Ilustrasi pemangkasan anggaran Perpusnas RI. Journo Liberta/Dinda Khairina Aulia.
Journoliberta.com – Anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 2026 sebesart Rp377,7 miliar, turun dari Rp725 miliar dibandingkan dengan 2025. Perbaikan iPusnas selesai 13 Maret 2026, melampaui target awal 8 Januari 2026.
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menyebut penurunan anggaran bukan hal baru. Pada 2025, anggaran sempat diblokir sebelum kembali dibuka. Ia menambahkan 82% anggaran tersebut tetap dapat dimanfaatkan melalui relaksasi.
“Anggaran 2026 sebesar Rp377,7 miliar, turun dari Rp725 miliar pada 2025. Sebelumnya, anggaran sempat terkena penghematan 51 persen dan kembali dibuka melalui relaksasi,” ujar Joko Santoso saat diwawancarai di Gedung Sekretariat Utama Perpustakaan Nasional, Senin (30/3).
Ia menjelaskan anggaran difokuskan pada program inti yang berdampak langsung bagi masyarakat. Program perluasan jangkauan ditunda sebagai bagian dari penyesuaian alokasi anggaran.
“Untuk layanan bersifat perluasan jangkauan, yang bisa menjangkau ke seluruh wilayah tanah air terpaksa kita tunda atau reschedule. Program prioritas, misalnya seperti Sekolah Rakyat yang merupakan program prioritas nasional masih kita prioritaskan,” jelas Joko Santoso.
Pustakawan Ahli Madya, Rifa Fadilah, menjelaskan proses perbaikan iPusnas mencakup penguatan sistem, keamanan, serta penyesuaian teknis untuk stabilitas layanan. Perbaikan tersebut berlangsung 4 Januari hingga 13 Maret 2026 dan melampaui jadwal awal.
“Proses perbaikan mencangkup penguatan keamanan, sistem digital, keanggotaan, dan koordinasi secara teknis. Ke depan, iPusnas kita pastikan berjalan secara baik tanpa perbaikan seperti ini lagi,” ujar Rifa Fadilah saat diwawancarai di Gedung Sekretariat Utama Perpustakaan Nasional, Senin (30/3).
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas, Edi Wiyono, menyebut keterbatasan anggaran memengaruhi pemutakhiran koleksi dan pelestarian naskah. Ia juga menjelaskan pengembangan koleksi lebih diarahkan pada penambahan buku dalam format digital.
“Pemutakhiran koleksi ini yang terpengaruh juga, artinya kita tidak punya anggaran, hanya menambah buku-buku secara digitalnya,” jelas Edi Wiyono saat diwawancarai di Gedung Sekretariat Utama Perpustakaan Nasional, Senin (30/3).
Mahasiswa Sastra Indonesia, Afifah Hanani, menyebut gangguan layanan iPusnas memengaruhi akses bacaan untuk kebutuhan studi. Ia menyebut kondisi tersebut menyulitkan pengguna mencari alternatif sumber bacaan.
“Perbaikan iPusnas belum menunjukan perubahan signifikan. Layanan masih sering mengalami gangguan sehingga menyulitkan akses bacaan,” pungkas Afifah Hanani saat diwawancarai via WhatsApp, Minggu (29/3).