Cat Calling, Musuh Bersama Kaum Perempuan

cat2Bcalling

Saat ini banyak perempuan di Indonesia tidak sadar saat
dirinya sedang menjadi korban kekerasan. Kekerasan tersebut berbentuk verbal. Bentuknya
panggilan-panggilan orang yang tidak dikenal di jalan. Panggilan itu terkadang
tidak enak didengar telinga, tidak sedikit dengan nada yang menggoda.

Panggilan-panggilan tersebut lebih dikenal sebagai cat
calling.

Dalam pengertian Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan) ada 15 bentuk kekerasan seksual terhadap
perempuan. Salah satunya ialah pelecehan seksual.

Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik
dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan
siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi
dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat
yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung,
merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah
kesehatan dan keselamatan. – Komnas Perempuan.


Menurut data Catatan Akhir Tahun (Catahu) 2017 Komnas
Perempuan, kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus 22 persen -dari
total 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani
selama tahun 2016- di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama
sebanyak 2.290 kasus 74 persen.

Ranah komunitas jika pelaku dan korban tidak memiliki
hubungan kekerabatan, darah ataupun perkawinan. Bisa jadi pelakunya adalah
majikan, tetangga, guru, teman sekerja, tokoh masyarakat, ataupun orang yang
tidak dikenal. – Komnas Perempuan.




testi




Kami tim redaksi mencoba menanyakan beberapa mahasiswi
UIN Syarif Hidayatullah terkait cat calling. Hasilnya beberapa dari
mereka belum mengetahui kalau dirinya sedang menjadi korban kekerasan seksual.
Yang sudah mengetahui berharap pelaku cat calling lebih menghargai
perempuan di manapun berada.

Sering seperti itu (cat calling). Sedih dan tidak
suka sih disiulin gitu. Seperti ada yang salah dapat perlakuan cat
calling.
Terkadang walaupun pakai kerudung masih ada saja yang siulan.
Sebaiknya pelaku cat calling belajar untuk lebih menghargai perempuan. Melihat
perempuan sebagai makhluk yang patut dilindungi, bukan karena dia lemah tapi
karena dia berharga. – Ana Zharina, Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan
Hukum.


Pernah mengalami (cat calling). Rasanya risih. Jadi
takut kalau mau jalan di kerumunan laki-laki. Menurut saya itu terjadi kalau
laki-laki itu tertarik pada kecantikan perempuan. Memakai jilbab merupakan
salah satu defense-nya. Saya berharap pelakunya belajar tata krama dan
sopan santun ke perempuan. – Maulida Hanifa, Fakultas Psikologi.


Pernah mengalami (cat calling), sebel sih awalnya.
Padahal saya sudah memakai baju yang sopan dan berkerudung. Tapi kalau saya
lama-lama lebih gak peduli saja. Tidak dibawa serius dan mungkin mereka (pelaku
cat calling) sedang bercanda. Lebih ke arah yang penting mereka tidak
menyentuh, lebih baik pergi saja dari situ kayak gitu. – Amira Hanifah,
Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.


Beberapa kali pernah mengalami (cat calling), risih
rasanya dan biasanya saya diamkan orang seperti itu. Saya berharap pelaku cat
calling
tidak mengulangi perbuatannya lagi. Walaupun ada yang bersikap
tidak peduli tapi pasti ada rasa risih dan takut kalau menjadi korban cat
calling. –
Diah Ayu Nurchasanah.


Tadi beberapa pendapat tentang cat calling dari
mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga laki-laki di manapun berada
khususnya di lingkungan kampus tidak lagi melakukan cat calling karena
tindakan tersebut merupakan kekerasan terhadap perempuan. Selamat Hari
Perempuan Internasional.



Baca Juga : Duta UIN sebagai Bentuk Pengabdian
Baca Juga : Jalan Panjang Sang Pencari Keadilan
Baca Juga : Kartini Rembang Terus Melawan
Baca Juga : Wajah Perempuan dari Masa ke Masa
Baca Juga : Hari Perempuan Internasional (Foto)

(Boj/Cem/Rhe)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *