Journoliberta.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 25 Juli hingga 25 Agustus di Kota Tangerang Selatan. Program ini bertujuan agar mahasiswa dapat berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat urban. Namun, beberapa mahasiswa mengungkapkan hal ini kurang relevan karena pengabdian di daerah pedesaan akan lebih optimal dalam mencapai tujuan KKN.
Ketua Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UIN Jakarta, Ade Rina Farida menyampaikan alasan utama memilih wilayah perkotaan seperti Ciputat dan Tangerang Selatan agar mahasiswa membantu langsung masalah perkotaan yang terabaikan.
“Ini merupakan instruksi dari Kementerian Agama bahwa kampus harus melaksanakan KKN lingkar kampus. Sehingga kebermanfaatan mahasiswa UIN dan esensi pemberdayaan pengabdian masyarakat bisa dirasakan wilayah di mana UIN itu berada,” ujar Rina saat diwawancarai di ruang PPM, Senin (29/7).
Mahasiswa yang terlibat dalam KKN di Tangerang Selatan diberi kesempatan menjalankan program-program terkait masalah utama setempat, salah satunya survei kemiskinan yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Hal tersebut menjadi dasar perencanaan program KKN yang lebih efektif.
“Walaupun berada di wilayah perkotaan, masalah sosial, seperti kemiskinan masih menjadi perhatian serius. Selain itu, masalah lingkungan, khususnya pengelolaan sampah juga menjadi tantangan utama yang perlu diatasi,” jelas Rina.
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam yang melaksanakan KKN di Ciputat, Ammar Luthfi Ramadhan, mengungkapkan tantangan terkait program KKN ini. Meskipun akses lokasi KKN lebih mudah dijangkau, Ia menyayangkan potensi program KKN tidak termanfaatkan maksimal di wilayah yang sudah maju.
“Sangat disayangkan kenapa lumayan banyak yang ditempatkan di Tangerang Selatan dan kadang bingung targetnya ke mana (karena) warga sudah maju. Bahkan strata ekonominya mayoritas dari menengah ke atas. Selain itu, biaya hidup di sini juga mahal,” ungkap Ammar saat diwawancarai melalui WhatsApp, Selasa (06/8).
Senada dengan Ammar, Mahasiswa program studi Jurnalistik, Desvita Aulia mengungkapkan pandangannya tentang relevansi KKN di Tangerang Selatan yang tidak relevan karena wilayah masih mudah dijangkau pemerintah.
“Tidak relevan karena wilayah masih dijangkau oleh pemerintah. Permasalahan yang ada juga tidak begitu kompleks karena fasilitas dan pembenahan-pembenahan cukup memadai,” paparnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Rabu (14/08).
Menurut Ammar dan Desvita, seharusnya program KKN lebih diprioritaskan untuk daerah perkampungan atau pedesaan yang memang lebih membutuhkan bimbingan dan pemberdayaan. Dengan keterbatasannya, wilayah pedesaan akan lebih terbantu dengan program ini dibanding perkotaan.
Berbeda dengan Ammar dan Desvita, Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Naba Khilma, menyatakan bahwa program kerja kelompoknya berhasil mencapai tujuan pengabdian masyarakat dan relevan untuk dilaksanakan di wilayah tempat ia KKN, Jurang Mangu Timur, Tangerang Selatan.
“Kelompok kami mengadakan seminar-seminar seperti seminar anti-bullying dan workshop pembuatan Curriculum Vitae (CV), dituju untuk beberapa target yang sesuai dengan permasalahan di perkotaan,” ungkap Naba Khilma saat diwawancarai melalui WhatsApp, Selasa (20/08).
Naba pun menuturkan respon masyarakat sangat baik dan mau bekerja sama. Saat merancang program kerja, kelompok Naba sering berkoordinasi dengan masyarakat sekitar untuk memastikan program tersebut dapat membantu masyarakat.
Sementara itu, Ammar berharap KKN di perkotaan tidak terpaku pada Ciputat saja agar pengabdian bisa lebih berdampak.
“Mungkin kedepannya bisa ditetapin aja wilayahnya, tapi kita yang nyari kabupatennya. Jadi kita gak harus tok di Ciputat,” tutup Ammar.
