Journoliberta.com – Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Maret 2026. Hal ini dipicu oleh tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri serta tekanan global seperti perbedaan suku bunga dan kondisi geopolitik.
Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah UIN Jakarta, Mohammad Lutfi menegaskan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Ia menjelaskan, faktor internal meliputi kondisi ekonomi dan politik dalam negeri, sedangkan faktor eksternal mencakup kebijakan suku bunga The Federal Reserve System (The Fed), serta dinamika geopolitik yang mendorong meningkatnya kebutuhan dolar dalam transaksi internasional.
“Dalam praktiknya, naik turunnya mata uang dipengaruhi banyak faktor. Ada faktor internal seperti kondisi ekonomi dan politik dalam negeri, dan faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan kondisi geopolitik yang mengganggu pasokan minyak dunia,” ujar Lutfi saat ditemui di ruang Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah, Ciputat, Kamis (2/4).
Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan defisit neraca pembayaran akibat impor yang lebih besar dari ekspor, serta kebijakan fiskal seperti subsidi energi dan pembiayaan utang. Ia juga mengatakan, kondisi ini berdampak pada sejumlah sektor, terutama yang bergantung pada dolar.
“Faktor dari sisi domestik juga ada, banyak sektor terdampak. Sektor impor jelas terdampak karena pembayaran menggunakan dolar. Industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, sektor pariwisata, serta sektor keuangan yang memiliki kewajiban luar negeri juga pasti terdampak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lutfi menyampaikan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat melakukan intervensi pasar melalui cadangan devisa. Ia juga menambahkan, langkah lain mencakup pengendalian defisit anggaran, penyesuaian suku bunga, peningkatan ekspor serta pengurangan ketergantungan impor.
“Pemerintah dan BI bisa melakukan intervensi pasar, misalnya dengan menjual cadangan dolar untuk menstabilkan rupiah, meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan impor juga menjadi strategi penting,” ucapnya.
Di sisi lain, Dosen Perbankan Syariah, Riris Aishah Prasetyowati, menyatakan pelemahan rupiah perlu dilihat dari transmisi kebijakan moneter dan fiskal ke perekonomian, serta aktivitas yang membuat permintaan dolar meningkat. Ia menyebut, kondisi tersebut berkaitan dengan penyesuaian kebijakan oleh BI untuk menjaga stabilitas.
“Kebutuhan dolar yang besar untuk impor, industri, dan kewajiban luar negeri membuat permintaan dolar meningkat sehingga rupiah tertekan. Arus modal keluar sangat berpengaruh. Dalam kondisi seperti ini, BI harus bekerja lebih keras, biasanya lewat kebijakan suku bunga, agar modal asing tidak terus keluar dan rupiah bisa tetap stabil” ujar Riris saat diwawancarai via Google Meet, Rabu (18/3).
Lebih lanjut, Riris menilai kondisi saat ini belum bisa dikategorikan sebagai krisis, namun tetap perlu diwaspadai. Ia menyoroti pentingnya cadangan devisa sebagai alat untuk menjaga stabilitas rupiah, terutama jika permintaan dolar tetap tinggi.
“Kondisi ini belum bisa disebut krisis, tetapi tetap harus diwaspadai. Kalau kebutuhan dolar terus besar sementara cadangan devisa terbatas, kemampuan negara untuk menjaga stabilitas rupiah menjadi lebih lemah,” tutupnya.