Sering Nonton Video Pendek, Generasi Muda Susah Fokus?

Journoliberta.com – Konten video berdurasi pendek menjadi salah satu tren yang digemari generasi muda saat ini. Berbagai media sosial telah dipenuhi oleh video-video singkat seperti TikTok, Reels Instagram, YouTube Shorts dan lain sebagainya.

Namun, perkembangan konten pendek ini juga memiliki dampak negatif bagi para penggunanya, yaitu lonjakan dopamin akibat kepuasan instan yang dapat berpengaruh pada penurunan konsentrasi anak muda.

Dosen Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Desi Yustari Muchtar, menyoroti daya tarik video pendek menjadi tren konsumsi konten yang tengah berkembang di kalangan anak muda saat ini. Namun, menurutnya, penggunaan secara berlebihan membawa dampak negatif pada penurunan konsentrasi.

“Paparan terus-menerus pada potongan-potongan informasi cepat dari video pendek dapat memperpendek rentang perhatian dan mengurangi kemampuan untuk mempertahankan fokus dalam jangka panjang,” tuturnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Rabu (24/4).

Di balik kemudahannya, Desi Yustari Muchtar menjelaskan bahwa anak muda lebih rentan terganggu fokusnya oleh video pendek karena sifatnya yang cepat berganti dan penuh stimulasi. Sehingga, sulit untuk dapat memproses informasi yang kompleks.

“Video pendek sering menawarkan rangsangan visual dan audio yang intens dalam waktu singkat. Otak anak muda rentan terhadap lonjakan dopamin yang disebabkan oleh stimulus tersebut, sehingga dapat menyebabkan ketergantungan dan kesulitan untuk tetap fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan perhatian yang lebih panjang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurutnya, adiksi pada video pendek dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, emosional, dan kehidupan sosial, termasuk stres, kecemasan, depresi, isolasi sosial, dan gangguan tidur.

“Ketergantungan pada konten singkat dan sering kali tidak bermakna juga dapat mengganggu kemampuan mereka dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat dan mempengaruhi kepuasan hidup mereka secara keseluruhan,” tambahnya.

Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam semester 4, Sahla Nurafifa Dewi mengaku telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video pendek. Menurutnya, penyajian konten pendek memiliki format yang singkat, mudah dicerna, tidak membosankan, dan membuatnya terhibur.

Namun, Sahla juga mengalami dampak negatif dari kebiasaannya menonton video berdurasi pendek yaitu sering menunda dan kurang fokus dalam mengerjakan tugas.

“Kalau ngerjain tugas pasti gak jauh dari hp, entah ngeliat soal atau cari referensi, kadang iseng main buka sosmed dan scroll video. Niatnya sebentar, tapi karena ketagihan jadi fokus belajarnya kurang terkendali dan malah pengen buru-buru lihat video pendek lagi,” ungkapnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Minggu (21/4).

Sahla turut menambahkan bahwa ia perlu menyelesaikan tanggung jawabnya terlebih dahulu sebelum bersantai dengan menonton video pendek sebagai hiburan. Menurutnya, ini menjadi bagian penting untuk bertanggung jawab membatasi diri.

“Jadi, saran saja kalau lagi melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan perhatian mendalam jauhi tangan dari hp atau batasi diri buat ga buka sosmed dulu, biar fokus dan gak malas,” ujar Sahla.

Sementara, Desi Yustari Muchtar berharap anak muda dapat menggunakan video pendek di media sosial sebagai sumber informasi dan hiburan yang bermanfaat. Selain itu, pentingnya edukasi dalam menggunakan media sosial, promosi konten yang mendidik, dan peran orang tua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *