Journoliberta.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (11/4). Acara ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, termasuk dua talkshow yang mengangkat peran perempuan dalam kegiatan jurnalistik dan pusat pemberitaan di media.
Melalui talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim & Kelompok Rentan” serta “Suara Perempuan Adat, Masa Depan Hutan Papua Dari Cerita ke Kemungkinan: Meliputi Papua Secara Konstruktif,” AJI menegaskan pentingnya menempatkan perempuan sebagai subjek dalam pemberitaan. Bukan hanya merepresentasikan perempuan sebagai objek terdampak saja.
Bias Gender di Dunia Jurnalistik
Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, menilai akses liputan bagi jurnalis perempuan masih menjadi persoalan, terutama dalam isu politik, lingkungan, dan investigasi. Ia menyebut, keterbatasan ruang aman turut membatasi ruang gerak jurnalis perempuan dalam menghadirkan perspektif pemberitaan yang utuh dan berimbang.
“Kepercayaan jadi salah satu tantangan tersendiri bagi jurnalis perempuan. Banyak narasumber yang kurang percaya jika perempuan yang bertanya. Mereka berpikir jurnalis adalah ruang yang maskulin, sehingga perempuan dianggap kurang mampu untuk melakukannya,” ujar Nany Afrida saat diwawancarai di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (11/4).
Sementara itu, jurnalis investigasi, Margareth S. Aritonang mengatakan, kelompok perempuan, masyarakat adat, dan kelompok marginal sering kali tidak nyaman untuk membuka pengalaman mereka kepada jurnalis laki-laki. Nany mengungkapkan, mereka bahkan mendapat tekanan secara internal dari kelompok sendiri.
“Terkadang suara mereka dianggap tidak penting, dan banyak juga jurnalis yang tidak ingin mencari tahu lebih dalam tentang permasalahan isu yang sedang mereka hadapi. Tidak jarang jurnalis laki-laki selalu memilih narasumber dari gender mereka sendiri juga,” ucap Margareth S. Aritonang saat diwawancarai di Selasar Promenade, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (11/4).
Lebih lanjut, Ia menekankan pentingnya riset mendalam sebelum turun ke lapangan agar liputan tidak hanya bergantung pada narasi pemerintah atau tokoh laki-laki. Margareth juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan, baik dari dalam ruang redaksi maupun di lapangan.
“Tekanan sering terjadi dari kelompok masyarakat. Kita rentan mengalami pelecehan verbal, seksual, dan fisik, apalagi kalau melakukan investigasi kejahatan lingkungan. Tantangan lain adalah dari ruang redaksi, ketika pengambilan keputusan banyak dari laki-laki,” ungkap Margareth.
Suara Perempuan Adat: Hutan sebagai “Mama” Kehidupan
Di sisi lain, perwakilan perempuan adat subsuku Nakna di Distrik Konda, Marice Sianggo, menegaskan bahwa hutan adat menjadi sumber utama kehidupan masyarakat yang harus dijaga secara turun-temurun. Ia menyebut hutan sebagai “Mama” yang tidak boleh dirusak atau dieksploitasi, kerusakan hutan akan berdampak langsung pada keberlangsungan hidup masyarakat adat.
“Saya mewakili suku Nakna, Afsya dan Yaben untuk menjaga hutan kami. Jika hutan rusak maka kami “manusia” juga rusak,” ucap Marice Sianggo dalam talkshow di Selasar Promenade, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (11/4).
Lebih lanjut, Ia menegaskan akan menjaga wilayah hutan adat dan tempat sejarah yang ada di sana. Marice juga mengatakan, baik pihak pemerintah maupun perusahaan swasta tidak boleh untuk merusak tanah dan menebang pohon.
“Perusahaan masuk ke Papua, hampir baku bunuh, kami Distrik Konda pertahankan wilayah hutan adat, (jika) hutan ini rusak kami bagaimana?,” ungkap Marice.