Clash of Champions: Ajang Prestasi atau Cerminan Kesenjangan Pendidikan di Indonesia?

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Game Show Clash of Champions (COC) yang diadakan Ruangguru telah menjadi sorotan publik dengan menampilkan pelajar dari berbagai universitas ternama, baik dalam maupun luar negeri. Namun, acara ini sempat memicu perdebatan mengenai ketimpangan ekonomi dan akses terhadap pendidikan tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Kesejahteraan Sosial, Nadya Kharima mengungkapkan acara ini bisa dijadikan ajang positif yang memotivasi untuk melahirkan generasi lebih baik. Tetapi menurut Nadya acara ini mungkin saja bisa mencerminkan realita ketimpangan akses pendidikan tinggi, namun diperlukan data lebih mendalam.

Selain itu, menurut dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini ada hal selain faktor ekonomi yang kerap menjadi penyebab ketimpangan akses pendidikan. Faktor sosial budaya juga berperan besar dalam menentukan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi.

“Semakin tingginya harga pendidikan perguruan tinggi menyebabkan semakin sulitnya masyarakat kita untuk meneruskan pendidikan. Namun, sebenarnya yang penting adalah kemauan dan edukasi dari para orangtua,” ungkapnya saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Rabu (14/08).

Dalam dunia yang semakin kompetitif, seorang barista bernama Ahmad Hafiz memiliki pandangan berbeda terhadap pendidikan tinggi. Menurutnya, meskipun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas, pengalaman dan keterampilan di lapangan kerja lebih relevan daripada teori yang diajarkan di bangku kuliah.

“Keterampilan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi lebih dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Saya juga melihat banyak teman dan anggota keluarga yang kuliah, tapi setelah lulus kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang mereka,” jelas Hafiz saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Jumat (09/8).

Biaya kuliah yang tinggi menjadi tantangan utama Hafiz mengakses pendidikan tinggi. Menurutnya, investasi uang dan waktu untuk kuliah sering kali tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, sehingga ia lebih memilih mengikuti kursus barista dan berencana membuka bisnis.

“Biaya kuliah yang tinggi menjadi salah satu alasan utama saya. Selain itu, sistem pendidikan di Indonesia saat ini tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan pasar kerja membuat saya semakin ragu lanjut ke perguruan tinggi,” tambah Hafiz.

Menanggapi yang diungkapkan oleh Hafiz, menurut Nadya hal terpenting adalah edukasi dari berbagai pihak. Sementara mengenai masalah ketimpangan ekonomi bisa diimbangi dengan beasiswa.

“Masyarakat beranggapan pendidikan cukup di tingkat menengah atas karena dengan tingkatan tersebut sudah mampu bekerja masih sering terjadi. Nah, ini yang kita harus bantu dengan edukasi,” tuturnya.

Disisi lain, Nadia menyayangkan jika saat ini masih ada anggapan bahwa perempuan yang mengurus rumah tangga tidak terlalu butuh pendidikan tinggi. Pasalnya, game show tersebut dihadiri oleh 50 orang peserta dengan 38% orang perempuan ikut berkompetisi. Nadya menyoroti, hal ini menjadi bukti jika perempuan juga bisa berkompetisi di dunia pendidikan.

“Saya cukup bangga dengan adanya banyak perempuan yang ikut dalam acara kompetisi tersebut karena memperlihatkan perempuan juga bisa maju,” ujar Nadya.

Selain edukasi, untuk mengatasi kesalahan persepsi masyarakat, Nadya berharap kebijakan berbentuk aplikasi pemberian beasiswa semakin beragam. Terutama di wilayah yang masih menganggap pendidikan tinggi tidak penting.

“Kebijakan memiliki andil besar di berbagai sektor, terutama pendidikan. Mungkin kebijakannya itu lebih kepada bagaimana menyalurkan beasiswa, khususnya di wilayah terpencil. Jadi tidak hanya berharap pada pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah,” tutup Nadya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *