Filosofi Teras: Hidup dengan Emosi Negatif yang Terkendali

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

 JOURNOLIBERTA.COM – “Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.” – Epictectus (Enchiridion).

Filosofi teras adalah sebuah buku yang berisikan ajaran filsafat stoa. Karya dari Henry Manampiring ini membahas tentang filosofi hidup dan cara mengembangkan kebijaksanaan, kejujuran, keberanian, dan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari melalui filsafat Stoisisme/Stoa tetapi penulis memperkenalkan kepada pembaca dengan nama “Filosofi Teras”.


Stoisisme, sebagai sebuah aliran atau mazhab filsafat, dicetuskan Zeno dari Citium sekitar tahun 311 SM. Isinya tentang logika retorika, dialektika, fisika, dan yang paling populer adalah etika sikap hidup yang menekankan pada apatheia atau kepasrahan menerima keadaannya di dunia. Penulis buku Philosophy for beginners, Richard Osborne, mengasosiasikan Stoa dengan kesederhanaan. “Menjadi stoa berarti menghadapi nasib dengan berani dan mulia”.


Filsafat stoa yang terdapat pada buku Filosofi Teras ini diharapkan dapat membuat pembaca mampu hidup dengan tenteram dengan cara bebas dari emosi negatif, seperti sedih, marah, cemburu, curiga, baper dan lain-lain. Selain itu, tujuan filsafat stoa lainnya adalah agar para pembacanya bisa menjalani kehidupan untuk mengasah kebajikan. Ada empat kebajikan filsafat stoa yang utama, yaitu kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan menahan diri. Ajaran yang terdapat pada buku Filosofi Teras dapat diterapkan oleh siapa saja dan tidak bersifat memaksa.

Relevansi Filosofi Teras di Masa Kini

Meski dunia modern dianggap lebih damai dan berperadaban, tetapi sesungguhnya terjadi perang yang lebih sengit daripada perang dunia kedua. Di zaman yang semuanya serba dekat dan menyatu ini, orang bisa berdebat tentang semua hal sampai perang opini di media sosial. Di sana ada banyak hoaks, fake news, desepsi, bullying, yang ditingkahi jahatnya netizen, buzzer dan influencer.

Salah satu pelopor stoisisme klasik, Epictetus, mengembangkan teori up to me dan not up to me. Penyelesaian masalah dimulai dari penempatan sebuah persoalan di rak yang disediakan. Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan hal-hal yang tidak di bawah kendali kita. (hal 46)

Terkait semua hal dalam hidup, kita harus tahu pasti, apakah hal itu kategori tergantung kita atau tidak tergantung kita. Misalnya tentang pandangan orang lain pada kita. Hal itu jelas tidak berada di bawah kendali. Bila kita memikirkannya, sudah dapat dipastikan akan mengalami depresi. Demikian pula dengan reputasi dan kekayaan, sikap yang benar adalah nikmati pemberian itu dengan gembira.

Kelebihan Buku

Kelebihan buku filosofi teras yaitu ajaran filsafat, tetapi gaya bahasa filosofi teras yang digunakan oleh penulis terkesan santai dan tidak memberatkan pembaca karena disampaikan dengan cara yang mudah dipahami sehingga sangat cocok untuk anak muda yang saat ini diisukan memiliki mental yang lemah. Ilustrasi filosofi teras yang ditampilkan juga cukup menarik. Selain itu, isi buku filosofi teras ini juga didapatkan dari data survei, psikiatri, bahkan wawancara dengan praktisi media sosial. Buku ini berisikan hal-hal yang memang dialami oleh generasi milenial sekarang.

Kekurangan Buku

Kekurangan buku filosofi teras yaitu isi dan beberapa bahasan dari buku ini diulang-ulang sehingga bisa membuat pembaca menjadi bosan, dan terdapat beberapa tanda baca yang kurang tepat. Terlepas dari itu, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa yang ingin hidupnya lebih tenang, terutama para generasi milenial yang sering merasa cemas. Menerapkan ajaran filsafat stoa dalam keseharian kita diharapkan, dapat membuat hidup lebih tenang.

Penulis: Irvan Alvianto
Editor: Putri Nadhila

Pos terkait