Journoliberta.com – Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi di depan kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3). Aksi yang memiliki tagline ‘Indonesia Bukan Satpam Israel’ ini digelar setelah rencana Presiden Prabowo yang akan mengirim sekitar 8.000 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke wilayah konflik.
Perwakilan mahasiswa Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Universitas Lampung, Rahman menyebutkan tuntutan utama aksi ini adalah agar Indonesia keluar dari Board Of Peace (BOP) sesuai dengan janji Presiden Prabowo sebelumnya. Janji tersebut ditagih lantaran arah kebijakan BOP dianggap sudah tidak sesuai dengan kesepakatan awal untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menciptakan perdamaian.
“Dalam tuntutan ini, goals utama adalah Indonesia keluar dari BOP. Ini sesuai dengan janji Presiden Prabowo sendiri. Jika memang dalam perjalanannya BOP sudah tidak sesuai kesepakatan awal, maka Indonesia harus keluar. Kami menagih janji itu,” ujar Rahman saat diwawancarai di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3).
Di sisi lain, Rahman mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat keresahan kepada Presiden Prabowo untuk benar-benar menarik diri dari BOP. Lebih lanjut, Ia memastikan mahasiswa akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar jika aksi hari ini tidak didengar.
“Bahkan kami, Aliansi Berdaulat seluruh Indonesia, sudah mengirimkan surat keresahan kami ke Presiden Prabowo untuk benar-benar keluar dan clear dari BOP. Jika aksi kami pada hari ini tidak diindahkan, maka kami akan pastikan masyarakat Indonesia bersama mahasiswa akan turun lebih besar lagi,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu warga sipil, Anton, menyatakan dirinya keberatan jika TNI dilibatkan dalam penempatan di wilayah konflik karena situasinya tidak pasti dan berkepanjangan. Lebih lanjut, ia turut menyayangkan keputusan Presiden Prabowo untuk bergabung dalam BOP karena gerakan ini didominasi oleh pengaruh pihak tertentu.
“Yang jelas kita sebagai rakyat Indonesia keberatan kalau TNI dilibatkan menjadi bagian dari pemerintahan yang ditempatkan di sana. Memang bahasanya berdamai, tapi ini konflik yang berkepanjangan, kita nggak bakal tahu ke depannya gimana. Mereka sebenarnya nggak benci sama pemerintah (Indonesia) ini, tapi mereka menyayangkan kenapa kok ujuk-ujuknya ikut BOP itu, yang memang sudah seniornya Amerika dan Israel,” ujar Anton saat ditemui langsung di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3).

Lebih lanjut, Anton berharap agar Presiden Prabowo mendengar suara rakyat mengenai adanya bentuk kebohongan diplomasi yang dibangun oleh pihak asing. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa masyarakat yang melakukan aksi memiliki kecintaan terhadap pimpinan dan perdamaian.
“Yang jelas Pak Prabowo harus mendengar masukan-masukan rakyat. Mereka membaca ini sebagai bentuk kebohongan diplomasi yang dibangun Donald Trump yang selalu merusak karena Amerika selalu ingin merusak kondisi negara-negara seperti Irak dan Suriah. Dengarkan suara rakyat, mereka cinta kepada pimpinannya, mereka cinta kepada perdamaian,” tukas Anton.

Senada dengan Anton, Rahman berharap Presiden Prabowo agar mendengar suara-suara dari masyarakat. Ia sebagai masyarakat Indonesia sepakat Indonesia keluar dari BOP.
“Pesan saya khususnya kepada Presiden Prabowo, dia adalah pemimpin dari negara ini. Maka tolong implementasikan suara-suara dari masyarakat Indonesia. Kami masyarakat Indonesia secara penuh sepakat untuk Indonesia keluar dari Board of Peace,” pungkasnya.