Foto: Aksi #IndonesiaSadar, Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran

Pengunjuk rasa menaiki Patung Tugu Tani saat mengikuti aksi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Tugu Tani, Jakarta, Selasa (20/10). Journo Liberta/Muhammad Alfano Hizbullah.

Journoliberta.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi demonstrasi #IndonesiaSadar di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10). Aksi tersebut menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai belum terselesaikan.

Perwakilan BEM UI, Hafidz Hernanda, menilai pemerintah belum menunjukkan keberpihakan yang memadai terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk kerusakan lingkungan. Ia menyampaikan kritik terhadap kondisi hutan, kekerasan terhadap aktivis dan anak-anak, serta persoalan lain yang menurutnya belum tertangani.

Bacaan Lainnya

“Dua tahun rezim ini berdiri, mereka menghancurkan hutan, membunuh aktivis, membunuh anak kecil, dan membunuh binatang. Pada dua tahun ini kita berkumpul, pada dua tahun ini kita marah, sedih kepada Presiden Prabowo,” ujar Hafidz dalam orasinya di depan kawasan Tugu Tani, Selasa (20/10).

Ia mengatakan program pemerintah yang dinilai belum menjawab persoalan masyarakat, termasuk keracunan yang disebutnya melibatkan puluhan ribu anak. Hafidz meminta pemerintah segera membenahi kebijakan dan pelaksanaan program yang dilaksanakan.

“Jika pemerintah berada di depan kita, saya akan memintanya untuk segera membenahi dirinya sendiri. Berperilaku sibuk mencari kapital, sibuk kepada program yang kemudian hanya dijanjikan secara praktis,” tegasnya.

Sementara itu, mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Swadharma, Ridwan, mengatakan keikutsertaannya dalam aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan dengan kondisi Indonesia selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia menilai, berbagai persoalan mulai dari korupsi, hingga ketidakstabilan ekonomi masih menjadi masalah yang perlu diselesaikan pemerintah.

“Saya mengikuti aksi ini karena keresahan saya setelah dua tahun tepatnya Presiden Prabowo dan wakilnya Gibran menjabat tidak ada perkembangan di negeri ini. Banyak terjadi kerusakan, korupsi, dan ekonomi yang kurang stabil,” ujar Ridwan saat diwawancarai melalui WhatsApp, Rabu (21/10).

Ridwan juga menyoroti kerusakan lingkungan, khususnya pembakaran hutan yang sedang terjadi saat ini. Ia menilai perhatian pemerintah terhadap kondisi hutan setelah terjadinya pembakaran masih kurang.

“Kita tahu bahwa hutan di Indonesia memiliki keragaman hayati dan hewani yang begitu kaya. Namun, setelah terjadinya pembakaran, terlihat pemerintah kurang dalam upaya memperhatikan apa yang terjadi di sana,” ujarnya.

Selain persoalan lingkungan, ia mengatakan mahalnya biaya hidup dan pendidikan dinilai memberatkan masyarakat, termasuk mahasiswa yang kesulitan melanjutkan perkuliahan. Ia berharap pemerintah menurunkan biaya pendidikan agar lebih terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Saya berharap pemerintah menurunkan biaya pendidikan agar teman-teman di luar sana bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan terjangkau. Dengan begitu, generasi muda yang akan meneruskan bangsa ini tidak merasa terbebani saat menempuh pendidikan dan tidak terlalu membebani orang tua,” pungkasnya.

 

Penulis: Ratna Dewi Lubis

Editor: Alfiyyah Saaddi

Pos terkait