Kalacitra UIN Jakarta Suguhkan Kepolosan Anak Lewat Pameran Foto

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) Kalacitra UIN Jakarta menggelar pameran foto dengan tema “Menangkap Esensi Kepolosan Anak-Anak dalam Berbagai Aspek Kehidupan” di Aula Student Center pada 14–18 April 2025. Ketua pelaksana, Kevin mengungkapkan, tema ini merepresentasikan kisah anak-anak dari berbagai latar belakang dengan bentuk kepolosan yang unik.

Lebih lanjut, Kevin menjelaskan, karya-karya yang dipamerkan berangkat dari tema besar innocence, yang berarti kepolosan dan kemurnian. Ia juga menyebut banyak pembelajaran yang didapatkan selama proses tersebut, mulai dari pendekatan dengan subjek hingga pencarian momen yang tepat.

“Anak-anak dengan latar belakang berbeda punya cerita masing-masing, dan mereka akan menjadi bibit unggul di masa depan dengan kemampuannya sendiri. Selama proses foto ini, banyak sekali yang saya pelajari. Mulai dari bagaimana saya melakukan pendekatan dengan subjek hingga proses mencari sekaligus mendapatkan foto yang akhirnya dipilih untuk dipamerkan,” tambahnya.

Di samping itu, Kevin berharap fotografi tetap relevan meskipun zaman terus berkembang dan dominasi video semakin kuat. Ia ingin membuktikan bahwa fotografi masih hidup dan mampu menyampaikan pesan yang kuat.

“Kami ingin pengunjung melihat anak-anak dengan segala keterbatasannya, namun tetap memiliki potensi luar biasa. Harapan kami, foto ini bisa memberi perspektif baru. Dan semoga fotografi tetap hidup, karena meskipun video semakin mendominasi, foto masih penting dan bermakna,” tutur Kevin.

Di sisi lain, Kurator pameran, Didik Setiawan mengungkapkan, bahwa pendekatan visual yang digunakan dalam pameran ini menitikberatkan pada photo story, dengan fokus utama pada potret anak sebagai subjek. Ia menilai pendekatan melalui visual ini lebih efektif dalam membuka objektivitas publik terhadap fakta.

“Pendekatan Pameran Susur Foto dengan tema Innocence menggunakan pendekatan photo story yang menitikberatkan pada potret anak sebagai foto utama, dengan didukung foto-foto lainnya sehingga cerita menjadi utuh dan bermakna,” jelas Didik melalui pesan WhatsApp, Kamis (17/4).

Tak hanya itu, Didik juga menyebutkan, bahwa pameran ini menampilkan 15 tema cerita anak dengan latar belakang beragam, seperti dalang cilik, Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA), barista Down syndrome, santri tunanetra, hingga penari Reog Ponorogo. Ia menjelaskan cerita-cerita tersebut membawa nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, inspirasi, dan kepedulian.

“Cerita dan visual yang disajikan akan berdampak panjang, karena dapat melekat di ingatan pengunjung dan menjadi referensi visual yang kuat serta karya jurnalistik yang informatif dan inspiratif,” ujar Didik.

Lebih jauh, Didik juga mengungkapkan bahwa keberhasilan sebuah photo story tidak hanya terletak pada kekuatan visual, tetapi juga pada kejelasan pesan yang disampaikan. Ia menambahkan, meskipun tema seperti anak ADHA tergolong sensitif, para fotografer tetap mampu menyampaikan cerita dengan kuat tanpa mengabaikan etika.

“Keberhasilan sebuah photo story dilihat dari visual yang mudah dimengerti dan pesan yang bisa dipahami. Semua tema berhasil menyampaikan nilai innocence, bahkan tema sensitif pun bisa disampaikan dengan bijak,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *