Lipstick Effect dan Tren Konsumerisme di Tengah Kelesuan Ekonomi

Journoliberta.com –  Tren mengoleksi blind box atau kotak misteri berisi barang koleksi acak belakangan tengah marak di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Bukan sekadar hobi, tren ini menjadi cerminan cara masyarakat kelas menengah menemukan hiburan dan kepuasan di tengah tekanan ekonomi, sekaligus menjadi tanda kondisi ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Dosen Psikologi Konsumen Universitas Brawijaya, Ika Widyarini menjelaskan, blind box merupakan bentuk kemewahan kecil yang masih terjangkau oleh kelas menengah. Tren ini memiliki kesamaan dengan lipstick effect, di mana masyarakat, khususnya kelas menengah cenderung membeli barang-barang kecil yang terkesan mewah ketika mereka tidak mampu membeli barang mahal di tengah ekonomi sulit. 

“Ini hampir kayak lipstick effect. Barang-barang seperti lipstick dan skincare menjadi barang luxury yang affordable untuk kelas menengah. Jadi barang-barang itu sebenarnya gak terlalu penting, tapi gak jadi masalah juga kalau kita punya, asalkan senang,” ucap Dosen Psikologi Konsumen Universitas Brawijaya, Ika Widyarini, Selasa (4/11).

Lebih lanjut, Ika mengatakan, fenomena seperti blind box dan lipstick effect menjadi penanda kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya baik. Menurutnya, ketika masyarakat hanya mampu membeli barang-barang murah untuk menyenangkan diri, hal itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat menurun. Namun, Ika juga mengatakan, dari konsumsi barang-barang kecil itulah roda ekonomi tetap berputar. 

“Itu cara orang untuk tetap berjalan ekonominya. Meskipun mungkin untungnya gak besar, tapi aktivitas jual-beli masih ada. Itu yang membuat toko dan pelaku usaha kecil tetap bertahan. Lipstick effect dan tren blind box juga menandakan kalau perekonomian tidak sepenuhnya buruk selama masyarakat masih mampu membeli kesenangan kecil yang memberi rasa bahagia,” jelasnya.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (IBI KKG), Raina Aurelia mengaku, blind box bukan sekadar tren, melainkan bentuk hiburan dan penghargaan diri. Ia sering membeli blind box sebagai bentuk self-reward setelah menyelesaikan kegiatan yang menantang kemampuan dirinya.

“Biasanya sih aku tuh beli kalau lagi mood-nya dan kalau lagi ada uang. Tapi kadang aku juga dijadiin self-reward sih, kayak kalau udah bisa nyelesain sebuah kegiatan yang menantang,” ungkap Raina saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (3/11).

Raina mengatakan, media sosial berpengaruh besar terhadap keinginannya membeli blind box. Ia sering melihat berbagai ulasan dari influencer yang menampilkan figur-figur dengan bentuk lucu, sehingga membuatnya tergoda untuk ikut membeli. Selain itu, ketika melihat orang lain beruntung mendapatkan figur langka, hal tersebut semakin menambah rasa penasarannya.

“Pengaruh media sosial tuh besar banget, ya. Banyak banget review dari influencer atau vlogger gitu, mereka unboxing blind box yang lucu-lucu, jadi kayak kepancing buat beli. Dan juga aku sering banget ngeliat video orang yang dapat secret, jadi nambah rasa penasaran aku,” ujar Raina.

Meski memberi rasa senang, Ika mengingatkan agar tren blind box tidak berubah menjadi perilaku konsumtif. Ia mengatakan, penting untuk bisa mengendalikan diri dan sadar akan kemampuan finansial, terutama bagi Gen Z agar tidak terbiasa dengan kepuasan instan. Menurutnya, kebiasaan menunda keinginan yang dilatih sejak kecil dapat membantu seseorang lebih bijak dalam mengatur prioritas.

“Harus ada rasa bersalah saat mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu. Kalau sampai rela tidak makan demi beli blind box, itu tanda kalau kontrol dirinya lemah. Jika dibiasakan sejak dini, orang akan belajar kalau kepuasan tidak harus instan. Ini yang sering hilang di generasi muda sekarang,” lanjutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *