Foto: UIN Jakarta Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri Lewat TPSTM KALIFA

Journoliberta.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki fasilitas pengolahan sampah mandiri bernama Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Mandiri (TPSTM) Kelola Alam dan Lingkungan Berfaedah (KALIFA). Fasilitas ini digunakan untuk memilah serta mengolah sampah dari aktivitas kampus menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan kembali.

Kepala Pusat Pengembangan Green Campus, Hendrawati, mengatakan TPSTM KALIFA menjadi salah satu langkah kampus dalam mengelola sampah secara mandiri. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut juga menjadi indikator upaya kampus dalam mengurangi beban sampah terhadap lingkungan.

“Indikator utamanya adalah berkurangnya sampah dan kemampuan kampus untuk mengelolanya secara mandiri. Selain itu, keberhasilan pengelolaan sampah juga dapat dilihat dari tidak adanya penumpukan sampah serta adanya hasil pengolahan yang bisa dimanfaatkan,” ujar Hendrawati saat diwawancarai di Kantor Pusat Green Campus UIN Jakarta, Jumat (5/3).

Lebih lanjut, Hendrawati menjelaskan bahwa UIN Jakarta menghasilkan sampah sekitar dua hingga tiga ton setiap hari yang berasal dari tiga kampus. Ia menjelaskan bahwa untuk mengelola jumlah tersebut, TPSTM KALIFA memiliki kapasitas pengolahan sekitar satu hingga tiga ton sampah per hari.

“TPSTM KALIFA memiliki kapasitas pengolahan sekitar satu hingga tiga ton sampah per hari. Saat ini fasilitas tersebut masih dalam tahap uji coba untuk memastikan seluruh sampah dari tiga kampus dapat ditangani,” jelasnya.

Tak hanya itu, Hendrawati juga menjelaskan bahwa dalam operasionalnya, sampah yang masuk ke TPSTM KALIFA langsung dipilah pada hari yang sama untuk menghindari penumpukan. Ia mengatakan sistem tersebut diterapkan agar sampah tidak menimbulkan bau dan proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif.

“Setiap hari metode yang digunakan adalah one day one service. Artinya, sampah yang masuk harus langsung diolah dan diolah pada hari yang sama sehingga tidak ada tumpukan sampah yang bercampur,” lanjut Hendrawati.

Lebih jauh, Hendrawati menjelaskan, sampah yang telah dipilah kemudian diolah sesuai jenisnya menjadi berbagai produk pengolahan, mulai dari kompos dan pembuatan briket. Ia juga menyebut sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan pakan maggot, sedangkan sebagian sampah nonorganik diolah menjadi briket.

“Sampah organik sebagian besar diolah menjadi kompos dan juga dimanfaatkan sebagai pakan maggot untuk media tanam di area kebun. Selain itu, beberapa bahan nonorganik juga diolah menjadi briket dan rencananya dimanfaatkan oleh industri seperti pabrik semen,” pungkasnya.

Di samping itu, Koordinator TPSTM KALIFA, Hery Sutanto mengatakan volume sampah yang masuk saat ini belum mencapai kapasitas maksimal karena aktivitas perkuliahan mahasiswa belum sepenuhnya berjalan. Ia menyebut saat ini sampah yang masuk diperkirakan satu hingga satu setengah ton per hari.

“Karena kampusnya cukup rimbun dan banyak pepohonan, sampah kebanyakan berasal dari daun dan ranting. Lalu perkiraan sampah yang masuk itu sekitar satu sampai satu setengah ton per hari, tapi jumlahnya belum terlalu banyak karena mahasiswa masih libur,” ujar Hery saat diwawancarai di TPSTM Kalifa, Senin (9/3).

Hery juga menambahkan sampah yang berasal dari kampus seperti kantin dan asrama terkadang lebih sulit untuk diolah. Menurutnya, jenis sampah tertentu seperti kemasan berbahan styrofoam menjadi salah satu yang sulit untuk diproses.

“Namun, ada juga sampah dari kantin atau asrama yang terkadang lebih sulit diolah. Biasanya jenis sampah seperti kemasan styrofoam sulit diproses” jelasnya.

Sementara itu, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Najma Mutalali menilai kondisi kebersihan kampus mulai menunjukkan perubahan, meskipun belum merata di seluruh area. Ia mengatakan sistem pemilahan sampah mulai terlihat di beberapa titik kampus.

“Aku lihat ada beberapa perubahan, terutama dengan adanya tempat sampah yang mulai dibedakan berdasarkan jenisnya. Namun, menurutku fasilitas tersebut belum merata di semua area kampus,” ungkap Najma saat diwawancarai di Gedung FDIKOM, UIN Jakarta, Selasa (10/3).

Di sisi lain, Hendrawati berharap keberadaan TPSTM Kalifa ke depan tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah kampus, tetapi juga sarana edukasi bagi mahasiswa. Ia juga menargetkan UIN Jakarta mampu mengelola sampahnya secara mandiri dan berkelanjutan.

“Target jangka panjangnya adalah menjadikan UIN Jakarta sebagai kampus yang mampu mengelola sampahnya secara mandiri dan berkelanjutan. Selain itu, TPSTM Kalifa menjadi sarana edukasi dan penelitian bagi mahasiswa,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *