara itu, Teater Alamat membawakan lakon Tiankong Xinwen (Kabar dari Langit). Sutradara drama, Budi Yasin Misbach mengatakan, lakon tersebut mengangkat nilai cinta, kesetiaan, dan kebersamaan dalam keluarga. Ia menambahkan, drama ini berangkat dari pengalaman pribadinya dengan pesan utama nilai kesetiaan dan ikatan keluarga yang saling melindungi dalam kondisi apa pun.
“Tentang cinta yang dalam kondisi apa pun tetap setia. Juga tentang kekeluargaan, kebersamaan, dan saling menghormati. Itulah budaya kasih sayang,” ucapnya saat diwawancarai di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (15/6).
Menurut Budi, karya ini merupakan bentuk pengingat bahwa Jakarta tidak hanya memiliki satu etnis, melainkan lahir dari percampuran budaya, termasuk Betawi dan Tionghoa. Ia juga mengatakan, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menunjukkan budaya Tionghoa sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.
“Di Jakarta bukan hanya ada budaya Betawi, tapi ada Sunda, Makassar, Jawa. Dan ini bagian dari tugas saya untuk menunjukkan bahwa budaya Tionghoa juga bagian dari kebudayaan Indonesia,” ujarnya.
Tantangan terbesar dalam persiapan pertunjukan menurut Budi terletak pada proses latihan. Sementara itu, salah satu aktor utama, Desvita Fitriani, mengaku kesulitan terbesarnya adalah saat memerankan karakter Ci De (kakak paling besar) yang memiliki watak keras, berbanding terbalik dengan kepribadiannya.
“Aku sendiri enggak biasa ngomong ceplas-ceplos, jadi pas meranin Ci De di atas panggung, jadi tantangan banget,” ungkapanya saat diwawancarai di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (15/6).
Masih di tempat yang sama, salah satu penonton pertunjukan, Bian Irwansyah mengungkapkan kesannya setelah menonton pertunjukan. Ia mengatakan, cerita yang ditampilkan sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Jakarta yang penuh dengan orang-orang ambisius.
“Jakarta itu penuh orang ambisius. Tapi, pertunjukan ini ngingetin bahwa se-ambisius apa pun kita, takdir tetap yang menentukan,” ungkapnya.
