Seminar Literasi Media IMIKI

IMG 20170616 WA00032B252812529



Pengurus
Perguruan Tinggi Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (PPT IMIKI) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
menggelar seminar Literasi Media bertajuk Konvergensi Media di Era Digital,
Kamis (15/06/2017) di gedung Fakultas
Ilmu Dakwah
dan Ilmu
Komunkasi UIN Syarif hidayatullah Jakarta. Seminar ini dihadiri oleh Pemimpin
Redaksi Jawa Pos TV  Iwan Setyawan dan
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Ahmad Zamzami sebagai
pemateri.

Iwan
mengatakan awal konvergensi media terjadi pada 2008 di Amerika Serikat saat
krisis ekonomi menyebabkan media cetak mulai megalami masalah dan kemunduran.
Kemudian muncul media online yang membuat media cetak benar-benar jatuh.

“Pada saat 2008 itu yang
disalahkan adalah media online, media cetak menyalahkan ini gara-gara media
online, sehingga radio, tv, dan terutama koran terganggu. Ada beberapa koran
yang terkena dampak paling besar sampai tutup,” ujarnya.

Menurut Iwan cara media online
menaikan rating atau viewer ialah dengan
membuat judul berita yang bombastis, unik, dan heboh. Secara kualitas, lanjut
Iwan,  judul tersebut bukanlah tulisan yang
hebat, tetapi karena sesuai dengan apa yang dicari masyarakat maka tulisan
tersebut akan memiliki banyak pembaca. “Hal pertama di media online itu bukan
persoalan beritanya baik atau tidak, tetapi disesuaikan dengan kata pencarian google,
itu yang agak kurang baik untuk kita sebagai jurnalis,” tuturnya.

Menurut Iwan, dengan banyaknya
media online saat ini bukanlah suatu kekhawatiran, tetapi jurnalismenya itu
sendiri yang harus dikhawatirkan. “Media daring muncul dengan fenomena hoaxnya yang membuat masyarakat
berlebihan dalam informasi, setiap pagi masyarakat diberikan informasi yang
tidak semuanya benar, sementara jurnalis dituntut untuk berlomba lebih cepat
dalam menyajikan informasi,” jelas Iwan.

Sementara itu Ahmad Zamzami
memaparkan secara garis besar fungsi media ada empat yaitu informasi, edukasi,
hiburan dan kontrol. Fungsi informasi akan didapatkan tergantung dengan
bagaimana kita mencerna. “Seperti apa fungsi informasi ini tergantung dari kita
sendiri, bagaimana informasi itu kita telan secara mentah atau kita filter,”
katanya.

Ia juga menegaskan beberapa
tugas KPI adalah menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan
benar sesuai dengan hak asasi manusia dan ikut membantu pengaturan
infrastruktur penyiaran. “Ikut membantu, ikut membangun. Secara tidak langsung
KPI hanya sebagai sarana saja dan tidak mempunyai kekuatan secara penuh dalam
mengatur infrastruktur penyiaran.” pungkasnya.



(Cici)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *