Journoliberta.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) menggelar peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dengan tema “Perempuan Bersatu: Melawan Penghancuran atas Tubuh” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu (8/3). Kegiatan ini dikemas dalam bentuk panggung ekspresi yang memadukan musik, diskusi, serta pembacaan pernyataan sikap.
Pihak Aliansi Perempuan Indonesia, Mutiara Ika Pratiwi, menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat sebagai respons atas situasi kekerasan terhadap perempuan yang masih sering dipandang sebelah mata. Ia menilai pemerintah belum serius menangani kasus kekerasan terhadap perempuan yang kerap diabaikan dan bahkan berujung pada pembunuhan.
“Kami melihat isu penghancuran atas tubuh perempuan ini sering dianggap remeh, bahkan oleh pemerintah sendiri. Pemerintah tidak cukup serius untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan yang sebagian bahkan berujung pada pembunuhan,” tutur Mutiara saat diwawancarai di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu (8/3).
Tidak hanya itu, Mutiara menilai arah kebijakan negara saat ini masih belum berpihak pada perempuan. Ia juga menyoroti kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang dinilai berdampak pada layanan bagi korban kekerasan terhadap perempuan.
“Negara harus mengakui terlebih dahulu kekerasan terhadap perempuan sebagai persoalan politik. Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan efisiensi anggaran yang berdampak pada layanan korban kekerasan,” lanjutnya.
Salah satu seniman panggung budaya dari Sudut Jentera, Alviani, mengatakan peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum refleksi atas situasi yang dihadapi perempuan saat ini. Menurutnya, perempuan masih menghadapi kerentanan serta ketimpangan yang terus berlangsung.
“Peringatan Hari Perempuan Internasional ini menjadi ruang reflektif bagi kita yang ada di dalamnya tentang bagaimana situasi yang dihadapi perempuan. Kerentanannya masih sangat besar, ketimpangannya juga masih terasa,” ujarnya saat diwawancarai di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu (8/3).

Lebih lanjut, Alviani menambahkan melalui penampilan musik, Sudut Jentera mengangkat pengalaman perempuan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Isu kekerasan dalam relasi menjadi salah satu tema yang diolah dalam karya mereka.
“Sudut Jentera menjadi wadah kami atas situasi yang dialami perempuan, termasuk dalam konteks politik dan hukum. Melalui panggung ini kami juga ingin menyuarakan persoalan tersebut agar publik lebih menyadari keberadaannya,” ucapnya.
Di sisi lain, salah satu pengunjung, Nazwa, menilai kekerasan seksual masih menjadi isu yang paling dekat dengan realitas perempuan saat ini, sebab masih terdapat bias yang membuat korban takut melapor. Lebih lanjut, Nazwa berharap pemerintah lebih serius mendorong pencegahan kekerasan melalui pendidikan sejak dini.
“Kasus kekerasan seksual masih sering terjadi dan korban takut melapor karena berbagai bias. Saya berharap pemerintah lebih fokus pada pendidikan sejak dini agar anak tidak tumbuh menjadi pelaku kekerasan,” ujarnya.
