Foto: Tradisi Nyekar Picu Lonjakan Aktivitas Ekonomi Lokal

Journoliberta.com – Menjelang Ramadan, nyekar atau ziarah kubur kembali ramai dilakukan warga. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi, tetapi juga mendorong kenaikan omzet pedagang di sekitar makam.

Menurut Dosen Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wati Nilamsari, menyampaikan masyarakat telah menjalankan tradisi nyekar sejak sebelum Islam masuk ke Nusantara. Ia menjelaskan, secara antropologis praktik ini menunjukkan sinkretisme, yakni perpaduan unsur animisme, Hindu-Buddha, dan Islam.

“Pada masa Islam Jawa, pendekatan kultural memungkinkan tradisi lokal tetap bertahan melalui reinterpretasi. Ziarah yang sebelumnya membawa sesajen, kini dialihkan kepada pembacaan doa dan tahlil sebagaimana yang diajarkan agama,” ujar Wati saat diwawancarai melalui pesan suara WhatsApp, Minggu (15/2).

Lebih lanjut, Wati menambahkan bahwa ziarah kini semakin fleksibel karena tidak harus dilakukan pada momen tertentu. Sebagian orang bahkan memilih mengirimkan doa melalui media sosial atau grup WhatsApp keluarga.

“Waktunya kini lebih fleksibel, tidak harus menjelang Ramadan atau setelah hari raya, karena banyak orang merantau dan tidak selalu bisa hadir di pemakaman. Meski begitu, hal ini tidak mengurangi makna. Sebagian orang bahkan mengirim doa secara digital melalui media sosial atau grup WhatsApp keluarga,” jelasnya.

Di sisi lain, peningkatan jumlah peziarah turut berdampak pada layanan pemakaman. Petugas Administrasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Agus, mengatakan pihak TPU menyiapkan fasilitas tambahan dan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Dinas Sosial (Dinsos) untuk menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas.

“Pada Senin (9/2/2026) jumlah peziarah sekitar 400 orang, sedangkan pada Jumat (13/2/2026) hingga pukul 15.00 WIB sudah mencapai sekitar 1.200 orang. Kami juga menyediakan golf cart bagi peziarah atau lansia yang makamnya jauh dari area parkir,” ungkap Agus saat diwawancarai di kantor TPU, Jumat (13/2).

Pedagang bunga, Sri Mulyati, menjelaskan omzetnya naik secara signifikan menjelang Ramadan dibandingkan hari biasa. Ramainya pengunjung turut mendorong pendapatan pedagang di sekitar makam, dan banyak pedagang musiman turut berjualan.

“Penghasilan sehari-hari paling Rp300.000 sampai 400.000. Namun menjelang Ramadan bisa mencapai Rp2 sampai 3 juta. Harga melati yang biasanya Rp35.000 sampai 45.000 kini mencapai Rp150.000. Kenaikannya lumayan tinggi,” ucap Sri Mulyati saat diwawancarai di parkiran makam, Jumat (13/2).

Salah satu peziarah seperti Nurlela mengatakan bahwa mereka rutin menjalankan tradisi nyekar setiap tahun. Ia menekankan ziarah menjadi momen penting untuk mengenang orang tua dan mempererat hubungan keluarga.

“Ini juga mengingatkan kita, karena suatu saat kita juga akan tiada, dan penggantinya adalah anak-anak kita. Makanya, kita mengajarkan mereka untuk berziarah ke makam orang tuanya,” pungkas Nurlela saat diwawancarai di makam, Jumat (13/2).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *