Mahasiswa Kritik Kenyamanan Asrama UIN Jakarta

Journoliberta.com – Sejumlah mahasiswa yang tinggal di asrama menyampaikan kritik terhadap kenyamanan dan pengelolaan Asrama UIN Jakarta. Keluhan tersebut mencakup layanan dasar, respons perbaikan, hingga kondisi bangunan yang dinilai perlu perhatian lebih lanjut.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Syahidah Aulia Maharani, yang merupakan penghuni Asrama Mabna Syarifah Fatimah (MSF), menilai kondisi asrama saat ini lebih baik dibanding sebelumnya karena sejumlah perbaikan telah dilakukan. Namun, ia menyebut gangguan masih terjadi secara berkala dan berdampak langsung pada aktivitas penghuni.

“Kalau air mati, kegiatan kami terganggu, apalagi saat pagi hari ketika dipakai bersamaan,” ujar Maharani saat diwawancarai di Asrama MSF, Kamis (19/2).

Ia juga menjelaskan bahwa di salah satu kamar sempat terjadi plafon roboh, dan perawatan berkala diperlukan agar kerusakan tidak terulang. Selain itu, ia menambahkan bahwa atap musala bocor saat hujan hingga air menggenang dan harus dibersihkan sebelum digunakan.

“Plafon sempat roboh di lantai empat saat penghuni berbaring, tapi segera diperbaiki. Musala sebenarnya cukup baik, tapi kalau hujan atapnya bocor sampai airnya menggenang seperti banjir kecil,” jelasnya.

Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Muhammad Najwan Cahyadi, yang tinggal di asrama Mabna Syekh Nawawi (MSN) menyoroti lamanya proses perbaikan jaringan nirkabel dan kamera pengawas karena laporan dari enam asrama harus direkap terlebih dahulu. Menurutnya, kondisi tersebut membuat waktu tunggu penanganan dinilai cukup lama sehingga menghambat proses belajarnya.

“Masa tunggunya lumayan lama karena semua laporan harus dikumpulkan dulu. Padahal internet sangat penting untuk kuliah dan tugas,” ungkap Najwan saat diwawancarai melalui Google Meet, Kamis (19/2).

Sementara itu, pengasuh MSF, Syifani Wirlanisa, mengatakan laporan yang paling sering diterima adalah persoalan air, disusul keluhan terkait jaringan nirkabel yang tidak stabil. Dimana gangguan air umumnya terjadi pada mesin otomatis, sementara kendala sinyal dinilai menghambat perkuliahan dan penyelesaian tugas.

“Keluhan yang paling sering kami terima itu soal air. Air di asrama sering mati karena vendor tidak bekerja dengan baik, padahal itu kebutuhan paling mendasar bagi mahasiswa,” ujar Syifani saat diwawancarai di Asrama MSF, Kamis (19/2).

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam pengelolaannya, pihak asrama tidak memegang langsung dana pembayaran mahasiswa. Dana tersebut terlebih dahulu masuk ke rekening UIN Jakarta sebelum dialokasikan kembali dalam bentuk anggaran operasional, sehingga setiap perbaikan harus melalui prosedur administratif.

“Masuknya ke rekening UIN dulu, dikelola oleh UIN. Nanti baru dialokasikan ke Ma’had dalam bentuk anggaran,” jelasnya.

Di sisi lain, Najwan berharap agar respons terhadap keluhan dapat dilakukan lebih cepat. Ia juga menginginkan evaluasi rutin dilakukan sehingga fasilitas asrama semakin nyaman bagi mahasiswa.

“Harapan saya, semoga kedepannya asrama atau Ma’had Al-Jami’ah UIN Jakarta bisa lebih cepat merespons keluhan dan melakukan evaluasi rutin agar fasilitasnya semakin nyaman bagi mahasiswa,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *