Foto: Lebaran Tenabang 2026 dan Tradisi Seset Kambing yang Bertahan

Journoliberta.com – Perayaan Lebaran Tenabang yang digelar di sepanjang Jalan KH Wahid Hasyim, Kampung Bali, Tanah Abang, Minggu (19/4) menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pertunjukan seni Betawi, hingga tradisi palang pintu. Salah satu perlombaan yang turut digelar adalah lomba seset kambing yang menampilkan keterampilan tradisional dalam menguliti kambing.

Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Eric Phahlevi Zakaria Lumbun, mengatakan Lebaran Tenabang dapat terus berlanjut dan menjadi kegiatan rutin. Ia menilai acara ini dapat mendorong perputaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta mempererat interaksi sosial masyarakat.

“Tentunya memang di Tanah Abang ini perputaran UMKM sangat tinggi, sangat baik, ini malah kita semakin baik lagi. Di mana ini juga akan bermanfaat untuk silaturahmi warga, jadi tidak hanya UMKM meningkat, tapi silaturahmi warga, para sesepuh, para senior, para tokoh masyarakat Kecamatan Tanah Abang bisa berkumpul di sini,” ujar Eric saat doorstop di sepanjang Jalan KH Wahid Hasyim, Tanah Abang, Minggu (19/4).Menyoroti perlombaan seset kambing, Ketua Juri, Gen Paray, menjelaskan lomba tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah berkembang di kawasan Tanah Abang. Tradisi ini disebut telah ada selama ratusan tahun dan masih dipertahankan hingga kini.

“Lomba seset kambing ini kearifan lokal Kampung Tanah Abang sudah ada sejak tahun 1735 atau kurang lebih 300 tahun. Setiap tahunnya memang ada, tahun kemarin juga ada,” jelas Gen saat diwawancarai di Jalan KH Wahid Hasyim, Tanah Abang, Minggu (19/4).

Ia menambahkan, perlombaan diikuti oleh sepuluh peserta yang seluruhnya hadir pada hari pelaksanaan. Pemenang tercepat mencatat waktu 1 menit 12 detik, dengan penilaian berdasarkan kecepatan, kerapian, dan kebersihan dalam proses penyayatan kambing.

“Yang pertama kita nilai kecepatan, terus kerapihan, kulit tidak boleh bolong, daging tidak boleh ngikut ke kulit begitu. Terakhir baru kebersihan. Jadi cepat, bersih, rapi,” tambahnya.Gen juga memaparkan kambing yang digunakan dalam lomba berasal dari Himpunan Pedagang Kambing Tenabang (HPKT) dan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dalam momentum Iduladha. Ia menyebut keterampilan tersebut masih digunakan dalam praktik penyembelihan, namun jumlah orang yang menguasainya semakin berkurang.

“Kalau dia sudah selesai dan bisa motong kambing berarti dalam rangkaian Iduladha dia sudah lancar semua. Semakin tahun semakin minim yang bisa motong kambing di Tanah Abang, maka dari itu kita membina regenerasi, artinya biar generasi yang akan datang ada dan bisa melanjutkan, meneruskan kearifan lokal ini,” katanya.Di sisi lain, salah satu peserta lomba, Ilham, mengaku telah mempelajari teknik seset kambing sejak usia 16 tahun. Ia menyebut proses penyayatan membutuhkan ketelitian, terutama pada bagian tertentu yang lebih sulit.

“Pisaunya harus tajam, kalau bagian yang susah sebelah punggung kambing saja. Selesai mungkin sekitar empat menitan lah, paling lama ya. Kalau tadi pas lomba kan dikasih waktunya cuma lima menit,” ucap Ilham saat diwawancarai di sepanjang Jalan KH Wahid Hasyim, Tanah Abang, Minggu (19/4).Ia menyatakan mengikuti perlombaan tersebut untuk menambah pengalaman dalam keterampilan yang telah ia pelajari. Ilham mengungkapkan partisipasinya sebagai bagian dari proses belajar.

“Buat tambah pengalaman sih dalam menyeset itu yang baik bagaimana,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *